<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Hauzah Maya &#124; Islam segalanya!</title>
	<atom:link href="http://hauzahmaya.ir/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://hauzahmaya.ir</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Thu, 17 May 2012 13:57:58 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.2</generator>
	<div id='fb-root'></div>
					<script type='text/javascript'>
						window.fbAsyncInit = function()
						{
							FB.init({appId: null, status: true, cookie: true, xfbml: true});
						};
						(function()
						{
							var e = document.createElement('script'); e.async = true;
							e.src = document.location.protocol + '//connect.facebook.net/en_US/all.js';
							document.getElementById('fb-root').appendChild(e);
						}());
					</script>	
						<item>
		<title>Sifat Jamal dan Jalal Ilahi</title>
		<link>http://hauzahmaya.ir/2012/05/17/sifat-jamal-dan-jalal-ilahi/</link>
		<comments>http://hauzahmaya.ir/2012/05/17/sifat-jamal-dan-jalal-ilahi/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 17 May 2012 13:57:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hauzah Maya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akidah]]></category>
		<category><![CDATA[sifat jalal]]></category>
		<category><![CDATA[sifat jamal]]></category>
		<category><![CDATA[sifat Tuhan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hauzahmaya.ir/?p=2374</guid>
		<description><![CDATA[Galibnya, sifat-sifat Allah Swt. diklasifikasikan menjadi dua: sifat Dzatiyah (sifat yang berhubungan dengan Dzat-Nya) dan sifat Fi&#8217;iliyah (sifat yang berhubungan dengan tindakan-Nya). Sifat Dzatiyah terbagi lagi menjadi dua: sifat Jamal dan sifat Jalal. Maksud dari sifat Jamal adalah sifat yang tetap bagi Allah swt seperti ilmu kuasa kekal dan abadi. Oleh karena itu, sifat ini [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://hauzahmaya.ir/wp-content/uploads/2012/05/Sifat-Jamal-dan-Jalal-Ilahi.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-2375" title="Sifat Jamal dan Jalal Ilahi" src="http://hauzahmaya.ir/wp-content/uploads/2012/05/Sifat-Jamal-dan-Jalal-Ilahi.jpg" alt="Sifat Jamal dan Jalal Ilahi" width="573" height="400" /></a></p>
<p>Galibnya, sifat-sifat Allah Swt. diklasifikasikan menjadi dua: sifat <em>Dzatiyah</em> (sifat yang berhubungan dengan Dzat-Nya) dan sifat <em>Fi&#8217;iliyah</em> (sifat yang berhubungan dengan tindakan-Nya). Sifat <em>Dzatiyah</em> terbagi lagi menjadi dua: sifat <em>Jamal</em> dan sifat <em>Jalal</em>.</p>
<p>Maksud dari sifat <em>Jamal</em> adalah sifat yang tetap bagi Allah swt seperti ilmu kuasa kekal dan abadi. Oleh karena itu, sifat ini juga disebu denngan <em>sifat tsubutiyah</em>. Sementara, sifat Jalal bermakna segala sifat yang ternafikan dari Allah swt (tidak ada pada wujud-Nya), seperti kebodohan, kelemahan, keberagaan dan lain sebagainya. Oleh karena itu, sifat ini juga disebut dengan <em>sifat salbiah</em>. Kedua sifat ini merupakan sifat yang berhubungan dengan Dzat Ilahi, dan tidak diperoleh akal dari perbuatan-perbuatan-Nya.</p>
<p>Sedangkan maksud dari sifat <em>fi&#8217;liyah</em> adalah sifat yang bergantung kepada perbuatan-perbuatan Allah Swt. Maksudnya, sebelum Dia melakukan perbuatan, sifat itu tidak tersandang oleh diri-Nya. Dan setelah Dia melakukannya, sifat ini diatributkan kepada Allah Swt, seperti Mahapencipta (<em>Khaliq</em>), Maha Pemberi rezeki (<em>Razzaq</em>), Maha Menghidupkan (<em>Muhyi</em>), dan Maha Mematikan (<em>Mumit</em>).</p>
<p>Dan sekali lagi kami tekankan bahwa sifat <em>Dzatiyah</em> dan sifat <em>Fi&#8217;iliyah</em> Allah swt ini adalah berkarakter Nir-batas, sebab kesempurnaan yang dimiliki-Nya tak terhingga, juga demikian perbuatan-Nya. Akan tetapi,dalam pengertian ini, sebagian sifat-sifat utama sudah termasuk di dalamnya, dan sifat-sifat tersebut merupakan cabang dari sifat-sifat (sebagaimana di bawah) ini.</p>
<p>Dengan memperhatikan poin ini, dapat disimpulkan bahwa lima sifat Ilahi merupakan sifat asli yang membentuk nama-nama dan sifat-sifat kudus Ilahi, yaitu; <em>wahdaniyah</em> (kemahaesaan), <em>alim</em> (mahamengetahui), <em>qudrah</em> (kemahakuasaan), <em>azaliyah</em> (kemahakekalan) dan <em>abadiyah</em> (kemahaabadian). Sedangkan sifat-sifat yang lain merupakan cabang dari sifat-sifat ini.<a title="" href="#_ftn1">[1]</a></p>
<div><br clear="all" /></p>
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref1">[1]</a> T afsir <em>Payam e Qur&#8217;an</em>, 59/4.</p>
</div>
</div>
<div class='wpfblike' style='height: 40px;'><fb:like href='http://hauzahmaya.ir/2012/05/17/sifat-jamal-dan-jalal-ilahi/' layout='default' show_faces='true' width='400' action='like' colorscheme='light' send='true' /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hauzahmaya.ir/2012/05/17/sifat-jamal-dan-jalal-ilahi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Berjumpa dengan Allah, mungkinkah?</title>
		<link>http://hauzahmaya.ir/2012/05/17/berjumpa-dengan-allah-mungkinkah/</link>
		<comments>http://hauzahmaya.ir/2012/05/17/berjumpa-dengan-allah-mungkinkah/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 17 May 2012 13:44:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hauzah Maya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akidah]]></category>
		<category><![CDATA[akidah]]></category>
		<category><![CDATA[berjumpa dengan tuhan]]></category>
		<category><![CDATA[melihat Allah]]></category>
		<category><![CDATA[melihat tuhan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hauzahmaya.ir/?p=2369</guid>
		<description><![CDATA[Dalam beberapa ayat-ayat Al-Qur&#8217;an yang membahas Hari Kebangkitan dan Hari Kiamat, terdapat redaksi liqa&#8217; Allah (perjumpaan dengan Tuhan) atau liqa&#8217; ar-Rabb (perjumpaan dengan Rabb). Redaksi ayat ini sarat makna dan memiliki kedalaman arti, betapa pun sebagian mufassir telah menafsirkan ayat-ayat ini secara sambil lalu. Sebagian dari mereka berpendapat bahwa maksud dari liqa&#8217; Allah adalah pertemuan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://hauzahmaya.ir/wp-content/uploads/2012/05/Berjumpa-dengan-Allah-mungkinkah.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-2370" title="Berjumpa dengan Allah, mungkinkah" src="http://hauzahmaya.ir/wp-content/uploads/2012/05/Berjumpa-dengan-Allah-mungkinkah.jpg" alt="Berjumpa dengan Allah, mungkinkah" width="573" height="400" /></a></p>
<p>Dalam beberapa ayat-ayat Al-Qur&#8217;an yang membahas Hari Kebangkitan dan Hari Kiamat, terdapat redaksi <em>liqa&#8217;</em> Allah (perjumpaan dengan Tuhan) atau <em>liqa&#8217; ar-Rabb</em> (perjumpaan dengan Rabb). Redaksi ayat ini sarat makna dan memiliki kedalaman arti, betapa pun sebagian mufassir telah menafsirkan ayat-ayat ini secara sambil lalu.</p>
<p>Sebagian dari mereka berpendapat bahwa maksud dari <em>liqa&#8217;</em> Allah adalah pertemuan para malaikat Allah swt pada Hari Kiamat. Sebagian yang lain berkeyakinan bahwa maksudnya adalah perjumpaan setiap makhluk dengan perhitungan (<em>hisab</em>), ganjaran (<em>jaza</em>), dan pahala (<em>tsawab</em>). Dan kelompok ketiga berpendapat bahwa maknanya adalah perjumpaan hukum dan perintah-Nya.</p>
<p>Semua pendapat tersebut mengambil arti redaksi AI-Qur&#8217;an tersebut secara implisit. Sementara kita mengetahui bahwa apabila penafsiran implisit bertentangan dengan <em>dzahir</em> sebuah ungkapan (eksplisit), sepanjang tidak ada dalil atasnya, harus kita tinggalkan.</p>
<p>Tak syak lagi bahwa maksud dari redaksi perjumpaan (<em>liqa</em>) bukanlah melihat Tuhan. Lantaran perjumpaan indrawi hanya berlaku pada benda-benda material yang terbatas di dalam ruang dan waktu, berwarna, dan kualitas-kualitas lain sehingga ia mampu untuk dilihat dengan mata kepala.</p>
<p>Dengan demikian, maksud dari perjumpaan di sini adalah <em>syuhud batini</em>, perjumpaan dan pertemuan maknawi dan ruhani dengan Allah swt. Karena pada Hari Kiamat, seluruh hijab akan tersingkap dan tanda-tanda kekuasaan-Nya sedemikian nampak pada hari Mahsyar dan seluruh tempat persinggahan Kiamat, bahkan orang-orang kafir akan berjumpa dengan Allah Swt melalui mata batin mereka (meskipun perjumpaan ini pasti berbeda).</p>
<p>Allamah Thabathabai dalam <em>Tafsir AI-Mizan</em> berkata:</p>
<p>&#8220;Hamba-hamba Allah swt berada dalam keadaan tanpa hijab antara mereka dengan-Nya. Lantaran ciri khas Hari Kiamat adalah penampakan seluruh hakikat. Demikian pada surat An-Nur (24), ayat 25, Allah Swt berfirman, <em>&#8220;Pada hari itu mereka mengetahui bahwa sesungguhnya Allah-lah Hak Yang Nyata.&#8221;</em></p>
<p>Menariknya, dalam hadis sahih disebutkan bahwa seorang datang kepada Amirul Mukminin Ali as dan berkata: &#8220;Aku terjatuh dalam kesangsian terhadap Al-Qur&#8217;an.&#8221;</p>
<p>Beliau kembali bertanya: &#8220;Mengapa?&#8221;</p>
<p>Orang itu berkata: &#8220;Kita melihat banyak ayat Al-Qur&#8217;an yang menegaskan perjumpaan dengan Allah Swt pada Hari Kiamat, dan di sisi lain Dia berfirman, <em>&#8220;Mata-mata tidak mampu menjangkau-Nya, dan Ia menjangkau seluruh mata.&#8221;</em> Bagaimana ayat ini bisa dipertemukan dengan yang lainnya?&#8221;</p>
<p>Beliau menjawab: &#8220;Perjumpaan di sini bukan penyaksian dengan mata, akan tetapi perjumpaan pada Hari Kiamat dan bangkitnya orang-orang dari kuburan. Oleh karena itu, pahamilah bahwa seluruh <em>liqa&#8217;</em> (perjumpaan) yang disebutkan dalam AI-Qur&#8217;an berarti kebangkitan.&#8221;<a title="" href="#_ftn1">[1]</a></p>
<p>Sebenarnya, Imam Ali as, memberikan tafsir ihwal perjumpaan dengan Allah swt bahwa penyaksian (<em>Syuhud</em> Allah swt merupakan inherensi-inherensi dari <em>syuhud</em> tersebut. Benar bahwa Hari Kiamat merupakan hari tersingkapnya pelbagai hijab dan tirai, tampaknya tanda-tanda Yang Maha Hak, dan <em>tajalli</em> Allah kepada seluruh hati. Dan setiap orang -sesuai dengan tingkat pikirnya- dapat memahami ucapan beliau ini. Dan seperti yang telah kita katakan, bahwa syuhud batini para kekasih Allah Swt pada Hari Kiamat berbeda dengan perjumpaan orang-orang biasa.<a title="" href="#_ftn2">[2]</a></p>
<p>Dalam masalah ini, Fakhrurrazi dalam <em>At-Tafsir AI-Kabir</em>-nya memberikan penjelasan yang menarik. Ia menulis, &#8220;Manusia di dunia ini, lantaran hanyut dalam urusan-urusan duniawi dan berupaya untuk mengejar kehidupan dunia, kerap melalaikan Allah. Akan tetapi pada Hari Kiamat, seluruh perhatian duniawi ini akan hilang. Manusia dengan seluruh wujudnya akan tercurah kepada Tuhan semesta alam. Dan inilah arti dari perjumpaan dengan Allah swt&#8221;<a title="" href="#_ftn3">[3]</a></p>
<p>Hal ini boleh jadi berdasarkan pengaruh takwa, ibadah, dan penyucian jiwa (<em>tazkiyatun nafs</em>) dalam kehidupan dunia ini yang dapat dijumpai pada sekelompok umat manusia. Sebagaimana dalam Nahjul Balaghah ditegaskan, bahwa salah seorang sahabat alim Imam Ali as, Dza&#8217;lab al-Yamani, bertanya kepada beliau, &#8220;Apakah Anda melihat Tuhan Anda?&#8221;</p>
<p>Imam as, menjawab, &#8220;Apakah mungkin aku menyembah Tuhan yang tidak kulihat?&#8221;</p>
<p>Dan ketika ingin memberikan penjelasan lebih lanjut, beliau menambahkan, &#8220;Seluruh mata kepala sekali-kali tidak akan pernah menyaksikan-Nya, namun mata hatilah -dengan cahaya iman- dapat menyaksikan-Nya.&#8221;<a title="" href="#_ftn4">[4]</a></p>
<p>Namun, <em>syuhud batini</em> ini pada Hari Kiamat berlaku untuk semua orang. Karena, tanda keagungan dan kekuasaan Allah swt pada hari itu sedemikian jelasnya sehingga setiap hati yang buta juga akan beriman penuh.<a title="" href="#_ftn5">[5]</a></p>
<div><br clear="all" /></p>
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref1">[1]</a> Ringkasan <em>Tauhid Shaduq</em>, hal 267</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref2">[2]</a> Tafsir <em>Payam-e Qur&#8217;an</em>, jilid 5, hal. 44.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref3">[3]</a> <em>At-Tafsir al-Kabir</em>, Fakhrurrazi, ayat yang bersangkutan; <em>Tafsir Nemuneh</em>, jilid 17, hal. 359.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref4">[4]</a> <em>Nahjul Balaghah</em>, ceramah ke-179.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref5">[5]</a> <em>Tafsir Nemuneh</em>, jilid 1, hal. 217</p>
</div>
</div>
<div class='wpfblike' style='height: 40px;'><fb:like href='http://hauzahmaya.ir/2012/05/17/berjumpa-dengan-allah-mungkinkah/' layout='default' show_faces='true' width='400' action='like' colorscheme='light' send='true' /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hauzahmaya.ir/2012/05/17/berjumpa-dengan-allah-mungkinkah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Akan terjadi kerusakan jika ada lebih dari satu Tuhan</title>
		<link>http://hauzahmaya.ir/2012/05/17/akan-terjadi-kerusakan-jika-ada-lebih-dari-satu-tuhan/</link>
		<comments>http://hauzahmaya.ir/2012/05/17/akan-terjadi-kerusakan-jika-ada-lebih-dari-satu-tuhan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 17 May 2012 13:41:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hauzah Maya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akidah]]></category>
		<category><![CDATA[akidah]]></category>
		<category><![CDATA[Allah]]></category>
		<category><![CDATA[keesaan Tuhan]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>
		<category><![CDATA[Tuhan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hauzahmaya.ir/?p=2365</guid>
		<description><![CDATA[Pada ayat 22, surat Al-Anbiya [21], kita membaca: &#8220;Sekiranya ada Tuhan selain Allah, maka akan terjadi kerusakan dan sistem-semesta akan saling bertabrakan.&#8221; Soal yang mengedepan di sini adalah banyaknya Tuhan akan menjadi sumber kerusakan di alam semesta, lantaran tiap-tiap mereka akan bangkit untuk memerangi satu sama lainnya. Akan tetapi, jika kita menerima mereka sebagai orang-orang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://hauzahmaya.ir/wp-content/uploads/2012/05/Akan-terjadi-kerusakan-jika-ada-lebih-dari-satu-Tuhan.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-2366" title="Akan terjadi kerusakan jika ada lebih dari satu Tuhan" src="http://hauzahmaya.ir/wp-content/uploads/2012/05/Akan-terjadi-kerusakan-jika-ada-lebih-dari-satu-Tuhan.jpg" alt="Akan terjadi kerusakan jika ada lebih dari satu Tuhan" width="573" height="400" /></a></p>
<p>Pada ayat 22, surat Al-Anbiya [21], kita membaca: <em>&#8220;Sekiranya ada Tuhan selain Allah, maka akan terjadi kerusakan dan sistem-semesta akan saling bertabrakan.&#8221; </em></p>
<p>Soal yang mengedepan di sini adalah banyaknya Tuhan akan menjadi sumber kerusakan di alam semesta, lantaran tiap-tiap mereka akan bangkit untuk memerangi satu sama lainnya. Akan tetapi, jika kita menerima mereka sebagai orang-orang bijak dan berpengetahuan, tentu saja dalam mengelola alam semesta ini mereka akan saling bahu membahu.</p>
<p>Jawaban atas soal ini cukup sederhana. Kebijakan mereka tidak akan menafikan keberbilangan mereka. Ketika kita berasumsi mereka berjumlah banyak, berarti tidak adanya satu pendapat di antara mereka. Karena, apabila mereka adalah satu dari segala sisi, maka konsekuensinya adalah satu Tuhan. Oleh karena itu, jika ada jumlah banyak, pasti terdapat perbedaan-perbedaan dalam perbuatan, kehendak dan efek. Keadaan inilah yang akan menggiring alam semesta kepada kerusakan. (perhatikan baik-baik!)</p>
