Mengapa nama Ali bin Abi Thalib tidak disebutkan dalam Al Qur’an?
Alim Suni: “Jika Ali bin Abi Thalib as adalah khalifah langsung setelah nabi, seharusnya hal itu disebutkan dalam Al Qur’an, supaya umat Islam tidak berikhtilaf tentang itu.”
Alim Syiah: “Pertama, masalah kekhalifahan Ali bin Abi Thalib as sering kali dijelaskan oleh Rasulullah saw, sehingga masalah tersebut telah menjadi hal yang sudah biasa, dan tidak perlu disebutkan dalam Al Qur’an.
Kedua, masalah kelahiran dan kekhalifahan Ali bin Abi Thalib as adalah tolak ukur dikenalnya mukmin hakiki dari selainnya.
Ketiga, tidak patut anda menanyakan mengapa nama Ali bin Abi Thalib as tidak disebut dalam Al Qur’an, karena nama khalifah-khalifah dan sahabat yang kalian akui pun juga tidak disebutkan di dalamnya, kecuali nama Zaid bin Harits karena nabi pernah menikah dengan mantan istrinya.[1]
Alim Suni: “Kalau Zaid disebut dalam Al Qur’an hanya karena masalah kecil seperti itu, maka seharusnya nama Ali juga disebut karena berkaitan dengan masalah yang sangat penting, yakni kekhalifahan.”
Alim Syiah: “Dengan melihat kenyataan bahwa musuh Ali saat itu sangat banyak, dan jumlah Al Qur’an yang telah tersebar masih sedikit, besar kemungkinannya ada pihak-pihak tertentu yang berusaha menghapus nama Ali dari Al Qur’an. Oleh karena itu lebih baik masalah itu dijelaskan melalui disebutkannya sifat-sifat dan kriteria khas! Sebagaimana yang sudah jadi metode Al Qur’an, yakni menjelaskan hal-hal yang bersifat global, lalu nabi yang menafsirkan dan menjelaskan maksudnya secara spesifik.
Ada puluhan ayat Al Qur’an yang menjelaskan kriteria Ali bin Abi Thalib. Misalnya ayat wilayah (Al Maidah, 55), ayat ketaatan (An Nisa’, 59), ayat Mubahalah (Ali Imran, 161), ayat Tathir (Al Ahzab, 33), ayat Balagh (Al Maidah, 67), ayat Ikmal (Al Maidah, 3) dan masih banyak lagi…[2] Allah swt juga berfirman agar kita mengambil apa yang dibawakan oleh nabi dan meninggalkan apa yang ia larang.[3]
Berdasarkan hadits Tsaqalain, yang mana semua umat Islam menerimanya, Rasulullah saw bersabda: “Aku meninggalkan dua peninggalan berharga bagi kalian: Al Qur’an dan Ahlul Baitku.” Adapun sebagaimana yang disebutkan oleh kebanyakan riwayat anda, beliau bersabda, “Aku meninggalkan untuk kalian Al Qur’an dan sunahku.”
Oleh karena itu, kita harus mematuhi sunah nabi saw dan menerimanya. Kini saya nyatakan bahwa ayat-ayat di atas, berdasarkan sunah nabi, adalah ayat-ayat yang diturunkan berkenaan dengan Imam Ali as, oleh karena itu Al Qur’an secara tidak langsung membuktikan bahwa Ali bin Abi Thalib as adalah pengganti langsung sepeninggal nabi saw; meskipun atas dasar kemaslahatan-kemaslahatan tertentu nama beliau tidak disebutkan di dalam Al Qur’an.
Bukan hal yang aneh; misalnya dalam Al Qur’an nama Muhammad saw hanya disebut empat kali, dan nama Ahmad satu kali. Namun ratusan kali beliau disebut-sebut, namun hanya sifat dan kriterianya saja.
Misal lainnya, ada seratus dua puluh empat nabi, namun Al Qur’an hanya menjelaskan beberapa nama nabi saja.
[1] Al Ahzab, ayat 37.
[2] Silahkan merujuk kitab Dalailus Shidq, jilid 2, halaman 73 sampai 321.
[3] Al Hashr, ayat 7.
Tulisan yang mungkin berkaitan:
- Mengapa Ali tidak membela istrinya?
- Imamah dalam Al Quran
- Nabi Muhammad saw dalam Al Quran
- Nama para khalifah pada anak-anak Ali?
- Mengapa imam Syiah tidak menggunakan ilmu ghaibnya?
- Kaum para nabi dalam Al Quran
- Bahasa al-Quran versi al-Quran
- Bai’at Ali bin Abi Thalib untuk khalifah
- Hadits-hadits kepemimpinan Ali bin Abi Thalib setelah nabi
- Ali bin Abi Thalib tak mau dibai’at?

















































[...] Jika boleh balik bertanya, kekhalifahan Abu Bakar, Umar, dan Utsman pun tidak disebutkan dalam Al Qur’an. Untuk permasalahan ini anda bisa membaca artikel ini. [...]