<p>Argumentasi ini menjelaskan argumentasi <em>Tamanu&#8217;</em> dalam rumusannya yang berbeda-beda. Namun, mengupas seluruh argumentasi yang ada bukanlah tujuan pembahasan kita kali ini.</p>
<p>Apa yang kami sebutkan di atas merupakan rumusan argumentasi (<em>tamanu&#8217;</em>) yang terbaik.</p>
<p>Pada rumusan lain, argumentasi ini bersandar pada preposisi bahwa apabila ada dua kehendak yang berlaku dalam penciptaan, alam semesta tidak akan pernah tercipta. Sementara ayat yang dinukil di atas, berbicara tentang kerusakan jagad dan terjadinya kekacauan dalam sistem semesta, bukan tidak terciptanya atau wujudnya alam semesta. (perhatikan baik-baikl).</p>
<p>Menariknya, dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Hisyam bin Hakam dari Imam Ash-Shadiq as, ketika menjawab seorang kafir yang meyakini banyaknya Tuhan, beliau bersabda:</p>
<p>&#8220;Dua Tuhan yang engkau katakan ini, apakah mereka itu <em>qadim</em> atau <em>azali</em> dan kuat, ataukah lemah dan tidak berdaya, atau satunya kuat dan lainnya lemah?</p>
<p>Apabila keduanya kuat, mengapa salah satunya tidak menyingkirkan yang lain dan memikul tanggungjawab mengatur alam semesta? Apabila anggapanmu seperti ini bahwa yang satu kuat dan yang lain lemah, engkau telah menerima Tauhid, karena yang kedua adalah lemah dan tidak berdaya. Dengan demikian, ia bukanlah Tuhan.</p>
<p>Dan apabila engkau berkata bahwa ada dua Tuhan (yang sama-sama kuat), maka asumsi ini tidak akan keluar dari dua kondisi; entah mereka bersepakat dari seluruh sisi atau berbeda. Akan tetapi, ketika kita melihat penciptaan yang sistemik; bintang gemintang di langit masing-masing bergerak pada orbitnya, silih bergantinya siang dan malam secara teratur, bulan dan matahari bergerak sesuai dengan garis lintasnya masing-masing, koordinasi pengaturan jagad raya dan sistematika hukum-hukumnya adalah dalil bahwa pengaturnya adalah satu.</p>
<p>Terlepas dari masalah ini, sekiranya engkau mengklaim Tuhan ada dua, maka di antara mereka pasti ada jarak (keunggulan) sehingga dualitas itu terwujud. Di sini, jarak tersebut sendiri adalah wujud yang ketiga yang harus <em>azali</em> juga. Dan dengan demikian, Tuhan menjadi tiga. Dan apabila engkau meyakini Tuhan adalah tiga, maka harus ada jarak (keunggulan) juga di antara mereka. Dengan demikian, engkau harus percaya pada lima wujud <em>qadim</em> dan <em>azali</em>. Dan dengan ini, bilangan Tuhan akan semakin banyak, dan masalah ini tidak berakhir dan tak tertuntaskan. &#8220;<a title="" href="#_ftn1">[1]</a></p>
<p>Permulaan hadis ini mengindikasikan burhan <em>tamanu&#8217;</em>, dan di bagian akhirnya terdapat argumentasi lain yang dikenal sebagai argumentasi <em>Farjah</em> (berbedanya poin persamaan dan poin perbedaan) .</p>
<p>Dalam hadis yang lain disebutkan bahwa Hisyam bin Hakam bertanya kepada Imam Ash-Shadiq as: &#8221;Dalil apa yang dapat membuktikan keesaan Tuhan?&#8221; Beliau bersabda, &#8220;Sistemika dan koordinasi pengaturan alam semesta dan sempurnanya penciptaan. Demikian Allah Swt berfirman, <em>&#8220;Sekirarya langit dan bumi terdapat Tuhan-Tuhan selain Allah, niscaya alam semesta ini akan mengalami kerusakan.&#8221;</em><a title="" href="#_ftn2">[2]</a></p>
<div><br clear="all" /></p>
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref1">[1]</a> <em>Tauhid Shaduq</em>, sesuai dengan nukilan dari <em>Tafsir</em> <em>Nur ats-Tsaqaiain</em>, jilid 3, hal. 417 dan 418.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref2">[2]</a> Idem.; <em>Tafsir Nemuneh</em>, jilid 13, hal. 373.</p>
</div>
</div>
<div class='wpfblike' style='height: 40px;'><fb:like href='http://hauzahmaya.ir/2012/05/17/akan-terjadi-kerusakan-jika-ada-lebih-dari-satu-tuhan/' layout='default' show_faces='true' width='400' action='like' colorscheme='light' send='true' /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hauzahmaya.ir/2012/05/17/akan-terjadi-kerusakan-jika-ada-lebih-dari-satu-tuhan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Peran para wanita dan anak-anak di Karbala</title>
		<link>http://hauzahmaya.ir/2012/05/11/peran-para-wanita-dan-anak-anak-di-karbala/</link>
		<comments>http://hauzahmaya.ir/2012/05/11/peran-para-wanita-dan-anak-anak-di-karbala/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 11 May 2012 11:00:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hauzah Maya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tanya dan jawab]]></category>
		<category><![CDATA[Asyura]]></category>
		<category><![CDATA[Bani Umaya]]></category>
		<category><![CDATA[Imam Husain]]></category>
		<category><![CDATA[Karbala]]></category>
		<category><![CDATA[Muawiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Nainawa]]></category>
		<category><![CDATA[wanita dan anak-anak]]></category>
		<category><![CDATA[Yazid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hauzahmaya.ir/?p=2360</guid>
		<description><![CDATA[Padahal Imam Husain as tahu bahwa ia bakal terbunuh di Karbala. Lalu mengapa beliau membawa keluarganya? Kalau hanya untuk menyampaikan pesan Asyura kepada orang lain, beliau sudah membawa Imam Sajjad as dan ia telah melakukan tugas itu. Lalu untuk apa beliau masih membawa Ali Asghar yang masih bayi?   Pada dasarnya ada dua pertanyaan: 1. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://hauzahmaya.ir/wp-content/uploads/2012/05/Peran-para-wanita-dan-anak-anak-di-Karbala.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-2361" title="Peran para wanita dan anak-anak di Karbala" src="http://hauzahmaya.ir/wp-content/uploads/2012/05/Peran-para-wanita-dan-anak-anak-di-Karbala.jpg" alt="Peran para wanita dan anak-anak di Karbala" width="573" height="400" /></a></p>
<p><em>Padahal Imam Husain as tahu bahwa ia bakal terbunuh di Karbala. Lalu mengapa beliau membawa keluarganya? Kalau hanya untuk menyampaikan pesan Asyura kepada orang lain, beliau sudah membawa Imam Sajjad as dan ia telah melakukan tugas itu. Lalu untuk apa beliau masih membawa Ali Asghar yang masih bayi?</em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Pada dasarnya ada dua pertanyaan:</p>
<p>1. Apa tujuan Imam Husain as membawa wanita dan anak-anak ke Karbala?</p>
<p>2. Apa peran wanita dan anak-anak dalam peristiwa Asyura?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Jawaban pertanyaan pertama</strong></p>
<p>Para ahli sejarah menjelaskan beberapa alasan:</p>
<p>A. Sudah menjadi kebiasaan orang-orang Arab untuk membawa anak istri mereka dalam perjalanan-perjalanan panjang dan peperangan, yang tujuannya adalah membuktikan tekat yang kuat. Berdasarkan kebiasan itu, dengan membawa keluarganya, Imam Husain as ingin mengajak sahabat-sahabatnya untuk berkorban demi Islam meski dengan harta dan jiwa baik diri maupun anak istri. Di sisi lain, orang-orang yang menolong Imam Husain as, jika mereka menolongnya di tengah-tengah keluarganya, hal itu lebih baik; sebagaimana membiarkan beliau di tengah-tengah keluarganya adalah tidak baik.<a title="" href="#_ftn1">[1]</a></p>
<p>B. Ada kemungkinannya jika beliau meninggalkan keluarganya di Madinah maka keluarga beliau lebih terancam bahaya.<a title="" href="#_ftn2">[2]</a> Karena jika beiau tidak membawa keluarganya, bisa jadi Bani Umayah menawan keluarga beliau lalu memaksa Imam Husain as untuk membai&#8217;at Yazid demi dibebaskannya anak dan istrinya. Kalau begitu hanya ada dua pilihan bagi Imam Husain as: Menyerah demi membebaskan keluarganya, atau meneruskan perjalanannya dan membiarkan keluarganya terseiksa; dan kedua pilihan itu sangat merugikan bagi beliau dan perjuangannya akan berakhir sia-sia.</p>
<p>C. Sebagaimana yang dapat difahami dari beberapa riwayat, perjuangan Imam Husain as berdasarkan tugas Ilahi, dan membawa keluarga dalam perjuangan tersebut adalah penyempurnanya. Dengan cara itu beliau dapat menyingkap kedok kebusukan Bani Umayah dan mencegah mereka melunturkan nilai-nilai Islam. Hal itu dapat kita fahami dari ucapan beliau sendiri saat berkata kepada Muhammad Hanafiah: &#8220;Setelah engkau pergi, aku bermimpi melihat Rasulullah saw berkata kepadaku: &#8220;Wahai Husain! Pergilah ke Iraq. Karena Tuhan berkehendak untuk menyaksikanmu terbunuh di jalan-Nya.&#8221;" Lalu Muhammad Hanafiah membaca ayat &#8220;Inna lillah&#8230;&#8221; kemudian bertanya mengapa beliau harus membawa keluarganya? Imam as menjawab: &#8220;Tentang mereka pun aku juga diberi tahu bahwa Tuhan telah berkehendak melihat mereka ditawan.&#8221;<a title="" href="#_ftn3">[3]</a></p>
<p>Imam Husain as menyadari bahwa terbunuhnya dia dan ditawannya keluarganya adalah keridhaan Allah swt. Oleh karena itu beliau membawa keluarganya bersamanya ke Iraq dan dengan perjalanan itulah mereka mengukir sejarah. Alasan ini lebih ditekankan oleh ulama kita.<a title="" href="#_ftn4">[4]</a></p>
<p>Lalu timbullah pertanyaan berikutnya: Apa peran para wanita dan anak-anak di peristiwa Asyura?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Jawaban pertanyaan kedua</strong></p>
<p>Salah satu alasan mengapa beliau membawa para wanita dan anak-anak adalah tugas yang mereka jalankan pasca Asyura. Jadi dapat dijelaskan bahwa perjuangan Imam Husain as memiliki dua fase: Fase pertama adalah perjuangan dan pengorbanan beliau dan sahabat-sahabatnya; fase kedua adalah penyampaian pesan Karbala yang dijalankan oleh para wanita dan anak-anak.</p>
<p>Oleh karena itu kita dapat menjelaskan peranan para wanita dan anak-anak di Karbala dengan penjelasan ini:</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Menyampaikan pesan</strong></p>
<p>Sejarah mencatat bahwa sering kali kaum wanita memiliki peranan penting di samping kaum lelaki. Kita sendiri telah menyaksikan peran Khadijah as bersama Rasulullah saw, Fathimah Azzahra as bersama Imam Ali as, dan Zainab as bersama Imam Husain as.</p>
<p>Tragedi Karbala hingga sore Asyura adalah fase pertama perjuangan Husaini; yang berisi dengan tertumpahnya darah Imam Husain as dan para sahabatnya. Setelah itu dimulailah fase kedua yang dilakoni oleh Imam Sajjad as dan Zainab as. Mereka dengan lantang meneriakkan pesan-pesan Husaini kepada penduduk Syam yang selama ini termakan propaganda Bani Umayah. Selama ditawan oleh Bani Umayah, Imam Sajjad as dan Zainab as terus berusaha menjelaskan kepada semua orang siapa sebenarnya Bani Umayyah dan menyingkap kedoknya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Memerangi propaganda Bani Umayah dan mengenalkan Ahlul Bait as</strong></p>
<p>Semenjak Syam dikuasai umat Islam, pemerintahan negeri itu berada di tangan orang-orang seperti Khalid bin Walid dan Mu&#8217;awiyah. Selama itu penduduk negeri itu tidak terlalu banyak tahu tentang Islam sebenarnya, tidak pernah mendengarkan perkataan nabi dan juga sahabat-sahabatnya sebagaimana penduduk Madinah.</p>
<p>Menurut sebagian sejarawan, ada sekitar 113 sahabat yang ikut memenangkan Syam lalu tinggal di sana. Namun mereka tidak terlalu mengenal Rasulullah saw dan hanya hidup sebentar dengan beliau. Hanya satu atau dua hadits yang mereka riwayatkan dari nabi.</p>
<p>Sampai masa kebangkitan Imam Husain as, hanya sebelas orang dari mereka yang masih hidup. Mereka sudah berusia lanjut, sekitar delapan puluh tahunan, itupun mereka hidup dengan cara mengasingkan diri. Oleh karenanya kebanyakan masyarakat Syam tidak tahu menahu tentang Islam yang sebenarnya.<a title="" href="#_ftn5">[5]</a></p>
<p>Mu&#8217;awiyah telah memerintah di Syam selama hampir empat puluh dua tahun dan selalu berusaha menjauhkan masyarakat dari Islam yang sebenarnya. Dengan caranya memerintah ia berhasil menundukkan semua orang hingga tak ada yang berani menentangnya.<a title="" href="#_ftn6">[6]</a></p>
<p>Dalam pemerintahan Bani Umayah masyarakat telah termakan propaganda pemerintah. Keluarga nabi (Ahlul Bait as) disebut-sebut sebagai musuh agar dibenci, dan mereka (Bani Umayah) menganggap dirinya sebagai keluarga dekat nabi yang setia. Sebenarnya hal itu terus berlangsung hingga berdirinya pemerintahan Abul Abbas Saffah (khalifah pertama Bani Abbas), sampai-sampai puluhan pejabat Syam bersumpah bahwa selama ini mereka tidak tahu bahwa Rasulullah saw memiliki keluarga selain Bani Umayah.<a title="" href="#_ftn7">[7]</a></p>
<p>Oleh karenanya tidak mengherankan saat rombongan tawanan keluarga Imam Husain as digiring seseorang berdiri di hadapan mereka dan berkata: &#8220;Puji Tuhan yang telah membunuh kalian dan menyelamatkan kami dari bahaya kalian.&#8221; Imam Sajjad as diam sejenak lalu membaca ayat: <em>&#8220;Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai Ahlul Bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.&#8221;</em> (QS. Al-Ahzab [33]:33) Lalu beliau berkata: &#8220;Ayat ini turun berkenaan dengan kami.&#8221; Akhirnya lelaki itu terkejut dan sadar bahwa tawanan-tawanan tersebut bukanlah musuh, namun Ahlul Bait yang sebenarnya. Akhirnya pun ia bertaubat.<a title="" href="#_ftn8">[8]</a></p>
<p>Dengan usaha Imam Sajjad as dan Zainab as yang mendatangi penduduk Syam dari rumah ke rumah, akhirnya propaganda Bani Umayah telah luntur dan Ahlul Bait as yang sebenarnya telah dikenalkan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Mencegah melencengnya pesan-pesan Asyura</strong></p>
<p>Sebagaimana Bani Umayah menipu masyarakat dengan mengenalkan Ahlul Bait as sebagai musuh Islam, mereka juga menganggap perjuangan Imam Husain as di Karbala adalah usaha pemberontakan terhadap pemerintah serta menyebut beliau sebagai orang murtad. Oleh karenanya, atas keyakinan itulah kebanyakan tentara Bani Umayah memerangi Imam Husain. Namun saat Imam Sajjad as dan Zainab as ditawan, mereka memiliki kesempatan yang cukup untuk menjelaskan kenyataan yang sebenarnya. Jika kita menyaksikan khutbah-khutbah Imam Sajjad as dan Zainab as, kita akan fahami bahwa kandungannya kurang lebih adalah menyalahkan Bani Umayah, penduduk Kufah, mengenalkan Imam Husain as dan menjaga agar pesan-pesan Asyura tidak dilencengkan. Syahid Dastegheib berkata: &#8220;Jika tidak ada Zainab as dan anak-anak kecil di Karbala, Bani Umayah pasti sudah melunturkan nilai-nilai perjuangan Imam Husain as di Karbala. Fakta dan kebenaran akan terus menerus tersembunyi. Apa lagi saat itu susah sekali untuk menyampaikan pesan kebenaran dan musuh terus berusaha memutar balikkan fakta.&#8221;<a title="" href="#_ftn9">[9]</a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Menyingkap kedok kaum zalim</strong></p>
<p>Keadaan dizalimi adalah salah satu faktor yang efektif dalam menyampaikan pesan kepada orang lain. Karena secara alamiah manusia sangat membenci kezaliman dan kejahatan. Buktinya hingga sampai saat ini gelora api perjuangan Imam Husain as terus membara di hati orang-orang yang beriman.</p>
<p>Peran para tahanan, yang tidak memiliki senjata dan pertahanan, dengan cara kejam dang bengis dipukul dan dilukai, dihina, apa lagi anak-anak kecil yang terbunuh, semuanya sangat meluluhkan hati. Terbunuhnya anak berusia beberapa tahun di samping jasad Imam Husain as, terpotongnya leher Ali Ashghar dalam keadaan kehausan di pelukan ayahnya, dibakarnya kemah-kemah anak istri cucu nabi, semuanya menyampaikan pesan kebenaran kepada kita dan menjelaskan betapa busuknya pemerintahan Bani Umayah.</p>
<p>Jika hanya kaum lelaki saja yang ada dalam tragedi pengorbanan itu, semua pasti berbicara bahwa itu adalah hal biasa. Karena lelaki memang terbiasa berperang. Namun ketika para wanita dan anak-anak juga menjadi korban, tidak ada yang bisa bertahan mendengar kisah tragedi itu. Dengan demikian tragedi Asyura menjadi lebih berdampak di hati setiap pendengarnya.</p>
<p>Jadi, alasan Imam Husain as membawa wanita dan anak-anak adalah:</p>
<p>1. Para wanita dan anak-anak dapat menyampaikan pesan.</p>
<p>2. Kurang lebih musuh tidak dapat menyerang mereka. Karena jika mereka sampai terluka, maka mereka akan dikecam sepanjang sejarah.</p>
<p>3. Dari segi irfani, Imam Husain as telah mempersembahkan segala miliknya tanpa kurang sedikitpun di jalan Tuhan dengan penuh keikhlasan. Buah keikhlasan itu adalah kekalnya tragedi Asyura di sepanjang jaman dan efeknya bagi umat Islam dan selainnya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Referensi untuk mengkaji lebih jauh:</strong></p>
<p>1. Sayid Ja&#8217;far Syahidi, <em>Qiyam e Emam Husain</em>.</p>
<p>2. Muhammad Ibrahim Ayati, <em>Barresi e Tarikh e Asyura</em>.</p>
<p>3. Syahid Murtadha Muthahari, <em>Homase e Husaini</em>.</p>
<p>4. Muhammad Shadiq Najmi, <em>Sokhanan e Emam Husain bin Ali Az Madine ta Karbala</em>.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Hadits akhir:</strong></p>
<p>Imam Husain as di hari Asyura berkata: &#8220;Demi Tuhan! Aku tidak akan berlutut hina di depan kalian dan aku takkan lari bagai budak-budak dari kalian!&#8221;<a title="" href="#_ftn10">[10]</a></p>
<p>&nbsp;</p>
<div><br clear="all" /></p>
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref1">[1]</a> Abbas Mahmud &#8216;Iqad, <em>Abu Syuhada Al-Imam Husain</em>, hal. 136.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref2">[2]</a> Syaikh Abdul Wahhab Kasyi, <em>Ma&#8217;satul Husain Baina As-Sa&#8217;il wal Mujib</em>, hal. 78 dan 79.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref3">[3]</a> Sayid Ibnu Thawus, <em>Al-Luhuf fi Qatl Ath-Thufuf</em>, hal. 94; <em>Biharul Anwar</em>, jil. 44, hal. 364.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref4">[4]</a> Murtadha Muthahari, <em>Homase e Husaini</em>, jil. 1, hal. 272; Sayid Abdul Husain Dastegheib, <em>Sayidus Syuhada</em>, hal. 177.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref5">[5]</a> Syahid Ja&#8217;far Shahidi, <em>Qiyam e Emam Husain</em>, hal. 185.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref6">[6]</a> Muhammad Ibrahim Ayati, <em>Barresi e Tarikh e Asyura</em>, hal. 47.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref7">[7]</a> Ibnu Abil Hadid, <em>Syarah Nahjul Balaghah</em>, jil. 7, hal. 159.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref8">[8]</a> Khwarazmi, <em>Maqtal Al-Husain</em>, jil. 2, hal. 61; <em>Luhuf</em>, hal. 237-239.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref9">[9]</a> Abdul Husain Dastegheib, <em>Sayid Asy Syuhada</em>, hal. 177.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref10">[10]</a> <em>Al-Irsyad</em>, hal. 235.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p style="text-align: right;"><em>Parto Pajohesh</em></p>
</div>
</div>
<div class='wpfblike' style='height: 40px;'><fb:like href='http://hauzahmaya.ir/2012/05/11/peran-para-wanita-dan-anak-anak-di-karbala/' layout='default' show_faces='true' width='400' action='like' colorscheme='light' send='true' /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hauzahmaya.ir/2012/05/11/peran-para-wanita-dan-anak-anak-di-karbala/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Imam Husain as tidak mencelakai diri sendiri</title>
		<link>http://hauzahmaya.ir/2012/05/11/imam-husain-as-tidak-mencelakai-diri-sendiri/</link>
		<comments>http://hauzahmaya.ir/2012/05/11/imam-husain-as-tidak-mencelakai-diri-sendiri/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 11 May 2012 07:20:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hauzah Maya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tanya dan jawab]]></category>
		<category><![CDATA[Asyura]]></category>
		<category><![CDATA[bunuh diri]]></category>
		<category><![CDATA[Imam Husain]]></category>
		<category><![CDATA[Karbala]]></category>
		<category><![CDATA[mencelakakan diri sendiri]]></category>
		<category><![CDATA[perjuangan Imam Husain]]></category>
		<category><![CDATA[takdir]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hauzahmaya.ir/?p=2357</guid>
		<description><![CDATA[Berangkatnya Imam Husain as ke Karbala, padahal beliau sendiri tahu bahwa ia, keluarga dan kerabatnya akan mati, apakah tidak bertentangan dengan ayat yang berbunyi: &#8220;&#8230;dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan.&#8221;[1]? &#160; Penjelasan: berdasarkan ayat di atas, bunuh diri adalah perbuatan yang diharamkan. Perjuangan Imam Husain as adalah apa yang dilarang oleh ayat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://hauzahmaya.ir/wp-content/uploads/2012/05/Imam-Husain-as-tidak-mencelakai-diri-sendiri.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-2358" title="Imam Husain as tidak mencelakai diri sendiri" src="http://hauzahmaya.ir/wp-content/uploads/2012/05/Imam-Husain-as-tidak-mencelakai-diri-sendiri.jpg" alt="Imam Husain as tidak mencelakai diri sendiri" width="573" height="400" /></a></p>
<p><em>Berangkatnya Imam Husain as ke Karbala, padahal beliau sendiri tahu bahwa ia, keluarga dan kerabatnya akan mati, apakah tidak bertentangan dengan ayat yang berbunyi: </em>&#8220;&#8230;dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan.&#8221;<a title="" href="#_ftn1">[1]</a><em>?</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Penjelasan:</strong> berdasarkan ayat di atas, bunuh diri adalah perbuatan yang diharamkan. Perjuangan Imam Husain as adalah apa yang dilarang oleh ayat di atas. Dengan demikian, apakah perjuangan beliau bertentangan dengan ayat tersebut?</p>
<p>Ada beberapa jawaban untuk pertanyaan ini:</p>
<p>A. Jawaban yang satu ini akan menjadi jelas dengan beberapa pengantar di bawah ini:</p>
<p>1. Menjatuhkan diri ke dalam kehancuran tidak diharamkan secara total. Dalam keadaan-keadaan tertentu justru wajib hukumnya. Misalnya jika agama Islam berada dalam bahaya dan terancam hancur, dan tidak ada cara lain selain mengorbankan diri, maka pengorbanan itu wajib bagi kita. Namun jika tujuan pengorbanan itu bukanlah hal penting atau bahkan tidak syar&#8217;i dan masuk akal, jelas kita dilarang untuk menjatuhkan diri ke dalam kehancuran.</p>
<p>2. Menjatuhkan diri ke dalam kehancuran itu diharamkan jika tidak ada tujuan yang jauh lebih penting di baliknya. Namun jika pengorbanan diri dilakukan demi tujuan yang sangat penting, akal pun juga membenarkannya.</p>
<p>3. Kehancuran yang sebenarnya adalah kehancuran yang diakibatkan mengikuti langkah-langkah setan dan hawa nafsu. Namun seorang yang syahid dan gugur di jalan Allah bukanlah orang yang jatuh ke dalam kehancuran. Kesyahidan Imam Husain as dalam membela agama Islam dan menjaganya bukanlah kehancuran yang dimaksud ayat di atas.</p>
<p>Dengan demikian, maka:</p>
<p><em>Pertama: </em>jika meskipun kita anggap Imam Husain as telah menjatuhkan diri ke dalam kehancuran, namun dengan melihat kondisi di saat itu, perbuatan Imam Husain as adalah suatu kewajiban. Karena beliau memiliki tujuan yang lebih besar dan lebih penting dari nyawa, yaitu terjaganya agama dan hukum-hukum Allah swt. Perjuangan Imam Husain as bukan saja dibenarkan syari&#8217;at, namun akal pun juga mengakui kebenarannya.</p>
<p><em>Kedua: </em>jihad Imam Husain as melawan Yazid bukanlah menjatuhkan diri ke dalam kehancuran. Karena gugurnya Imam Husain as dalam melawan Yazid, yakni kesyahidannya, bukanlah kehancuran; kesyahidan dan kehancuran adalah dua perkara yang jauh bertentangan. Kehancuran adalah mati sia-sia. Adapun kesyahidan adalah mati di jalan Allah swt dan penggapaian kebahagiaan sejati.<a title="" href="#_ftn2">[2]</a> Oleh karena itu sebagian ahli tafsir memaknai ayat tersebut begini: &#8220;Janganlah kalian menjatuhkan diri kalian dengan tangan kalian sendiri ke dalam kehancuran karena menghindar dari kesyahidan yang merupakan hayat abadi.&#8221;<a title="" href="#_ftn3">[3]</a> Yakni jika kalian melarikan diri dari jihad yang diwajibkan Allah swt, berarti kalian telah menjatuhkan diri ke dalam kehancuran. Namun jika kalian menjalankan kewajiban tersebut, maka kalian telah memilih kehidupan abadi dan terselamatkan dari kehancuran. Jadi, orang yang memilih kesyahidan di jalan Allah swt telah menyelamatkan diri dari kehancuran dan mendapatkan kehidupan suci dan bahagia abadi.</p>
<p>Selama perjalanan Imam Husain as ke Karbala, beliau sering melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur&#8217;an dalam khutbah-khutbahnya untuk menyampaikan pesannya. Suatu saat sekelompok jin menawarkan diri untuk membantu Imam Husain as memenangkan peperangan dengan cara menghancurkan musuh-musuh beliau sebelum perang dimulai. Namun Imam Husain as menolak dan berkata bahwa jika mau menggunakan kekuatan ghaib, beliau lebih kuat dari pada jin-jin.<a title="" href="#_ftn4">[4]</a> Lalu beliau membaca ayat ini:</p>
<p><em>&#8220;&#8230;agar orang yang binasa itu binasanya dengan keterangan yang nyata dan agar orang yang hidup itu hidupnya dengan keterangan yang nyata (pula).&#8221;</em> (QS. Al-Anfaal [8]:42)</p>
<p>Dengan menyampaikan ayat tersebut Imam Husain as menjelaskan bahwa tragedi Asyura adalah tragedi kemenangan dan kehancuran yang harus berlangsung dengan sempurnanya hujjah.</p>
<p>Penjelasannya begini: Imam Husain as ingin orang-orang yang memusuhinya benar-benar menyadari apa yang sedang mereka lakukan, begitu pula sahabat-sahabat beliau. Yang mana dengan demikian mereka memilih kehancuran dan kemenangan dengan pilihannya sendiri lalu hancur dan hidup dengan usahanya sendiri. Di Asyura musuh-musuh Imam Husain as memilih kehancuran atas keinginanya sendiri dan sahabat-sahabat beliau memilih kehidupan abadi bersama pemimpinnya atas kehendaknya sendiri pula. Kebahagiaan di akherat bagi orang-orang yang gugur di jalan Allah swt adalah kebahagiaan abadi. Allah swt berfirman: <em>&#8220;Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu) mati; bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya.&#8221;</em> (QS. Al-Baqarah [2]:154)</p>
<p>Dalam peristiwa Karbala telah sempurna hujjah Allah bagi kedua kelompok. Oleh karena itu kebahagiaan abadi kelompok Imam Husain as dan kehancuran nyata musuh-musuh beliau telah dipilih berdasarkan hujjah yang sempurna dan jelas. Jadi, jangankan Imam Husain as, sahabat-sahabat dan kerabat beliau tidak ada yang jatuh ke dalam kehancuran.</p>
<p>B. Perjuangan yang dilakukan Imam Husain as adalah atas perintah Allah swt dan sesuai dengan tujuan yang diinginkan Rasulullah saw. Fakta ini dapat difahami dengan menengok tujuan-tujuan yang beliau jelaskan sendiri dan juga riwayat-riwayat yang mejelaskan bahwa nabi dan Imam Husain as sendiri benar-benar tahu akan peristiwa Asyura:</p>
<p>1. Dalam ayat-ayat Al-Qur&#8217;an<a title="" href="#_ftn5">[5]</a> dan juga riwayat-riwayat<a title="" href="#_ftn6">[6]</a> dijelaskan bahwa memerangi kebatilan adalah suatu kewajiban. Karena tegaknya agama menuntut ditumpaskannya kebatilan dan perjuangan di jalan Allah swt. Perjuangan Imam Husain as tidak lepas dari perkara penting ini.</p>
<p>2. Rasulullah saw sering kali mengkabarkan tentang peristiwa tragis yang akan menimpa cucunya, Imam Husain as. Riwayat-riwayat tentang hal ini tidak hanya disebutkan dalam buku-buku Syiah saja, namun juga dapat ditemukan dalam referensi-referensi hadits Suni. Bahkan tidak hanya jelas sekali makna riwayat itu, namun juga <em>mutawatir</em>.<a title="" href="#_ftn7">[7]</a></p>
<p>Rasulullah saw bersabda: &#8220;Malaikat Jibril datang kepadaku dan mengkabarkan bahwa kelak cucuku Al-Husain as akan terbunuh di tanah tandus Karbala, lalu ia membawakan segenggam tanah itu untukku, lalu berkata bahwa di tanah itu ia akan dikuburkan.&#8221;<a title="" href="#_ftn8">[8]</a></p>
<p>Dalam riwayat lainnya Rasulullah saw berkata kepada Imam Husain as: &#8220;Sesungguhnya bagimu ada suatu tempat di surga yang tak akan tergapai kecuali dengan kesyahidan.&#8221;<a title="" href="#_ftn9">[9]</a></p>
<p>Diriwayatkan dari Anas bin Harits (orang yang menyertai Imam Husain as hingga meninggal) bahwa Rasulullah saw bersabda: &#8220;Cucuku Al-Husain as akan terbunuh di tanah Karbala. Barang siapa melihatnya, maka ia harus menolongnya.&#8221;<a title="" href="#_ftn10">[10]</a></p>
<p>Oleh karenanya, orang yang tidak menolong Imam Husain as, apa lagi orang yang memeranginya, adalah orang yang memerangi Allah swt dan nabinya.</p>
<p>3. Perkataan dan sikap Imam Husain as sejak awal membuktikan bahwa beliau memilih keputusannya dengan penuh kesadaran. Ia pun yakin perjuangannya adalah perintah Allah swt dan rasul-Nya. Misalnya, saat menjawab perkataan saudaranya Muhammad Hanafiah, beliau berkata: &#8220;Setelah engkau pergi aku bermimpi melihat Rasulullah saw berkata kepadaku: &#8220;Wahai Husain! Pergilah ke Iraq. Karena Allah swt berkehendak untuk melihatmu gugur di jalan-Nya.&#8221;"<a title="" href="#_ftn11">[11]</a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Sanggahan untuk jawaban ini</strong></p>
<p>Apakah jika Imam Husain as tahu bahwa perjuangannya adalah perintah Allah swt berarti ia dipaksa?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Jawaban</strong></p>
<p>Tentang kehendak Tuhan dalam perkataan Rasulullah saw di mimpi Imam Husain as, kebanyakan ulama menyatakan bahwa kehendak tersebut adalah kehendak <em>tasyri&#8217;i</em>, bukan <em>takwini</em>.<a title="" href="#_ftn12">[12]</a> Kehendak <em>tasyri&#8217;i </em>tidak bersifat paksaan dan tiadanya ikhtiar. Maksud dari kehendak tersebut adalah keridhaan Allah swt akan terbunuhnya Imam Husain as dan pengetahuan-Nya tentang bahwa peristiwa itu akan terjadi.<a title="" href="#_ftn13">[13]</a> Oleh karena itu, kehendak Ilahi yang berarti pengetahuan pasti-Nya akan terjadinya sesuatu bukan berarti paksaan. Karena segala sesuatu yang terjadi pada hambanya dan yang telah Ia ketahui sebelumnya bergantung pada ikhtiar dan kehendak manusia sebagai pelaku itu sendiri. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa segala perbuatan yang dilakukan oleh manusia &#8220;atas kehendaknya masing-masing&#8221; telah diketahui Allah swt sebelum semua itu dilakukan, dan dengan demikian disebut dengan kehendak Ilahi.</p>
<p>Meskipun Imam Husain as telah diberitahu tentang apa yang akan terjadi padanya, namun beliau sendiri berusaha agar apa yang diberitahukan kepadanya itu terwujud dengan cara mengumpulkan pasukan dan segala persiapan perjalanannya. Oleh karena itu beliau berikhitiar dan berkehendak dalam keputusan dan perbuatannya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Kesimpulan</strong></p>
<p>Jika agama Islam terancam, maka kita wajib melakukan segalanya demi terjaganya Islam, termasuk mengorbankan jiwa sendiri. Seperti itu perjuangan Imam Husain as di Karbala.</p>
<p>Perjuangan beliau bertujuan untuk menyelamatkan Islam dari kehancuran, yang mana Tuhan dan Rasulullah saw juga menginginkannya. Imam pun berjuang atas kehendak nya sendiri dan beliau melakukannya dengan penuh kesadaran. Oleh karena itu beliau tidak termasuk orang yang menjatuhkan diri sendiri ke dalam kehancuran.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Referensi untuk mengkaji lebih jauh:</strong></p>
<p>1. Ayatullah Shafi Gulpaygani, <em>Partooee az Azamat e Hosain</em>.</p>
<p>2. Ali Asghar Rezvani, <em>Pasokh be Syobahat</em>.</p>
<p>3. Daftar Tablighat e Eslami, <em>Pasokh ha ye Bargozide</em>.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Hadits akhir:</strong></p>
<p>Barra&#8217; bin &#8216;Azib berkata: &#8220;Aku melihat Rasulullah saw menggendong Husain as di atas pundaknya seraya berkata: &#8220;Ya Allah! Aku sangat mencintainya, maka cintailah ia pula.&#8221;<a title="" href="#_ftn14">[14]</a></p>
<p>&nbsp;</p>
<div><br clear="all" /></p>
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref1">[1]</a> QS. Al-Baqarah: 195.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref2">[2]</a> Nashir Makarim Syirazi, <em>Al-Amtsal fi Tafsir Kitab Allah Al-Munzal</em>, jil. 2, hal. 38.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref3">[3]</a> <em>Ruhul Bayan</em>, jil. 1, hal. 310; <em>Tabyin Al-Qur&#8217;an</em>, hal. 42; <em>Tafsir Jalalain</em>, hal. 34.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref4">[4]</a> <em>Biharul Anwar</em>, jil. 44, hal. 331)</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref5">[5]</a> QS. At-Taubah: 29.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref6">[6]</a> <em>Mustadrak Al-Wasail</em>, jil. 11, hal. 17; <em>Al-Kafi</em>, jil. 5, hal. 3.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref7">[7]</a> Luthfullah Shafi Gulpaygani, <em>Partoee az Azamat e Hosain</em>, hal. 50.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref8">[8]</a> <em>Biharul Anwar</em>, jil. 18, hal. 114; <em>Ash Shawaiqul Muhriqah</em>, hal. 190; <em>Maqtal Khwarazmi</em>, pasal 7, hal. 156.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref9">[9]</a> <em>Maqtal Khwarazmi</em>, pasal 8, hal. 170.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref10">[10]</a> <em>Biharul Anwar</em>, jil. 44, hal. 247.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref11">[11]</a> Sayid Ibnu Thawus, <em>Al-Luhuf fi Qatl Ath-Thufuf</em>, hal. 94; <em>Biharul Anwar</em>, jil. 44, hal. 364.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref12">[12]</a> Murtadha Muthahari, <em>Homase e Husaini</em>, jil. 3, hal. 86.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref13">[13]</a> <em>Imam Husain wa Quran</em>, hal. 128.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref14">[14]</a> <em>Biharul Anwar</em>, jil. 43, hal. 264.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p style="text-align: right;"><em>Parto Pajohesh</em></p>
</div>
</div>
<div class='wpfblike' style='height: 40px;'><fb:like href='http://hauzahmaya.ir/2012/05/11/imam-husain-as-tidak-mencelakai-diri-sendiri/' layout='default' show_faces='true' width='400' action='like' colorscheme='light' send='true' /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hauzahmaya.ir/2012/05/11/imam-husain-as-tidak-mencelakai-diri-sendiri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Apakah kewajiban Amar Makruf gugur karena resiko bahaya?</title>
		<link>http://hauzahmaya.ir/2012/05/10/apakah-kewajiban-amar-makruf-gugur-karena-resiko-bahaya/</link>
		<comments>http://hauzahmaya.ir/2012/05/10/apakah-kewajiban-amar-makruf-gugur-karena-resiko-bahaya/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 May 2012 19:51:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hauzah Maya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tanya dan jawab]]></category>
		<category><![CDATA[Asyura]]></category>
		<category><![CDATA[Bani Umayah]]></category>
		<category><![CDATA[Imam Husain]]></category>
		<category><![CDATA[Karbala]]></category>
		<category><![CDATA[Yazid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hauzahmaya.ir/?p=2352</guid>
		<description><![CDATA[Tujuan terpenting dari perjuangan Imam Husain as Amar Makruf Nahi Munkar. Berdasarkan kaidah &#8220;Laa Dharar&#8221; kewajiban itu gugur; lalu mengapa beliau tetap maju berjuang di Karbala?   Tidak diragukan bahwa Amar Makruf Nahi Munkar adalah salah satu perkara penting yang diwajibkan dalam Islam dan sering dijelaskan dalam Al-Qur&#8217;an[1] dan riwayat.[2] Kewajiban Amar Makruf Nahi Munkar [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://hauzahmaya.ir/wp-content/uploads/2012/05/Apakah-kewajiban-Amar-Makruf-gugur-karena-resiko-bahaya.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-2353" title="Apakah kewajiban Amar Makruf gugur karena resiko bahaya" src="http://hauzahmaya.ir/wp-content/uploads/2012/05/Apakah-kewajiban-Amar-Makruf-gugur-karena-resiko-bahaya.jpg" alt="Apakah kewajiban Amar Makruf gugur karena resiko bahaya" width="573" height="400" /></a></p>
<p><em>Tujuan terpenting dari perjuangan Imam Husain as </em>Amar Makruf Nahi Munkar<em>. Berdasarkan kaidah </em>&#8220;Laa Dharar&#8221; <em>kewajiban itu gugur; lalu mengapa beliau tetap maju berjuang di Karbala?</em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Tidak diragukan bahwa <em>Amar Makruf Nahi Munkar</em> adalah salah satu perkara penting yang diwajibkan dalam Islam dan sering dijelaskan dalam Al-Qur&#8217;an<a title="" href="#_ftn1">[1]</a> dan riwayat.<a title="" href="#_ftn2">[2]</a> Kewajiban <em>Amar Makruf Nahi Munkar </em>ini menysaratkan empat hal,<a title="" href="#_ftn3">[3]</a> yang mana keempat-empatnya syarat itu telah terpenuhi bagi Imam Husain as:</p>
<p><strong>1. Memiliki pengetahuan tentang <em>makruf dan munkar</em>:</strong> Imam Husain as berbeda dengan orang-orang biasa, ia mengetahui seluruh <em>makruf </em>dan <em>munkar </em>melalui ilmu ladunni. Beliau tahu bahwa Yazid bertujuan untuk membinasakan Islam dan mengembalikan umat manusia ke jaman jahiliah. Jika beliau tidak berbuat apa-apa, Islam pasti binasa. Murtadha Muthahari berkata: &#8220;Imam Husain as saat itu melihat hal-hal tertentu yang tidak dilihat oleh orang biasa lainnya.&#8221;<a title="" href="#_ftn4">[4]</a></p>
<p><strong>2. Kemungkinan usaha <em>Amar Makruf </em>dapat memberikan hasil:</strong> merupakan syarat diwajibkannya <em>Amar Makruf Nahi Munkar </em>yang mana memiliki dua macam:</p>
<p>A. Jika tidak ada kemungkinan usaha kita berpengaruh sama sakali, meskipun di masa yang akan datang pun, maka kewajiban ini gugur.</p>
<p>B. Jika untuk sementara usaha kita tidak berpengaruh, namun ada kemungkinannya kelak usaha kita ini dapat memberikan pengaruh, maka kewajiban itu tetap harus dilakukan.</p>
<p>Dalam perjuangan Imam Husain as, beliau yakin usahanya bakal berpengaruh dan akan membawa perubahan. Beliau sangat yakin dengan usahanya Islam akan terjaga. Menurut beliau dengan kematiannya dan juga sahabat-sahabatnya, borok busuk Bani Umayah akan tersingkap dan bakal menjadi senjata yang menghancurkan mereka sendiri.</p>
<p><strong>3. Terus menerus dilakukannya dosa dan kemunkaran: </strong>Syarat ketiga ini juga telah terpenuhi bagi Imam Husain as. Karena saat itu Bani Umayah tidak hanya terus menerus melakukan kemunkaran, namun bahkan menyebarkannya.</p>
<p><strong>4. Tidak membahayakn harta dan benda diri serta orang mukmin lainnya:</strong> Imam Husain as saat itu tahu bahwa jika ia menjalankan kewajiban itu maka ia dan keluarganya akan terkena bahaya. Namun meskipun begitu beliau tetap menjalankan tugas tersebut. Ada dua sebab yang dapat dijelaskan:</p>
<p>A. Para fakih dalam menjelaskan syarat yang satu ini berkata bahwa <em>Amar Makruf Nahi Munkar </em>memiliki dua jenis tujuan: Pertama, tujuan yang tidak terlalu penting, yang mana kerugian <em>Amar Makruf Nahi Munkar </em>lebih tinggi jika dibanding dengan manfaatnya; maka kewajiban melakukan tugas ini dapat digugurkan. Adapun yang kedua, yaitu tujuannya sangat penting sekali, misalnya berkaitan langsung dengan dasar-dasar agama, keyakinan, Al-Qur&#8217;an, dan semacamnya; maka meskipun tugas tersebut sangat berbahaya, namun karena jika ditinggalkan bahaya yang timbul bakal lebih besar lagi, maka tugas itu harus dilakukan, meski dengan cara mengorbankan harta dan jiwa.<a title="" href="#_ftn5">[5]</a></p>
<p>Imam Khumaini berkata: &#8220;Jika <em>Amar Makruf Nahi Munkar </em>berkaitan dengan suatu perkara yang sangat penting dalam Islam, maka meskipun harus dengan harta dan nyawa, kewajiban itu harus ditunaikan.&#8221;<a title="" href="#_ftn6">[6]</a></p>
<p>Imam Husain as berada dalam posisi ini. Saat itu ke-<em>makruf</em>-an adalah Islam dan Sunah nabi sendiri dan itu terancam hancur karena ulah Bani Umayah. Jika beliau tidak menjalankan kewajibannya, maka Islam akan lenyap sampai akar-akarnya dan jerih payah Rasulullah saw selama itu akan sia-sia. Oleh karenanya Imam Husain as bertekat untuk maju menjalankan kewajiban tersebut meski harus mengorbankan harta, jiwanya dan jiwa kerabatnya.</p>
<p>Sejak awal Imam Husain as telah menyadari bahaya yang akan menimpa agama Rasulullah saw. Oleh karena itu saat beliau diminta Marwan untuk membai&#8217;at Yazid, beliau berkata: &#8220;<em>Inna lillah wa Inna Ilaihi Raji&#8217;un</em>&#8230; Islam bakal tamat dengan adanya seseorang seperti Yazid.&#8221;<a title="" href="#_ftn7">[7]</a> Beliau juga pernah berkata: &#8220;Apakah kalian tidak melihat? Kini kebenaran tidak lagi dilakukan dan kebatilan tidak dicegah sama sekali. Dalam keadaan seperti ini orang yang beriman harus merelakan nyawanya dan mengharapkan perjumpaan dengan Tuhan.&#8221;<a title="" href="#_ftn8">[8]</a></p>
<p>Di depan bahaya besar inilah Imam Husain as harus bangkit dan membela agama kakeknya.</p>
<p>B. Jawaban kedua dapat dijelaskan begini: Bagi Syi&#8217;ah, salah satu dalil diperbolehkannya mengerjakan suatu pekerjaan secara syar&#8217;i adalah perbuatan dan perkataan nabi dan para imam maksum. Kita menjadikan sunah mereka sebagai hujjah dan bukti. Oleh karena itu dengan melihat perjuangan Imam Husain as kita dapat menyimpulkan bahwa &#8220;tidak selamanya&#8221; <em>Amar Makruf Nahi Munkar </em>yang berbahaya itu &#8220;tidak wajib&#8221;, buktinya adalah Imam Husain as sendiri yang melakukannya. Dengan demikian jelas sudah bahwa jika ada kemaslahatan yang lebih besar, maka <em>Amar Makruf Nahi Munkar </em>tidak boleh ditinggalkan, meskipun mengancam harta dan nyawa kita. Dengan demikian kadang kala <em>Amar Makruf Nahi Munkar </em>merupakan suatu kewajiban yang secara pasti harus dilakukan meski seperti apapun bahayanya.</p>
<p>Murtadha Muthahari berkata:</p>
<p>&#8220;Kewajiban <em>Amar Makruf Nahi Munkar </em>selama tidak menimbulkan bahaya sangat jelas sekali dan semua menerimanya. Namun ketika menimbulkan bahaya, mulailah banyak yang berhenti sampai situ saja dan dengan mudahnya mengatakan bahwa kewajiban tersebut gugur karena bakal menimbulkan bahaya jika dilakukan. Padahal dengan cara berfikir seperti ini mereka secara tidak langsung telah melunturkan nilai kewajiban mulia ini. Sebagian yang lain benar berkata bahwa kewajiban <em>Amar Makruf Nahi Munkar </em>tidak seperti yang dibayangkan oleh kebanyakan orang. Ya, memang jika kewajiban itu berkaitan dengan masalah kecil namun beresiko bahaya besar maka kewajiban itu gugur. Namun jika <em>Amar Makruf Nahi Munkar </em>berkenaan dengan Al-Qur&#8217;an dan Islam, maka seperti apapun bahayanya kita tetap wajib menjalankannya&#8230;&#8221;<a title="" href="#_ftn9">[9]</a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Kesimpulannya</strong></p>
<p>Tujuan utama Imam Husain as berjuang di Karbala adalah untuk melakukan <em>Amar Makruf Nahi Munkar</em> demi terjaganya inti agama dan sunah nabi, yang mana hal itu adalah perkara yang sangat penting dalam agama. Beliau bertekat melawan Yazid karena saat itu Islam berada di ambang kehancuran. Oleh karenanya tak ada jalan lain bagi beliau selain menjalankan tugas mulia <em>Amar Makruf Nahi Munkar </em>dan kaidah &#8220;Laa Dharar&#8221; tidak berlaku di situ.</p>
<p>Menurut para fakih pun juga jelas bahwa jika <em>Amar Makruf Nahi Munkar </em>berkenaan dengan hal yang sangat penting sekali dalam agama, maka kewajiban itu harus dijalankan meski harus dengan cara mengorbankan nyawa. Seperti itulah kenyataan tragedi Karbala.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Referensi untuk mengkaji lebih jauh:</strong></p>
<p>1. Murtadha Muthahari, <em>Majmo&#8217;e e Asar</em>, jil. 17.</p>
<p>2. Muhammad Taqi Ja&#8217;fari, <em>Imam Husain as Syahid e Pishro e Farhang e Ensoniyat</em>.</p>
<p>3. <em>Porsesh ha va Pasokh ha ye Daneshjooee</em>, Lembaga Perwakilan Rahbar di Universitas, jil. 13.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Hadits akhir:</strong></p>
<p>Rasulullah saw bersabda: &#8220;Barang siapa melakukan <em>Amar Makruf Nahi Munkar </em>maka ia menjadi khalifah Allah swt dan nabi-Nya di muka bumi.&#8221;<a title="" href="#_ftn10">[10]</a></p>
<p>&nbsp;</p>
<div><br clear="all" /></p>
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref1">[1]</a> <em>&#8220;Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma&#8217;ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.&#8221; </em>(QS. Ali-Imran [3]:110)</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref2">[2]</a> Imam Shadiq as berkata: &#8220;Sesungguhnya <em>Amar Makruf Nahi Munkar </em>adalah jalan para nabi, cara kaum saleh, kewajiban agung yang mana dengannya-lah kewajiban-kewajiban yang lain terlaksana.&#8221; (<em>Wasailus Syi&#8217;ah</em>, jil. 11, hal. 395)</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref3">[3]</a> <em>Tawdhih Al-Masail Maraji&#8217;</em>, jil. 2, hal. 756.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref4">[4]</a> Murtadha Muthahari, <em>Majmoe e Asar</em>, jil. 17, hal. 241.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref5">[5]</a> Ibid, hal. 757.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref6">[6]</a> <em>Tahrir Al-Wasilah</em>, jil. 1, hal. 472.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref7">[7]</a> <em>A&#8217;yan Asy-Syi&#8217;ah</em>, jil. 2, hal. 2; Ibnu Nama Hilli, <em>Matsir Al-Ahzan</em>, hal. 25 dan 26.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref8">[8]</a> <em>Biharul Anwar</em>, jil. 2, hal. 192.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref9">[9]</a> <em>Majmo&#8217;e e Asar</em>, jil. 17, hal. 267.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref10">[10]</a> <em>Mustadrak Al-Wasail</em>, jil. 12, hal. 179, nomor 13817.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p style="text-align: right;"><em>Parto Pajohesh</em></p>
</div>
</div>
<div class='wpfblike' style='height: 40px;'><fb:like href='http://hauzahmaya.ir/2012/05/10/apakah-kewajiban-amar-makruf-gugur-karena-resiko-bahaya/' layout='default' show_faces='true' width='400' action='like' colorscheme='light' send='true' /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hauzahmaya.ir/2012/05/10/apakah-kewajiban-amar-makruf-gugur-karena-resiko-bahaya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Telah ditentukannya kekhalifahan Imam Ali as</title>
		<link>http://hauzahmaya.ir/2012/05/09/telah-ditentukannya-kekhalifahan-imam-ali-as/</link>
		<comments>http://hauzahmaya.ir/2012/05/09/telah-ditentukannya-kekhalifahan-imam-ali-as/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 May 2012 19:02:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hauzah Maya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tanya dan jawab]]></category>
		<category><![CDATA[Abu Bakar]]></category>
		<category><![CDATA[Ali bin Abi Thalib]]></category>
		<category><![CDATA[Imam Ali]]></category>
		<category><![CDATA[kekhalifahan]]></category>
		<category><![CDATA[khalifah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hauzahmaya.ir/?p=2347</guid>
		<description><![CDATA[Jika Imam Ali as memang telah ditunjuk oleh Rasulullah saw untuk menjadi khalifah, lalu mengapa beliau bersedia membai&#8217;at Abu Bakar? Kalau beliau membai&#8217;at Abu Bakar, berarti beliau memang tidak ditentukan nabi sebagai khalifah, atau paling tidak berarti beliau telah menyerahkan haknya kepada orang lain. &#160; Pertanyaan ini memiliki dua sisi: 1. Telah ditentukannya kekhalifahan Imam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://hauzahmaya.ir/wp-content/uploads/2012/05/Telah-ditentukannya-kekhalifahan-Imam-Ali-as.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-2348" title="Telah ditentukannya kekhalifahan Imam Ali as" src="http://hauzahmaya.ir/wp-content/uploads/2012/05/Telah-ditentukannya-kekhalifahan-Imam-Ali-as.jpg" alt="Telah ditentukannya kekhalifahan Imam Ali as" width="573" height="400" /></a></p>
<p><em>Jika Imam Ali as memang telah ditunjuk oleh Rasulullah saw untuk menjadi khalifah, lalu mengapa beliau bersedia membai&#8217;at Abu Bakar? Kalau beliau membai&#8217;at Abu Bakar, berarti beliau memang tidak ditentukan nabi sebagai khalifah, atau paling tidak berarti beliau telah menyerahkan haknya kepada orang lain.</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Pertanyaan ini memiliki dua sisi:</p>
<p>1. Telah ditentukannya kekhalifahan Imam Ali as oleh nabi.</p>
<p>2. Imam Ali as membai&#8217;at Abu Bakar.</p>
<p>Tentang telah ditentukannya kekhalifahan Imam Ali as oleh nabi, dalil-dalilnya sangat banyak dan jelas sekali. Dalil-dalil tersebut tentunya sangat lebih dari cukup bagi orang yang berniat mencari kebenaran tanpa fanatisme. Dalil-dalil tersebut diantaranya adalah:</p>
<p><strong>1. Hadits Yaumul Indzar</strong>: Rasulullah saw sejak hari pertama beliau mengumumkan kenabiannya kepada keluarga besarnya telah menjelaskan kekhalifahan Imam Ali as. Di hari yang dikenal dengan Yaumul Indzar atau Yaumud Daar, dalam ucapan-ucapannya kepada Bani Hasyim beliau berkata: &#8220;Aku diutus oleh Allah swt untuk mengajakmu kepada kebaikan dunia dan akherat. Siapakah di antara kalian yang bersedia untuk membantuku dalam hal ini?&#8221;</p>
<p>Beliau menanyakan hal yang sama sebanyak tiga kali namun tak ada yang menjawab beliau selain Ali bin Abi Thalib as. Dua kali Rasulullah saw memintanya untuk diam, namun kali ketiga beliau menerimanya. Lalu beliau bersabda: &#8220;Ia adalah saudaraku, pewarisku, dan khalifah setelahku di antara kalian. Maka dengarkanlah perkataannya dan taati ia.&#8221;<a title="" href="#_ftn1">[1]</a></p>
<p><strong>2. Hadits Manzilah: </strong>Selain itu sering sekali beliau menjelaskan kepada semua orang tentang kedudukan Imam Ali as baginya. Ungkapan-ungkapan yang beliau gunakan dalam ucapannya menunjukkan bahwa Imam Ali as adalah pengganti sepeninggal beliau. Saat Imam Ali as kesal mendengar ucapan-ucapan orang munafik, beliau mengadukannya kepada Rasulullah saw. Kemudian nabi berkata kepadanya: &#8220;Wahai Ali, tidakkah engkau ridha di sisiku berkedudukan bagai Harun as di sisi Musa as? Hanya saja tidak ada nabi setelahku.&#8221;<a title="" href="#_ftn2">[2]</a> Di riwayat lain disebutkan: &#8220;Bagiku engkau seperti Harun as di sisi Musa as, hanya saja tak ada nabi setelahku.&#8221;<a title="" href="#_ftn3">[3]</a></p>
<p>Dalam hadits tersebut dijelaskan bahwa kedudukan Imam Ali as di sisi nabi bagaikan kedudukan Harun as di sisi Musa as. Jelas jika seandainya dulu nabi Harun as masih hidup, ia pasti menjadi pengganti nabi Musa as.</p>
<p><strong>3. Hadits Tsaqalain: </strong>Beberapa kali Rasulullah saw mengucapkan hadits ini. Beliau bersabda: &#8220;Sesungguhnya aku meninggalkan dua hal berharga bagi kalian yang jika kalian berpegang teguh kepada keduanya kalian tidak akan pernah tersesat selamanya, dan salah satunya lebih agung dari lainnya: Kitab Allah swt, tali yang menjulur dari langit ke bumi, dan yang kedua Ahlul Baitku; keduanya tidak akan berpisah hingga keduanya masuk ke dalam telaga surga. Maka lihatlah bagaimana diri kalian kelak akan bersikap.&#8221;<a title="" href="#_ftn4">[4]</a> Dalam hadits tersebut beliau menjelaskan bahwa Al-Qur&#8217;an adalah pegangan utama umat Islam dan Ahlul-Bait adalah penafsir Al-Qur&#8217;an yang harus dijadikan rujukan. Karena Imam Ali as adalah Ahlul-Bait nabi, hendaknya umat Islam menjadikannya rujukan sepeninggal nabi.</p>
<p><strong>4. Hadits Ghadir: </strong>Begitu juga saat Rasulullah saw berada di Ghadir Khum, setelah beliau meminta kesaksian dari seluruh umat Islam bahwa dirinya lebih dahulu daripada harta dan jiwa mereka, beliau bersabda: &#8220;Barang siapa menjadikanku tuannya, maka hendaknya menjadikan Ali sebagai tuannya pula. Ya Tuhan, tolonglah orang yang menolongnya, dan hinakanlah orang yang menghinanya.&#8221;<a title="" href="#_ftn5">[5]</a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Ahlu Sunah Meragukan Hadits Ghadir</strong></p>
<p>Meskipun Ahlu Sunah dikenal meragukan hadits Ghadir sebagai bukti kekhalifahan Imam Ali as, namun dengan melihat indikasi-indikasi sebelum dan sesudah beliau mengucapkan hadits itu, kenyataannya akan jelas bahwa yang dimaksud &#8220;tuan&#8221; dalam hadits tersebut berarti &#8220;pemimpin&#8221;. Sebelum mengucapkan hadits itu Rasulullah saw meminta kesaksian umatnya: &#8220;Bukankah aku paling berhak atas kalian? Atas jiwa dan harta kalian?&#8221; Setelah semua orang mengiyakan, beliau menyatakan bahwa demikian juga Ali bin Abi Thalib memilki wewenang yang sama sepertinya. Lalu setelah itu nabi berdoa agar melaknat orang yang memusuhi Ali bin Abi Thalib as dan menolong orang yang menolongnya. Nabi juga menjelaskan bahwa mencintai Ali as berarti mencintai Allah swt dan nabi-Nya, memusuhi Ali as juga berarti memusuhi Allah swt dan nabi-Nya. Hal-hal sedemikian rupa membuktikan bahwa maksud Rasulullah dalam hadits Ghadir adalah menyatakan kepada semua orang bahwa Imam Ali as adalah pengganti sepeninggal beliau.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Alasan Imam Ali as membai&#8217;at Abu Bakar</strong></p>
<p>Adapun Imam Ali as membai&#8217;at Abu Bakar, jika itu memang benar, hal itu tidak bertentangan dengan telah ditentukannya kekhalifahan Imam as oleh nabi. Karena tugas beliau adalah memimpin umat; entah beliau diangkat oleh umatnya ataupun tidak, beliau tetap dapat menjalankan tugasnya semaksimal mungkin yang beliau bisa. Imam Ali as membai&#8217;at Abu Bakar karena tidak ingin menimbulkan kericuhan di dalam umat Islam. Karena jika tidak maka kekacauan dan perpecahan tersebut akan digunakan oleh musuh-musuh Islam dari Luar, seperti Roma dan Persia saat itu, untuk menyerang dan menghancurkan Islam. Dengan kebijakan tersebut Imam Ali as dapat menghindari keributan di dalam demi memfokuskan fikiran umat Islam bersama untuk menghadapi bahaya musuh-musuh di luar.</p>
<p>Dalam segala keadaan Imam Ali as rela mengorbankan apapun demi Islam. Bagaikan seorang ibu sejati yang rela mengorbankan nyawanya pun demi anaknya.<a title="" href="#_ftn6">[6]</a> Imam Ali as sendiri berkata: &#8220;Demi Allah, aku sama sekali tidak berfikir bahwa Arab akan merampas kekhalifahan dari tangan Ahlul Bait dan menjauhkannya dariku. Aku melihat mereka berbondong-bondong membai&#8217;at seseorang. Aku pun enggan untuk membai&#8217;atnya. Namun aku melihat ada sekelompok orang yang hendak menghancurkan agama Muhammad saw. Maka aku takut jika aku tidak berbuat apa-apa untuk Islam dan Muslimin maka akan timbul perpecahan di dada Islam, yang mana musibah itu bagiku lebih besar daripada kehilangan kedudukan yang menurut kalian sangat diidamkan.&#8221;<a title="" href="#_ftn7">[7]</a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Untuk mengkaji lebih jauh:</strong></p>
<p>1. Allamah Sayid Muhammad Husain Husaini Thabthabai, <em>Emam Shenashi</em>, penerbit Hekmat, 1421, jil. 4-7.</p>
<p>2. Sayid Syarafuddin Al-Musawi, <em>Rahbari e Emam Ali as Dar Qor&#8217;an va Sonnat</em>, terjemahan Muhammad Ja&#8217;far Emami, Moawenat e Farhanggi Sazman e Tablighat, 1370.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Hadits akhir:</strong></p>
<p>Rasulullah saw bersabda: &#8220;Wahai Bani Hasyim! Sesungguhnya saudaraku, pewarisku, dan penggantiku di antara keluargaku adalah Ali bin Abi Thalib as. Ia yang akan menunaikan hutang-hutangku dan menjalankan tugas-tugasku.&#8221;<a title="" href="#_ftn8">[8]</a></p>
<div><br clear="all" /></p>
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref1">[1]</a> Muhammad bin Jarir Thabari, <em>Tarikh Thabari</em>, jil. 2, hal. 321, Tahkik: Muhammad Abul Fadhl Ibrahim; Abdul Rahman bin Muhammad bin Khuldun, <em>Tarikh Ibnu Khuldun</em>, jil. 1, hal. 647; <em>Al-Kamil</em>, jil. 2, hal. 32.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref2">[2]</a> Abul Hasan Ali bin Muhammad bin Atsir, <em>Usdul Ghabah Fi Ma&#8217;rifati Ash-Shahabah</em>, jil. 3, hal. 601.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref3">[3]</a> Ahmad bin Ali bin Hajar Al-Asqalani, <em>Al-Ishabah fi Tamyiiz Ash-Shahabah</em>, Tahkik: Adil Ahmad Abdul Maujud dan Ali Muhammad Mu&#8217;awidh, jil. 3, hal. 1097; <em>Ahmad bin Yahya bin Jabir Baladzari</em>, Ansab Al Asyraf, Tahkik: Muhammad Hamidullah, jil. 2, hal. 94.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref4">[4]</a> <em>Usdul Ghabah</em>, jil. 1, hal. 490.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref5">[5]</a> Ibid, jil. 1, hal. 439; Abul Fida&#8217; Ismail bin &#8216;Amr bin Katsir Al-Dimashqi, <em>Al-Bidayah wa An-Nihayah</em>, jil. 5, hal. 210.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref6">[6]</a> Di jaman Umar ada dua orang wanita berselisih mengaku seorang bayi sebagai anaknya. Supaya dapat membuktikan siapa ibu anak itu yang sebenarnya, Imam Ali as berencana untuk memotong anak menjadi dua lalu dibagikan tiap potongnya kepada setiap wanita itu. Salah seorang wanita itu bersedia, namun satunya lagi tidak bersedia dan berkata: &#8220;Jangan, lebih baik berikan saja jatahku untuk wanita itu.&#8221; Lalu akhirnya Imam Ali menyatakan bahwa ibu yang tidak bersedia anaknya dipotong itu adalah ibu yang sebenarnya. (<em>Qezavat Haye Mohayerol Oqul</em>, Sayid Hasan Muhsin Amin &#8216;Amili, hal. 37)</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref7">[7]</a> <em>Nahjul Balaghah</em>, Faidz Al-Kashani, surat ke 62.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref8">[8]</a> <em>Amali Thusi</em>, 602/1244.</p>
<p style="text-align: right;">
<p style="text-align: right;"><em>Parto Pajohesh</em></p>
</div>
</div>
<div class='wpfblike' style='height: 40px;'><fb:like href='http://hauzahmaya.ir/2012/05/09/telah-ditentukannya-kekhalifahan-imam-ali-as/' layout='default' show_faces='true' width='400' action='like' colorscheme='light' send='true' /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hauzahmaya.ir/2012/05/09/telah-ditentukannya-kekhalifahan-imam-ali-as/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Alasan Imam Ali as Menolak Dibai&#8217;at</title>
		<link>http://hauzahmaya.ir/2012/05/09/alasan-imam-ali-as-menolak-dibaiat/</link>
		<comments>http://hauzahmaya.ir/2012/05/09/alasan-imam-ali-as-menolak-dibaiat/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 May 2012 12:51:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hauzah Maya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tanya dan jawab]]></category>
		<category><![CDATA[Ali bin Abi Thalib as]]></category>
		<category><![CDATA[bai'at]]></category>
		<category><![CDATA[imam ali as]]></category>
		<category><![CDATA[Nahjul Balaghah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hauzahmaya.ir/?p=2335</guid>
		<description><![CDATA[Mengapa Imam Ali as tidak segera menerima tawaran untuk menjadi khalifah? Bukankah jika beliau menolak berarti ia tidak berhak atas kekhalifahan? &#160; Sepeninggal Rasulullah saw, umat Islam mengalami ikhtilaf dan perpecahan. Sebagian kelompok tidak menghiraukan ucapan-ucapan dan wasiat nabi; mereka memilih pengganti nabi sesuai keinginan mereka sendiri. Padahal Rasulullah saw telah menjelaskan kriteria-kriteria seorang khalifah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://hauzahmaya.ir/wp-content/uploads/2012/05/Alasan-Imam-Ali-as-Menolak-Dibaiat.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-2336" title="Alasan Imam Ali as Menolak Dibai'at" src="http://hauzahmaya.ir/wp-content/uploads/2012/05/Alasan-Imam-Ali-as-Menolak-Dibaiat.jpg" alt="Alasan Imam Ali as Menolak Dibai'at" width="573" height="400" /></a></p>
<p><em>Mengapa Imam Ali as tidak segera menerima tawaran untuk menjadi khalifah? Bukankah jika beliau menolak berarti ia tidak berhak atas kekhalifahan?</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sepeninggal Rasulullah saw, umat Islam mengalami ikhtilaf dan perpecahan. Sebagian kelompok tidak menghiraukan ucapan-ucapan dan wasiat nabi; mereka memilih pengganti nabi sesuai keinginan mereka sendiri. Padahal Rasulullah saw telah menjelaskan kriteria-kriteria seorang khalifah dan siapa khalifah setelahnya. Namun orang-orang yang haus kekuasaan bertindak sesuai keuntungan yang mereka inginkan. Mereka memilih seseorang yang mereka kehendaki tanpa memperdulikan nasib umat Islam secara keseluruhan. Pelencengan umat Islam dimulai dari seseorang seperti Walid yang memimpin shalat shubuh empat rakaat dalam keadaan mabuk.<a title="" href="#_ftn1">[1]</a> Belum lagi harta kekayaan Baitul Mal dihisap sebanyak-banyaknya oleh pihak-pihak tak bertanggung jawab.</p>
<p>Sepeninggal Utsman, umat Islam heboh mendatangi Ali bin Abi Thalib as untuk menjadikannya khalifah. Namun karena kondisi saat itu (akibat ulah khalifah-khalifah sebelumnya) tidak memungkinkan bagi beliau untuk menjadi khalifah yang dapat menegakkan keadilan di tengah-tengah mereka, maka beliau menolak. Imam Ali as sendiri tahu bahwa orang-orang yang telah hidup selama 25 tahun di bawah kepemimpinan yang tidak adil tidak akan mungkin terbiasa dengan pola dan cara Imam Ali as memimpin.</p>
<p>Berikut ini adalah penggalan dari perkataan-perkataan Imam Ali as yang dapat menjelaskan seperti apa kondisi umat Islam saat itu.</p>
<p>Dalam khutbahnya Imam Ali as bercerita bahwa ketika orang-orang berdatangan ke rumahnya untuk membai&#8217;atnya, beliau berkata: &#8220;Tinggalkanlah aku. Carilah orang lain. Karena kejadian-kejadian yang bermacam-macam dan tak jelas akan mendatangi kita. Kondisi sangat membingungkan dan rumit. Hati-hati tidak tetap dalam masalah ini dan akal-akal tidak tegas. Awan-awan kebejatan beterbangan di langit-langit dunia Islam dan membuatnya gelap. Jalan yang benar telah tertutupi dan menjadi samar. Jika aku menerima tawaran kalian ini, aku akan bertindak sesuai apa yang kuanggap benar dan aku tidak akan mendengar kata-kata siapa saja yang mencaci dan mencemoohku.&#8221;<a title="" href="#_ftn2">[2]</a></p>
<p>Maksud Imam Ali as adalah: Aku akan selalu bertindak sesuai yang dipesan oleh Rasulullah saw untuk membagikan kekayaan Baitul Mal secara merata kepada siapapun, baik Arab maupun Ajam, baik kulit putih maupun kulit hitam. Namun bagaimana hal itu akan kulakukan? Sedang kalian sudah terbiasa dengan perilaku khalifah-khalifah sebelumnya; terbiasa dengan suap dan uang haram. Maka pergilah dan carilah orang selainku!<a title="" href="#_ftn3">[3]</a></p>
<p>Ibnu Abil Hadid, yang merupakan pensyarah Nahjul Balaghah, di permulaan khutbah ini mengisyarahkan bahwa jika Imam Ali as memang khalifah yang ditunjuk nabi untuk menggantikannya, maka ia tidak layak untuk berkata: &#8220;Tinggalkanlah aku dan carilah selainku.&#8221; Lalu ia berkata: &#8220;Ucapan Ali bin Abi Thalib as itu (khutbah terkait) memiliki kedalaman yang sangat dan merupakan kabar ghaib yang mana semua orang saat itu tidak tahu. Kabar itu berkaitan dengan perang-perang umat Islam dan timbulnya fitnah-fitnah besar (di kekhalifahan beliau).</p>
<p>Sejarah mencatat bahwa sepeninggal Utsman mereka berkumpul di Masjid dan menceritakan keutamaan-keutamaan imam Ali as untuk memprovokasi pembai&#8217;atan Imam Ali as. Akhirnya Imam Ali as pun dibai&#8217;at. Setelah itu beliau memuji Tuhan di atas mimbarnya lalu berkata: &#8220;Wahai umat! Kalian tahu posisiku sama dengan posisi nabi. Aku tidak akan melenceng dari jalurnya. Nabi berkata bahwa penggantinya yang akan membimbing umat melewati jalan yang lurus akan ditolong dengan malaikat. Namun jika ada yang merebut kepemimpinan dan menggiring umat manusia menuju kebatilan maka akhir nasib mereka adalah api neraka.&#8221;</p>
<p>Setelah menyinggung masalah bai&#8217;at tersebut, Ibnu Abil Hadid menceritakan masalah pembagian harta Baitul Mal. Ia berkata: &#8220;Sejak awalnya sudah ada orang-orang yang mencemooh Ali bin Abi Thalib as karena ia tidak membeda-bedakan antara budak, pemilik budak dan orang berkedudukan dalam pembagian harta. Mulailah mereka membawa-bawa nama para khalifah-khalifah sebelumnya. Di sinilah hikmah perkataan Imam Ali as dulu mulai menjadi nyata; dulu saat beliau berkata: &#8220;Carilah orang selainku.&#8221;<a title="" href="#_ftn4">[4]</a></p>
<p>Sebagaimana yang dijelaskan Ibnu Abil Hadid dalam kitabnya itu, bahwa Imam Ali as sama sekali tidak memiliki keraguan akan kekhalifahan adalah haknya. Namun ia meragukan kesiapan umat yang telah terbiasa dengan pemerintahan yang tak adil; karena begitu Imam Ali as menerima bai&#8217;at maka ia akan bertekat untuk mendirikan keadilan setegak-tegaknya meskipun semua orang menentangnya.</p>
<p>Dalam bagian khutbahnya yang lain ia berkata: &#8220;Aku sebenarnya tidak mau menerima kekhalifahan itu. Namun semua orang mengerumuniku dan saling ribut sendiri, sampai-sampai aku mengira mereka saling membunuh satu sama lain. Akhirnya aku pun merombak kekhalifahan dan merubah arahnya; sampai rasa kantuk tak pernah menghampiriku.&#8221;</p>
<p>Beliau juga pernah berkata: &#8220;Sumpah demi Tuhan yang telah memecah biji-bijian dan menciptakan manusia! Semua orang mendatangiku dan ingim membai&#8217;atku. Telah sempurna Hujjah Tuhan atasku. Jika bukan karena Allah swt meminta orang yang berakal untuk tidak tinggal diam melihat kerusakan, maka aku sudah meninggalkan kekhalifahan dari sejak lama. Dan kalian tahu dengan baik bahwa dunia kalian bagiku lebih tak berharga dari ingus kambing.&#8221;<a title="" href="#_ftn5">[5]</a></p>
<p>Dari apa yang dikatakan oleh beliau dapat kita simpulkan bahwa umat Islam saat itu tidak memiliki kapabilitas untuk menjalankan kehidupan dengan pemerintahan yang adil dan beliau sama sekali tidak menunjukkan keridhaan terhadap pemerintahan yang telah ada. Namun karena tak ada cara lain yang lebih baik untuk umatnya, akhirnya beliau menerima dibai&#8217;at.</p>
<p>Peristiwa-peristiwa yang terjadi di masa pemerintahan beliau membuktikan betapa tajam pandangan beliau sejak sebelumnya tentang keadaan umat Islam saat itu. Akhirnya banyak yang melanggar bai&#8217;atnya sendiri dan terus memusuhi Imam Ali as sampai beliau wafat. Segala kekacauan yang telah beliau perkirakan itu yang membuatnya enggan dibai&#8217;at. Padahal jika bicara tentang hak, jelas kekhalifahan adalah hak beliau. Beliau tidak pernah mundur membela hak-haknya; seperti halnya dalam peristiwa 6 calon penganti Umar dan sebelum terbunuhnya Utsman, beliau menekankan bahwa kekhalifahan adalah hak beliau.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Referensi untuk mengkaji lebih jauh:</strong></p>
<p>1. Nadzem Zade Qomi, <em>Mazhar e Welayat</em>.</p>
<p>2. Muhammad Taqi Ja&#8217;fari, <em>Syarah Nahjul Balaghah</em>, jil. 16.</p>
<p>3. Nashir Makarim Syirazi, <em>Payam e Amirul Mu&#8217;minin as</em>, jil. 3.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Hadits akhir:</strong></p>
<p>Rasulullah saw menunjuk Ali bin Abi Thalib as dengan jarinya seraya bersabda: &#8220;Ia adalah saudaraku, pewarisku, dan penggantiku di tengah-tengah kalian. Dengarkanlah perintahnya dan taatilah ia.&#8221;<a title="" href="#_ftn6">[6]</a></p>
<div><br clear="all" /></p>
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref1">[1]</a> <em>Ghiyats Al-Din</em>, Habib As-Saiyr, jil. 1, hal. 498.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref2">[2]</a> <em>Nahjul Balaghah</em>, khutbah 92.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref3">[3]</a> Muhammad Taqi Ja&#8217;fari, <em>Tarjome va Syarh e Nahjul Balaghah</em>, jil. 16, hal. 90 dan 91.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref4">[4]</a> Ibnu Abil Hadid, <em>Syarah Nahjul Balaghah</em>, jil. 8 dan 7.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref5">[5]</a> <em>Nahjul Balaghah</em>, khutbah 54.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref6">[6]</a> Muhammad Taqi Hindi, <em>Kanzul Ummal</em>, 36419.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p style="text-align: right;"><em>Parto Pajohesh</em></p>
</div>
</div>
<div class='wpfblike' style='height: 40px;'><fb:like href='http://hauzahmaya.ir/2012/05/09/alasan-imam-ali-as-menolak-dibaiat/' layout='default' show_faces='true' width='400' action='like' colorscheme='light' send='true' /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hauzahmaya.ir/2012/05/09/alasan-imam-ali-as-menolak-dibaiat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dibelahnya Dada Rasulullah saw: Fakta atau Fiksi?</title>
		<link>http://hauzahmaya.ir/2012/05/09/dibelahnya-dada-rasulullah-saw-fakta-atau-fiksi-2/</link>
		<comments>http://hauzahmaya.ir/2012/05/09/dibelahnya-dada-rasulullah-saw-fakta-atau-fiksi-2/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 May 2012 07:15:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hauzah Maya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tanya dan jawab]]></category>
		<category><![CDATA[dibelahnya dada nabi]]></category>
		<category><![CDATA[kemaksuman]]></category>
		<category><![CDATA[syubhat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hauzahmaya.ir/?p=2329</guid>
		<description><![CDATA[Apa benar dada Rasulullah saw pernah dibelah? Jika memang benar, apakah hal itu tidak bertentangan dengan kemaksuman beliau? &#160; Cerita tentang dibelahnya dada Rasulullah saw yang sering kita dengar ternyata hanyalah kisah bohong belaka. Dalam pembahasan ini kita akan membuktikan kebohongan riwayat tersebut. &#160; Kisah Dibelahnya Dada Nabi Anas bin Malik menukil: &#8220;Di masa kanak-kanak, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://hauzahmaya.ir/wp-content/uploads/2012/05/Dibelahnya-Dada-Rasulullah-saw-Fakta-atau-Fiksi.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-2331" title="Dibelahnya Dada Rasulullah saw, Fakta atau Fiksi" src="http://hauzahmaya.ir/wp-content/uploads/2012/05/Dibelahnya-Dada-Rasulullah-saw-Fakta-atau-Fiksi.jpg" alt="Dibelahnya Dada Rasulullah saw: Fakta atau Fiksi" width="573" height="400" /></a></p>
<p><em>Apa benar dada Rasulullah saw pernah dibelah? Jika memang benar, apakah hal itu tidak bertentangan dengan kemaksuman beliau?</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Cerita tentang dibelahnya dada Rasulullah saw yang sering kita dengar ternyata hanyalah kisah bohong belaka. Dalam pembahasan ini kita akan membuktikan kebohongan riwayat tersebut.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Kisah Dibelahnya Dada Nabi</strong></p>
<p>Anas bin Malik menukil: &#8220;Di masa kanak-kanak, pada suatu hari Rasulullah saw bermain-main dengan anak-anak Bani Sa&#8217;ad. Jibril mendatanginya, lalu mentengkurapkannya, lalu membelah dadanya. Ia mengambil jantung nabi, lalu membersihkannya dari lumuran darah dan berkata: &#8220;Ini adalah bagian setan dari dirimu.&#8221; Lalu ia mencuci jantung itu dengan air zamzam kemudian mengembalikannya ke tempat semula. Anak-anak lainnya berlari ke rumah Halimah dan berkata kepadanya bahwa Muhammad telah dibunuh. Mereka juga mengerumuni Muhammad dan melihatnya berwajah pucat. Anas berkata: &#8220;Aku melihat bekas belahan itu di dada Rasulullah saw.&#8221;<a title="" href="#_ftn1">[1]</a> Kejadian ini menyebabkan Rasulullah saw dikembalikan ke Madinah ke sisi ibunya.<a title="" href="#_ftn2">[2]</a></p>
<p>Riwayat ini disebutkan dalam kebanyakan referensi hadits Ahlu Sunah. Bukannya ada yang mengkritik hadits ini, malahan ada yang berkata bahwa peristiwa tersebut terulang sebanyak lima kali; keempatnya disepakati, dan satu kalinya banyak pendapat berbeda-beda tentangnya. Kali pertamanya di usia ke-3 tahun Rasulullah saw, kali kedua di usia 10 tahun, kali ketiga di saat diutusnya nabi, dan di saat perjalanan Mi&#8217;raj.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Referensi riwayat</strong></p>
<p>Sayang sekali riwayat tersebut seringkali disebut dalam buku-buku sejarah. Hal itu membuat citra Rasulullah saw tercoreng di benak dan fikiran para intelektual dan ilmuan dunia lainnya yang membacanya karena jelas tak masuk akal. Riwayat itu pula yang disalah gunakan oleh orang-orang yang berniat buruk terhadap Rasulullah saw dengan mengolok dan menghinanya.</p>
<p>Tentang referensi-referensi riwayat di atas, sebagai contoh, perhatikan beberapa referensi berikut ini:</p>
<p><em>Shahih Muslim</em>, jil. 1, Kitab Iman, bab 74, hadits 260-263; <em>Shahih Bukhari</em>, jil. 1, Kitab Sholat, bab 242, jil. 2, Kita Anbiya, bab 901 dan&#8230;; <em>Sirah Nabawiyah</em>, Ibnu Hisyam, jil. 1; <em>Tarikh Thabari</em>; <em>Muruj Adz-Dzahab </em>Mas&#8217;udi.</p>
<p>Kebanyakan penulis menganggap hal itu sebagai mukjizat nabi dan menunjukkan bahwa sejak awal Tuhan telah menjadikan beliau sebagai hamba yang spesial dengan cara demikian. Dengan itu Tuhan telah membersihkan nabi dari dosa dan kesalahan. Sebagaimana sebagian ahli tafsir menganggap bear riwayat tersebut dan menafsirkan ayat-ayat pertama surah Al-Insyirah dengan penafsiran ini. Namun di sisi lain akibat adanya riwayat ini banyak sekali kritikan-kritikan yang tertuju pada keagungan Rasulullah saw. Orang-orang yang memusuhi Islam menjadikan riwayat sedemikian rupa sebagai senjata untuk menjatuhkan Islam. Bagaimana tidak, semua orang yang berakal pasti terheran-heran membaca riwayat tersebut. Allamah Majlisi dalam <em>Biharul Anwar </em>meskipun membenarkan sanad riwayatnya, namun ia terheran-heran dan tidak bisa meyakini kebenaran kandungan riwayat itu.<a title="" href="#_ftn3">[3]</a></p>
<p>Sayang sekali riwayat-riwayat ini banyak sekali ditemukan dalam buku-buku sejarah dan tafsir umat Islam yang akhirnya sering dikritik oleh berbagai pihak. Seandainya tidak ada riwayat-riwayat ini, pasti citra Rasulullah saw dan Al-Qur&#8217;an akan terjaga. Tidak akan ada buku-buku seperti Ayat-Ayat Setan yang ditulis Salman Rushdi. Andai referensi-referensi terpercaya Islam bersih dari segala hadits-hadits dan riwayat seperti ini.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Bukti tidak benarnya riwayat</strong></p>
<p>Salah satu ketidak benaran riwayat di atas, adalah karena peristiwa tersebut dijadikan alasan mengapa Rasulullah saw dikembalikan kepada ibunya, Aminah. Mereka meriwayatkan bahwa seusai peristiwa itu, suami Halimah berkata kepada istrinya: &#8220;Karena peristiwa ini kita harus mengembalikan Muhammad kepada keluarganya.&#8221;<a title="" href="#_ftn4">[4]</a> Padahal dalam sumber-sumber yang terpercaya juga disebutkan bahwa sebab dikembalikannya Rasulullah saw bukanlah peristiwa itu, namun hal lain. Diriwayatkan bahwa pada suatu hari sekelompok orang Kristen datang dari Habasyah dan sangat memperhatikan Muhammad saw secara seksama lalu meminta Halimah untuk memberikan anak itu untuk dibawa ke Habasyah. Halimah khawatir lalu oleh karenanya ia mengembalikan Muhammad saw kepada keluarganya.<a title="" href="#_ftn5">[5]</a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Pertentangan dalam waktu dikembalikannya Rasulullah saw</strong></p>
<p>Menurut riwayat dibelahnya dada nabi itu, Rasulullah saw dikembalikan kepada keluarganya saat berusia tiga tahun. Padahal di riwayat-riwayat lainnya disebutkan bahwa nabi Muhammad saw terus bersama Halimah sampai berusia lima tahun. Jika riwayat itu benar, maka bagaimana bisa beliau terus bersama Halimah salpai berusia lima tahun?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Ikhtilaf dalam penukilan riwayat</strong></p>
<p>Di sebagian riwayat disebutkan bahwa malaikat-malaikat itu berjumlah dua orang dengan berpakaian warna putih. Namun di riwayat lainnya disebutkan ada tiga malaikat yang mendatangi beliau. Dalam teks sebagian riwayat dijelaskan bahwa saat itu Rasulullah saw sedang sibuk bersama saudaranya menggembala kambing, lalu malaikat-malikat itu datang. Padahal dalam riwayat lainnya disebutkan saat itu Rasulullah saw sedang bermain dengan teman-teman sebayanya. Sebagian riwayat menjelaskan bahwa jantung nabi dicuci dengan air zamzam, namun di riwayat lainnya disebutkan bahwa dicuci dengan es dan gumpalan salju. Dan masih banyak lagi&#8230;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Tidak ada kaitannya badan materi dengan kebaikan dan keburukan</strong></p>
<p>Sebenarnya bagaimana bisa segumpal darah berhubungan langsung dengan kebaikan dan keburukan? Kebaikan dan keburukan, hidayah dan kesucian, semunya berkaitan dengan spiritualitas, bukan badan materi. Seseorang tidak bisa menjadi baik hanya karena dadanya dibelah dan jantungnya dicuci dengan air. Jika hal itu masuk akal, maka seharusnya siapapun bisa dibelah dadanya dan dicuci jantungnya agar menjadi orang baik? Padahal tidak, dan hal itu sama sekali tak masuk akal.</p>
<p>Disebutkan dalam riwayat-riwayat tersebut bahwa peristiwa tersebut terulang sebanyak empat atau lima kali di saat-saat yang berbeda. Aneh sekali, mengapa terkesan seperti oprasi kanker yang tak kunjung sembuh? Sehingga dada beliau harus dibelah berkali-kali. Jika memang dibelahnya dada nabi bertujuan agar setan tidak bisa lagi mengganggu nabi Muhammad saw, maka seharusnya sekali saja cukup dan kali pertama itu ampuh. Lalu mengapa harus diulang? Berarti hal itu tidak manjur dan setan tetap saja bisa menganggu beliau sehingga harus dilakukan berkali-kali?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Bertentangan dengan hikmah Ilahi</strong></p>
<p>lagi pula apakah Tuhan tidak mampu mencapai tujuan-Nya tanpa melakukan pembelahan dada? Pasti Tuhan mampu. Lalu untuk apa Ia harus membelah dada nabi, itu pun di depan mata anak-anak kecil?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Tidak adanya kehendak dan ikhtiar nabi</strong></p>
<p>Jika riwayat itu benar, maka setiap perbuatan baik yang dilakukan oleh nabi bukanlah atas kehendaknya sendiri. Karena nabi tidak bisa melakukan apapun selain kebaikan. Padahal nabi atas kehendaknya sendiri bergegas mensucikan jiwa dan selalu mendekatkan diri kepada Allah swt hingga beliau diangkat menjadi nabi. Jika riwayat itu benar, dan jika nabi tidak berikhtiar dalam kebaikan-kebaikannya, maka apa keistimewaan nabi?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Bertentangan dengan ayat-ayat Al-Qur&#8217;an</strong></p>
<p>Allah swt dalam berbagai ayat-Nya menjelaskan bahwa setan tidak kuasa untuk menganggu hamba-hamba Allah swt yang diridhai-Nya. Ia berfirman: <em>&#8220;Iblis berkata: &#8220;Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan ma&#8217;siat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis di antara mereka.&#8221; Allah berfirman: &#8220;Ini adalah jalan yang lurus, kewajiban Aku-lah (menjaganya). Sesungguhnya hamba-hamba-Ku tidak ada kekuasaan bagimu terhadap mereka, kecuali orang-orang yang mengikut kamu, yaitu orang-orang yang sesat.&#8221; </em>(QS. Al-Hijr [15]:42)</p>
<p><em>&#8220;Sesungguhnya hamba-hamba-Ku, kamu tidak dapat berkuasa atas mereka. Dan cukuplah Tuhan-mu sebagai Penjaga.&#8221;</em> (QS. Al-Isra&#8217; [17]:65)</p>
<p><em>&#8220;Sesungguhnya syaitan itu tidak ada kekuasaannya atas orang-orang yang beriman dan bertawakkal kepada Tuhannya.&#8221;</em> (QS. An-Nahl [16]:99)</p>
<p>Secara pasti kami nyatakan bahwa nabi adalah orang yang imannya paling tinggi di antara hamba-hamba lainnya, begitu pula tingkat tawakalnya. Jika kita meyakini kebenaran riwayat pembelahan dada di atas, berarti keyakinan kita bertentangan dengan ayat-ayat yang telah disebutkan tadi.</p>
<p>Peristiwa yang diada-ada itu bukanlah mukjizat nabi. Bagaimana mungkin suatu mukjizat juga terjadi untuk seorang musyrik seperti Umayyah bin Abi Shilat? Itu pun tidak hanya sekali dua kali, namun empat kali. Umayyah bin Abi Shilat adalah penyair Arab, yang menurut para ahli sejarah ia sama sekali tidak memeluk Islam dan hidup hingga tahun ke-9 Hijriah. Ia adalah orang yang membacakan puisi-puisi kebanggaan untuk orang-orang kafir yang mati di medan perang melawan Muslimin.<a title="" href="#_ftn6">[6]</a> Ia tahu bahwa di Hijaz akan ada seorang nabi. Ia berharap nabi itu adalah dirinya. Namun ternyata bukan, dan ia sangat hasud terhadap Rasulullah saw. Oleh karena itu Allah menurunkan ayat ini: <em>&#8220;Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuan tentang isi Al Kitab), kemudian dia melepaskan diri dari pada ayat-ayat itu, lalu dia diikuti oleh syaitan (sampai dia tergoda), maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat.&#8221;</em> (QS. Al-A&#8217;raf [7]: 175)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Kenyataannya</strong></p>
<p>Sepertinya riwayat tentang kisah palsu pembelahan dada nabi terilhami dongeng kuno jaman jahiliah yang sama sekali tidak ada kenyataannya. Dalam kitab <em>Al-Aghani Al-Isfahani</em>,<a title="" href="#_ftn7">[7]</a> dongeng-dongeng serupa juga dijelaskan berkenaan dengan Umayyah bin Abi Shilat yang ringkasnya demikian: Umayyah saat itu sedang tidur lalu datang dua ekor burung. Satu ekor hinggap di atas kepalanya, dan satunya lagi masuk ke rumah lalu kembali kemudian membelah dadanya, dan mengeluarkan jantungnya, kemudian mengembalikannya lagi. Burung kedua bertanya kepada burung pertama: &#8220;Apakah ia faham?&#8221; Dijawabnya, &#8220;Ya.&#8221; Lalu bertanya lagi, &#8220;Apakah sudah bersih?&#8221; Dijawab, &#8220;Ia menolak.&#8221;</p>
<p>Menurut riwayat yang lain, Umayyah pergi ke rumah saudarinya lalu tidur di pojok rumah. Perawi berkata: &#8220;Atap rumah itu terbelah lalu datang dua ekor burung. Salah satunya hinggap di dadanya dan satunya tetap berada di atas. Burung yang hinggap di dadanya membelah dada Umayyah lalu mengeluarkan jantungnya. Burung kedua bertanya, &#8220;Apakah ia tahu?&#8221; Ia menjawab, &#8220;Ya, ia tahu.&#8221; Lalu ditanya, &#8220;Apakah ia menerima?&#8221; Dijawabnya, &#8220;Ia menolak.&#8221;" Berdasarkan riwayat tersebut, peristiwa itu berulang sampai empat kali.</p>
<p>Mungkin tujuan diceritakannya kisah bohong itu untuk mengagungkan derajat penyair Arab tersebut. Supaya mereka dapat berkata: &#8220;Syair-syair tinggi Umayyah dikarenakan banyaknya peristiwa-peristiwa menakjubkan yang terjadi padanya.&#8221; Akhirnya hal yang sama mereka lakukan untuk nabi Muhammad saw. Yang kemudian mulut ke mulut cerita tersebut sampai ke semua orang, kemudian di masa penulisan hadits kisah fiksi tersebut dianggap sebagai mukjizat nabi.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Referensi untuk mengkaji lebih jauh:</strong></p>
<p>1. <em>Ash-Shahih Min Sirat An-Nabi Al-A&#8217;dzam</em>, Sayid Ja&#8217;far Murtadha Amili, jil. 2.</p>
<p>2. <em>Tarikh e Tahqiqi e Islam</em>, Yusefi Gharawi, jil. 1.</p>
<p>3. <em>Pajohesh va Tahqiq e Nouw Dar Sire e Nabi A&#8217;dzam</em>, sekumpulan penulis, di bawah pengawasan Husain Ibrahimi, penerbit Nur Tsaqalain.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Hadits akhir:</strong></p>
<p>Rasulullah saw bersabda: &#8220;Janganlah memuji diri sendiri. Aku adalah tuannya anak-anak Adam as.&#8221;<a title="" href="#_ftn8">[8]</a></p>
<div><br clear="all" /></p>
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref1">[1]</a> Qusyairi Neisyaburi, Muslim bin Hujjaj, <em>Shahih Muslim</em>, jil. 1, hal. 147-148.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref2">[2]</a> Ibnu Hisyam, <em>Sirah Nabawiah</em>, tahkik: Mustafha Saqa&#8217;, Ibrahim Alabyari, Abdul Hafiz Syalbi, jil. 1, hal. 177.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref3">[3]</a> <em>Biharul Anwar</em>, jil. 16, hal. 140.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref4">[4]</a> <em>Sirah Ibnu Hisyam</em>, jil. 1, hal. 177.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref5">[5]</a> Ibid; <em>Tarikh Thabari</em>, jil. 1, hal. 575.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref6">[6]</a> Abul Faraj Isfahani, <em>Al-Aghani</em>, jil. 4, hal. 120-133; Ahmad bin Ali bin Hajar Al-Asqalani, <em>Al-Ishabah fi Tamyiiz Al-Shahabah</em>, Tahkik: Syaikh Adil Ahmad Abdul Maujud dan Syaikh Ali Muhammad Muawidh, jil. 1, hal. 384-387.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref7">[7]</a> Abul Faraj Isfahani, <em>Al-Aghani</em>, jil. 4, hal. 120-133.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref8">[8]</a> <em>Biharul Anwar</em>, jil. 8, hal. 48.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p style="text-align: right;"><em>Parto Pajohesh</em></p>
</div>
</div>
<div class='wpfblike' style='height: 40px;'><fb:like href='http://hauzahmaya.ir/2012/05/09/dibelahnya-dada-rasulullah-saw-fakta-atau-fiksi-2/' layout='default' show_faces='true' width='400' action='like' colorscheme='light' send='true' /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hauzahmaya.ir/2012/05/09/dibelahnya-dada-rasulullah-saw-fakta-atau-fiksi-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Islam dan Keterbelakangan?</title>
		<link>http://hauzahmaya.ir/2012/05/07/islam-dan-keterbelakangan/</link>
		<comments>http://hauzahmaya.ir/2012/05/07/islam-dan-keterbelakangan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 07 May 2012 19:18:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hauzah Maya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Utama]]></category>
		<category><![CDATA[Tanya dan jawab]]></category>
		<category><![CDATA[Islam dan kemajuan]]></category>
		<category><![CDATA[Islam dan kemiskinan]]></category>
		<category><![CDATA[Islam dan keterbelakangan]]></category>
		<category><![CDATA[Islam dan modernitas]]></category>
		<category><![CDATA[kefakiran]]></category>
		<category><![CDATA[kemajuan]]></category>
		<category><![CDATA[kemiskinan]]></category>
		<category><![CDATA[keterbelakangan]]></category>
		<category><![CDATA[modernitas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hauzahmaya.ir/?p=2322</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan Benarkah Islam menghambat perkembangan dan kemajuan? &#160; Penjelasan Jika kita memperhatikan kehidupan masyarakat dunia, kita melihat bahwa negara-negara non-Muslim memiliki kemajuan dan perkembangan yang pesat, menguasai teknologi terbaru, penduduknya pun hidup dengan sejahtera dan memiliki apapun yang mereka butuhkan dalam kehidupannya. Adapun negara-negara Islami, penuh dengan pertikaian, tak aman, kemiskinan, kesengsaraan, dan tidak memiliki [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://hauzahmaya.ir/wp-content/uploads/2012/05/Islam-dan-Keterbelakangan.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-2323" title="Islam dan Keterbelakangan" src="http://hauzahmaya.ir/wp-content/uploads/2012/05/Islam-dan-Keterbelakangan.jpg" alt="Islam dan Keterbelakangan" width="573" height="400" /></a></p>
<p><strong>Pertanyaan</strong></p>
<p><em>Benarkah Islam menghambat perkembangan dan kemajuan?</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Penjelasan</strong></p>
<p>Jika kita memperhatikan kehidupan masyarakat dunia, kita melihat bahwa negara-negara non-Muslim memiliki kemajuan dan perkembangan yang pesat, menguasai teknologi terbaru, penduduknya pun hidup dengan sejahtera dan memiliki apapun yang mereka butuhkan dalam kehidupannya. Adapun negara-negara Islami, penuh dengan pertikaian, tak aman, kemiskinan, kesengsaraan, dan tidak memiliki fasilitas-fasilitas yang memadai. Oleh karena itu Islam adalah hambatan kemajuan.</p>
<p>Untuk menjawab pertanyaan di atas, sebelumnya kita harus menjelaskan tiga masalah di bawah ini:</p>
<p>1. Yang dimaksud kemajuan dalam kehidupan dunia adalah memiliki perlengkapan dan fasilitas-fasilitas yang dapat mensejahterakan kehidupan; misalnya: rumah yang bagus, mobil terbaru, sarana komunikasi canggih, fasilitas terbaik pendidikan, fasilitas kesehatan, kota yang elok dan bersih, sarana dan prasarana kehidupan kota, dan lain sebagainya yang dimiliki oleh negara-negara maju dan hidup masyarakatnya berjalan secara praktis dan otomatis.</p>
<p>2. Menurut para ilmuan dan sosiolog, faktor kemajuan diantaranya adalah: keamanan, persatuan, kerjasama, ilmu pengetahuan, kerja keras dan kegigihan dalam berusaha.<a title="" href="#_ftn1">[1]</a></p>
<p>3. Yang dimaksud dengan Islam adalah agama Islam, bukanlah perilaku dan perbuatan orang-orang yang memeluk ajaran ini serta keputusan-keputusan pemimpinnya. Agama adalah: kumpulan keyakinan-keyakinan, etika, peraturan-peraturan yang diperuntukkan untuk individu dan sosial yang berguna untuk mengatur serta mendidik mereka yang semuanya bersumber dari wahyu dan akal.<a title="" href="#_ftn2">[2]</a></p>
<p>Berdasarkan definisi di atas, agama adalah apa yang diturunkan dari sisi Tuhan dan sumbernya adalah teks-teks agama dan akal manusia. Teks-teks agama adalah Al-Qur&#8217;an dan sunah Rasulullah saw serta para imam maksum. Oleh karena itu Islam adalah apa yang ada di Qur&#8217;an dan Sunah bukan apa yang dikerjakan oleh kebanyakan Muslimin.</p>
<p>Sekarang sudah jelas apa maksud kemajuan, faktor kemajuan dan apa itu Islam. Maka kini kita harus menengok teks-teks agama, mari kita kaji bagaimana Islam memandang kemajuan ini? Apakah Islam benar-benar bertentangan dengan kemajuan?</p>
<p>Secara sekilas kita akan membahas faktor-faktor kemajuan menurut Islam sesuai yang ada dalam teks-teks agama dan seperti apa pentingnya posisi faktor-faktor tersebut bagi agama. Yang jelas jika kita ingin membahas lebih dalam maka perlu kesempatan yang lebih banyak pula. Di sini kita akan membahas permasalahan tersebut sesuai dengan apa yang kita butuhkan dalam pembahasan ini.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Kemanan dan ketenangan</strong></p>
<p>Ketenangan adalah pondasi penting bagi kemajuan. Jika dalam kehidupan sosial kemanan tidak terjamin, maka kecil kemungkinannya masyarakat akan menimba ilmu, bekerja sama, dan merealisasikan potensi-potensi mereka; karena tidak ada keamanan yang dijamin untuk aktifitas mereka. Jika lingkungan tidak aman, justru yang terjadi adalah sebaliknya: dekadensi dan keterbelakangan; tak mungkin masyarakat yang kehidupannya tidak tentram dapat maju dan berkembang.</p>
<p>Islam dengan ajaran-ajaran mulianya memerintahkan umat manusia untuk memperhatikan hak-hak orang lain, menghormati harta benda dan nyawa sesamanya. Islam melarang kita untuk merampas hak-hak tertentu dari pemiliknya. Rasulullah saw bersabda: &#8220;Wahai manusia, harta benda dan nyawa kalian adalah haram bagi satu sama lain.&#8221;<a title="" href="#_ftn3">[3]</a></p>
<p>Islam melarang segala bentuk dan pelanggaran hak-hak sesama dan mengancam pelakunya dengan adzab siksa yang sangat pedih di akhirat. Tak hanya mengancam saja, namun Islam juga menjatuhkan hukuman bagi para perusak keamanan di dunia ini; misalnya pencuri harus dipotong tangannya, teroris yang menyebarkan ketidak amanan harus digantung, pelaku perbuatan asusila seperti zina dan penyelewengan seksual harus dirajam atau dicambuk, dan pelaku pembunuhan harus dibunuh juga (hukuman <em>qishash</em>). Orang yang lancang terhadap harta benda dan juga kehormatan orang lain dianggap sebagai pelaku kejahatan yang harus dihukum dengan hukuman-hukuman tertentu.<a title="" href="#_ftn4">[4]</a> Semua ketentuan-ketentuan ini diberlakukan oleh Islam demi terwujudnya keamanan di tengah-tengah masyarakat.</p>
<p>Selain keamanan internal, Islam juga mementingkan keamanan masyarakat Islami dari gangguan musuh-musuh luar. Islam melarang kita untuk diam saja dikuasai oleh musuh. Allah swt berfirman: <em>&#8220;dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk memusnahkan orang-orang yang beriman.&#8221;</em> (QS. An-Nisaa&#8217; [4]:141) Ada sebuh hadits yang diriwayatkan baik oleh kalangan Syiah maupun Suni, yang berbunyi bahwa Islam adalah yang paling tinggi.<a title="" href="#_ftn5">[5]</a> Al-Qur&#8217;an melarang kita untuk berteman dengan orang-orang Kafir yang sekiranya dapat menyebabkan kita diserang oleh musuh dari luar. Allah swt berfirman: <em>&#8220;Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu)&#8221;</em> (QS. Al-Ma&#8217;idah [5]:51) Ia juga berfirman: <em>&#8220;Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya&#8221;</em> (QS. Al-Anfaal [8]:51) Yang dimaksud dengan kekuatan dalam ayat tersebut adalah segala hal yang berkaitan dengan kemampuan, seperti kemampuan ilmiah, ekonomi, militer, politik, budaya, yang sesuai dengan kebutuhan jaman demi terjaminnya keamanan dan kemerdekaan bangsa.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Persatuan dan kesatuan masyarakat</strong></p>
<p>Persatuan adalah salah satu faktor kemajuan yang tidak dapat diingkari. Masyarakat yang bersatu bersama-sama akan bergerak menuju kemajuan. Banyak sekali bukti-bukti sejarah berkenaan dengan hal ini. Islam sebagai agama yang sempurna juga sangat menekankan persatuan. Islam menyebut seluruh umat Islam di manapun mereka berada dan apapun warna kulit mereka sebagai &#8220;umat yang satu&#8221;. Allah swt berfirman: <em>&#8220;Sesungguhnya (agama tauhid) ini, adalah agama kamu semua, agama yang satu, dan Aku adalah Tuhanmu, maka bertakwalah kepada-Ku.&#8221;</em> (QS. Al-Mu&#8217;minuun [23]:52) Umat Islam adalah umat yang memiliki satu tujuan, satu pemimpin, dan satu ajaran, yang bersama-sama bergerak menuju keridhaan Tuhan. Islam mencegah umatnya untuk berikhtilaf dan memerintahkan supaya bersatu di bawah naungan agama. Allah swt berfirman: <em>&#8220;Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai&#8221;</em> (QS. Ali-Imran [3]:103) Islam melarang kita untuk membeda-bedakan ras dan warna kulit. Menurut Islam tolak ukur kelebihan seseorang ada pada ketakwaan. Rasulullah saw dalam haji Wada&#8217; berkata kepada umatnya: &#8220;Kalian semua dari nabi Adam as dan nabi Adam as dari tanah. Tidak ada keutamaan bagi Arab atas non-Arab. Yang menjadi keutamaan adalah ketakwaan.&#8221;<a title="" href="#_ftn6">[6]</a></p>
<p>Islam telah mengajarkan umatnya tentang faktor-faktor persatuan sehingga dengan menjalankan ajaran tersebut umat Islam dapat bersatu paadu dan bergegas menuju kesempurnaan serta kebahagiaan materi dan spiritual.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Kerjasama</strong></p>
<p>Salah satu faktor kemajuan umat manusia adalah kerjasama yang kompak antara satu dengan lainnya. Masyarakat yang terus bekerjasama dapat dengan mudah menyelesaikan masalah-masalahnya dan gerbang kemajuan terbuka lebar di hadapan mereka. Islam pun juga menekankan kerjasama dan sangat mementingkannya. Kejayaan umat Islam di permulaan tersebarnya Islam adalah hasil kerjasama Muslimin.<a title="" href="#_ftn7">[7]</a></p>
<p>Islam menganggap umat Islam sebagai saudara satu sama lain. Allah swt befirman: <em>&#8220;Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara.&#8221; </em>(QS. Al-Hujurat [49]:10) Di ayat lainnya Allah swt memerintahkan kita untuk saling bantu membantu dalam melakukan perbuatan baik, dan begitu juga sebaliknya, melarang kita untuk tidak saling membantu dalam perbuatan buruk. Ia berfirman: <em>&#8220;Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.&#8221;</em> (QS. Al-Maidah [5]:2)</p>
<p>Bahkan Islam mengajarkan kita sesuatu yang lebih tinggi lagi dibanding dengan kerjasama, yaitu jiwa rela berkorban. Berkorban yakni mendahulukan kepentingan orang lain daripada kepentingan diri sendiri. Banyak sekali contoh pengorbanan dalam sejarah Islam, khususnya dalah kehidupan pemimpin-pemimpin besar Islam yang sudah sangat jelas bagi siapapun.<a title="" href="#_ftn8">[8]</a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Ilmu pengetahuan</strong></p>
<p>Faktor terpenting perkembangan dan kemajuan adalah ilmu pengetahuan, yang mana tanpa ilmu pengetahuan sama sekali tidak akan ada kemajuan. Berdasarkan ilmu pengetahuan umat manusia dapat melakukan penemuan-penemuan barunya. Setiap bangsa yang maju pasti memiliki ilmu pengetahuan yang tinggi. Sebaliknya pun demikian, kebodohan adalah faktor utama segala keterbelakangan.</p>
<p>Ilmu sangat dijunjung Islam. Pertama kali wahyu yang diturunkan kepada Rasulullah saw berisi tentang baca dan tulis. Allah swt berfirman: <em>&#8220;Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah,&#8221;</em> (QS. Al-&#8217;Alaq [96]:1-3) Islam tidak menganggap sama antara orang yang tahu dengan yang tidak tahu. Ia berifrman: <em>&#8220;Katakanlah: &#8220;Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?&#8221;"</em> (QS. Az-Zumar [39]:9) Dalam ayat yang lain disebutkan bahwa Allah swt meninggikan derajat orang-orang yang beriman dan orang-orang yang alim. Ia berfirman: <em>&#8220;Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.&#8221;</em> (QS. Al-Mujaadilah [58]:11)</p>
<p>Selain ayat-ayat Al-Qur&#8217;an, banyak juga riwayat yang menegaskan betapa pentingnya ilmu serta perannya bagi kemajuan bangsa. Rasulullah saw bersabda: &#8220;Mencari ilmu adalah kewajiban umat Islam.&#8221;<a title="" href="#_ftn9">[9]</a> Dalam hadits lainnya beliau juga bersabda: &#8220;Carilah ilmu walaupun sampai ke negeri Cina.&#8221;<a title="" href="#_ftn10">[10]</a> Berdasarkan hadits tersebut dapat disimpulkan bahwa menuntut ilmu tidak terbatas pada waktu dan tempat serta. Begitu pula ilmu yang dimaksud tidak terbatas pada ilmu agama, namun seluruh ilmu yang bermanfaat bagi kehidupan materi dan spiritual umat manusia, yang dapat menyelesaikan permasalahan dalam kehidupan sosial.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Usaha dan kerja keras</strong></p>
<p>Jika seluruh faktor kemajuan dimiliki oleh sebuah bangsa, namun mereka tidak bekerja keras, maka kemajuan tidak akan tercapai. Ilmu dapat bermanfaat jika dipraktekkan. Masyarakat yang enggan bekerja keras dan selalu bermalas-malasan pasti tidak akan pernah maju.</p>
<p>Oleh karena itu Islam menekankan umat Islam untuk bekerja keras demi semakin baiknya kehidupan materi dan spiritual serta berusaha untuk menyelesaikan problematika yang dihadapinya. Allah swt berfirman: <em>&#8220;dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya,&#8221;</em> (QS. An-Najm [53]:39) Menurut Islam segala kenikmatan di dunia diciptakan untuk kenyamanan umat manusia. Untuk mendapatkan nikmat-nikmat tersebut dibutuhkan ilmu dan kerja keras. Manusia diciptakan dari tanah, dan &#8220;kemakmuran&#8221; tanah diserahkan ke tangan manusai sendiri.<a title="" href="#_ftn11">[11]</a></p>
<p>Banyak sekali riwayat tentang memenuhi kebutuhan hidup. Imam Shadiq as berkata: &#8220;Sesungguhnya Allah membenci orang yang banyak tidur dan bermalas-malasan.&#8221;<a title="" href="#_ftn12">[12]</a> Di hadits lainnya juga disebutkan: &#8220;Orang yang tidak mau berusaha untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, ia tidak akan merasakan berkah dalam kehidupan dunianya.&#8221;<a title="" href="#_ftn13">[13]</a> Beliau juga pernah berkata: &#8220;Janganlah kalian bermalas-malasan dalam bekerja memenuhi kebutuhan hidup.&#8221;<a title="" href="#_ftn14">[14]</a></p>
<p>Diriwayatkan dari Rasulullah saw: &#8220;Ibadah memiliki tujuh puluh bagian, yang paling baik dari semuanya adalah mencari nafkah halal.&#8221;<a title="" href="#_ftn15">[15]</a> Dalam hadits ini dijelaskan bahwa bekerja mencari nafkah halal adalah ibadah, dan bahkan ibadah yang terbaik. Bukan berarti meremehkan ibadah-ibadah lainnya seperti shalat, puasa dan lain sebagainya, namun supaya tidak ada alasan bagi sebagian orang yang malas untuk tidak mau bekerja dan hanya mau beribadah saja. Bekerja saja bukan ibadah, bekerja yang dibarengi dengan ibadah adalah &#8220;ibadah&#8221; yang memiliki keutamaan sedemikian rupa. Masih banyak hadits lainnya, misalnya Imam Baqir as berkata: &#8220;Orang yang bekerja keras mencari nafkah halal untuk memenuhi kebutuhannya dan keluarganya, ia bagaikan orang yang berperang di jalan Tuhan.&#8221;<a title="" href="#_ftn16">[16]</a></p>
<p>Jika kita melihat kehidupan Rasulullah saw dan para Imam as dengan sedemikian tingginya derajat spiritualitas mereka, kita tetap melihat mereka sibuk menjalani pekerjaan-pekerjaan tertentu. Imam Ali as pernah bekerja menggali sumur dan mengairi perkebunan lalu dengan penghasilan itu beliau membebaskan budak-budak. Dengan cara itu Imam Ali as telah membebaskan seribu budak.<a title="" href="#_ftn17">[17]</a></p>
<p>Ali bin Hamzah bertanya kepada Imam Musa Al-Kadzim as: &#8220;Mengapa engkau sendiri yang bekerja dan tidak meminta para pekerja untuk mengerjakan pekerjaan anda?&#8221; Imam menjawab: &#8220;Orang-orang yang lebih baik dari aku dan ayahku bekerja dengan tangannya sendiri di dunia ini. Rasulullah saw, dan Amirul mukminin Ali as, serta ayah-ayahku, begitu pula seluruh nabi dan rasul dan juga hamba-hamba yang saleh bekerja dengan tangannya sendiri.&#8221;<a title="" href="#_ftn18">[18]</a></p>
<p>Dengan demikian kerja keras dalam Islam sangat ditekankan sekali dan dianggap sebagai ibadah yang mulia. Islam tidak memberi batasan bagi umat manusia untuk mencari nafkah yang halal asal tetap menjalankan kewajiban-kewajiban nya seperti membayar zakat dan khumus.</p>
<p>Islam selalu menekankan umatnya untuk memperhatikan faktor-faktor kemajuan seperti ini agar umat Islam tidak kalah dengan kaum kafir atau bahkan dikuasai mereka.<a title="" href="#_ftn19">[19]</a> Sebagaimana faktor-faktor kemajuan itu sangat dipentingkan Islam, sebaliknya pun demikian, Islam mengingatkan kita akan faktor-faktor keterbelakangan.</p>
<p>Sekarang kita kembali ke pertanyaan utama: apakah memang benar Islam bertentangan dengan kemajuan?</p>
<p>Jawabnya jelas tidak. Islam tak hanya menghalangi kemajuan, bahkan Islam adalah faktor kemajuan itu sendiri.</p>
<p>Jika kita melihat saat ini umat Islam mengalami kemiskinan dan kesusahan hidup, itu bukanlah salah Islam, namun karena umat Islam sendiri yang tidak memahami atau tidak menjalankan aturan-aturan suci Islam dengan benar.</p>
<p>Islam telah memerangi segala faktor ketidak amanan dalam kehidupan sosial. Islam juga sangat menekankan umatnya untuk berasatu padu. Namun apakah semua itu dijalankan dengan benar oleh umat Islam. Sebagaimana yang kita lihat sendiri, umat Islam cenderung berpecah belah dan saling menjatuhkan. Padahal Islam lebih dari agama lainnya dalam menekankan jalinan persaudaraan antar individu serta kerjasama dalam perbuatan-perbuatan baik. Namun siapa yang mendengarkan ajaran Islam tersebut? Di manakah persaudaraan umat Islam? Yang ada saat ini adalah kebalikan semua itu.</p>
<p>Islam sangat bertentangan dengan kemalasan, pengangguran dan ketidak teraturan. islam memerintahkan umatnya untuk memakmurkan tanah Tuhan untuk mendapatkan nikmat-nikmat yang ada. Namun kita tidak menjalankan ajaran ini.</p>
<p>Kemiskinan di negara-negara Islami bukan dikarenakan oleh Islam, namun karena umat Islam sendiri yang tidak menjalankan ajaran agamanya secara layak. Pemerintah yang zalim juga dapat disalahkan dalam hal ini, begitu juga campur tangan negara-negara asing yang berniat menjajah kekayaan yang bukan miliknya dan dengan sengaja menyeret sebuah bangsa ke bawah garis kemiskinan. Penjajahan tersebut mereka lakukan baik secara langsung maupun tidak, misalnya dengan menimbulkan kekacauan, perpecahan, dan lain sebagainya.</p>
<p>Jika ingin bermain adil, kita harus memilah antara ajaran dengan pengikut sebuah ajaran. Seorang pujangga Persia berkata dalam puisinya:</p>
<p><em>Tak ada aib pada diri Islam,</em></p>
<p><em>aib yang ada milik kita sebagai pemeluk Islam.</em></p>
<p>Oleh karena itu, jika ingin maju, kita harus kembali merenungi diri kita, lalu mulai bangkit meninggalkan faktor-faktor keterbelakangan yang disebabkan oleh kita sendiri. Bukankah Islam diperuntukkan kepada umat manusia agar sejahtera di dunia dan akhirat?</p>
<p>Banyak sekali bukti bahwa Islam bukan penghambat kemajuan. Misalnya, tidak semua negara Islami terbelakang. Buktinya di era keemasan Islam, negara-negara Islami berada pada puncak kejayaan. Di era itu Islam lah yang memegang bendera peradaban dan kemajuan. Umat Islam saat itu berkecimpung dalam berbagai bidang kegiatan seperti kedokteran, pengobatan, pembangunan rumah sakit, pembangunan sekolah, pembangunan perpustakaan, falsafah, perbintangan, geometri, arsitektur, matematika, dan seterusnya. Islam telah mengubah gurun Arab menjadi pusat pemerintahan Islami. Mari kita lihat Baghdad yang menjadi kota ilmu dan pusat para ilmuan.<a title="" href="#_ftn20">[20]</a> Saat itu Eropa masih berada dalam kebodohan dan selama beberapa abad karya-karya ilmiah umat Islam diajarkan di pusat-pusat pendidikan Eropa, misalnya buku-buku Ibnu Sina yang diajarkan hingga abad ke-18.<a title="" href="#_ftn21">[21]</a></p>
<p>Oleh karena itu, jika umat Islam bersama-sama mengusahakan keilmuan, iman, kemauan kuat, persaudaraan dan pengorbanan, maka Muslimin pasti akan maju. Namun jika tidak, maka yang akan terjadi adalah sebaliknya. Ini adalah apa yang dijelaskan Murtadha Muthahari bahwa sejarah peradaban Islam terbagi menjadi dua: Era Keemasan, yang merupakan era ilmu dan iman, dan Era Keterbelakangan, yang merupakan dekadensi ilmu dan iman.<a title="" href="#_ftn22">[22]</a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Referensi untuk mengkaji lebih jauh:</strong></p>
<p>1. Doktor Ali Akbar Welayati, <em>Farhang va Tamaddon e Eslami</em>, hal. 20, Qom, Nashr e Ma&#8217;aref, 1384.</p>
<p>2. Jorji Zaidan, <em>Tarikh e Tamaddon e Eslam</em>, terjemahan Ali Jawahirul Kalam, hal. 587 dan 639, Tehran, Amir Kabir, cetakan ke-10, 1382.</p>
<p>3. Gustav Lubun, <em>Tarikh e Tamaddon e Eslam va Gharb</em>, terjemahan Muhammad Taqi Fakhr Gilani, hal. 708 dan 710, Tehran, Donya e Ketab, cetakan ke-2, 1389.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Hadits akhir:</strong></p>
<p>Imam Ali as berkata: &#8220;Islam adalah jalan yang paling terang dan jembatan yang paling nyata. Tanda-tanda di jalan ini tinggi, jalan utamanya berkilau dan lentera-lenteranya bergemerlap.&#8221;<a title="" href="#_ftn23">[23]</a></p>
<div><br clear="all" /></p>
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref1">[1]</a> Ali Akbar Welayati, <em>Farhang va Tamadone Eslami</em>, hal. 20; Wayulakust, <em>Jahanbini Ebne Kholdun</em>, terjemahan Mozafar Muhammadi, hal. 9, 38 dan 33.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref2">[2]</a> Abdullah Jawadi Amuli, <em>Din Shenashi</em>, hal. 27, dan <em>Syari&#8217;at Dar Ayene e Ma&#8217;refat</em>, hal. 111.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref3">[3]</a> Ibnu Syu&#8217;bah Harani, <em>Tuhaful Uqul</em>, hal. 31.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref4">[4]</a> Al-Qur&#8217;an; <em>Syarah Lum&#8217;ah</em>, <em>Kitab Hudud, Diyat,</em> dan <em>Qishash</em>.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref5">[5]</a> &#8220;Islam di atas segalanya, dan tidak ada yang ada di atas Islam.&#8221; &#8211; <em>Wasailus Syi&#8217;ah</em>, jil. 17, hal. 460; <em>Kanzul Ummal</em>, jil. 1, hal. 17.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref6">[6]</a> <em>Tuhaful Uqul</em>, hal. 33.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref7">[7]</a> Makarim Syirazi dan penulis lainny, <em>Tafsir Nemune</em>, jil. 7, hal. 29 dan 210.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref8">[8]</a> Ibid, hal. 210.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref9">[9]</a> Kulaini, <em>Ushul Kafi</em>, jil. 1, hal. 82.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref10">[10]</a> Muhammadi Reyshahri, <em>Mizanul Hikmah</em>, jil. 8, hadits 3946.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref11">[11]</a> QS. Huud, ayat 61.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref12">[12]</a> <em>Wasailus Syi&#8217;ah</em>, jil. 6, hal. 36.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref13">[13]</a> Ibid.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref14">[14]</a> Ibid, hal. 38.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref15">[15]</a> Ibid, hal. 11.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref16">[16]</a> Ibid.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref17">[17]</a> Ibid, hal. 22.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref18">[18]</a> Ibid, hal. 23.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref19">[19]</a> QS. Al-Munafiqu, ayat 8; QS. An-Nisaa&#8217;, ayat 141.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref20">[20]</a> Jorji Zaidan, <em>Tarikh e Tamaddon e Eslam</em>, terjemahan Ali Jawahirul Kalam, hal. 587 dan 639.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref21">[21]</a> Gusav Lobon, <em>Tarikh e Tamaddon e Eslam va Gharb</em>, terjemahan Muhammad Taqi Fakhr Gilani, hal. 708 dan 710.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref22">[22]</a> Murtadha Muthahari, <em>Majmoe e Asar</em>, jil. 1, hal. 31.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref23">[23]</a> <em>Nahjul Balaghah</em>, khutbah 198 dan 106.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p style="text-align: right;"><em>Parto Pajohesh</em></p>
</div>
</div>
<div class='wpfblike' style='height: 40px;'><fb:like href='http://hauzahmaya.ir/2012/05/07/islam-dan-keterbelakangan/' layout='default' show_faces='true' width='400' action='like' colorscheme='light' send='true' /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hauzahmaya.ir/2012/05/07/islam-dan-keterbelakangan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

