3 Jenis Wahabi

by Hauzah Maya on February 13, 2012

3 Jenis Wahabi

“Tembok cina yang menghalangi kami untuk menjadi Syiah”. Ungkapan inilah yang digunakan oleh Doktor Hasan Tono dalam bincang-bincangnya dengan wartawan Shia Online. Mungkin anda belum pernah mendengar nama Doktor Tono. Ia masih satu keturunan dengan Tijani Samawi dan Doktor Ishamul ‘Imad, yang pasti namanya pernah anda dengar. Doktor Tono dahulunya adalah seorang Suni bermadzhab Syafi’i. Lalu ia sempat menjadi Wahabi; yang akhirnya berkat kajian dan penelitian, ia pun menjadi seorang Syiah. Meskipun sampai saat ini ia masih belum bisa berbicara bahasa Parsi dengan baik, namun perkataannya asik didengar. Sekarang ia sedang menimba ilmu agama di Hauzah Ilmiah Qom. Beginilah kisah bagaimana ia mengenal Syiah, menurut pengakuannya…

W: Sebelumnya, perkenalkan diri anda terlebih dahulu

H: Aku berasal dari Indonesia, yang jaraknya sekitar sepuluh jam dari Iran dengan menggunakan transportasi udara. Namaku Hasan, dan dikenal dengan Hasan Tono. Tapi sayang aku sampai sekarang kurang baik berbicara dengan bahasa Parsi. Di Indonesia, dan kira-kira seluruh negara di Asia Timur penduduknya kebanyakan Muslim. Hampir semuanya adalah Suni. Namun ke-Suni-an mereka bukanlah dikarenakan permusuhan dan kebencian mereka terhadap Syiah, tapi karena memang suara kebenaran tak pernah sampai ke telinga mereka. Bahkan kata “Syiah” saja mereka pun tidak pernah mendengar sebelumnya. Saat aku sebagai mahasiswa dahulu kala, aku sendiri tidak pernah mendengar “Syiah”, apa lagi masyarakat awam! Jadi, mengapa mereka adalah Suni hanya karena mereka tidak pernah tau ada yang namanya Syiah di dunia ini, yakni karena mereka tidak pernah mendengarnya sama sekali; bukan karena pertentangan atau permusuhan terhadap Syiah. Mengapa? Jawabnya adalah, ulama-ulama Suni bagaikan para khalifah Bani Umayah dan Bani Abbas yang selalu menggaris batas dan membangun tembok-tembok tinggi sehingga ucapan Ahlul Bait tidak dapat sampai ke telinga setiap orang. Dinding-dinding itulah yang telah membatasi kami dari kebenaran. Ini bukan main-main. Bayangkan, selama dua ratus tahun kami tidak pernah mendengar apapun. Tembok-tembok itu tak ubahnya bagai tembok cina dengan panjang dan ketinggiannya yang telah menjadi pembatas bagi kami. Begitu kuat tembok itu, tidak hanya kami tidak pernah mendengar tentang Ahlul Bait, bahkan membayangkannya pun kami tidak pernah. Apa lagi mengenal siapa Imam Ridha as, Karbala, dua belas Imam… sama sekali mustahil. Namun syukur semenjak revolusi Islam Iran, tembok-tembok itu telah runtuh; benar-benar runtuh berkeping-keping. Semenjak saat itulah mulai kami dengar nama Syiah, Karbala, para Imam…sampai dalil-dalil Wilayah Imam Ali bin Abi Thalib as. Anda sendiri melihat, bahwa Indonesia setelah kemenangan revolusi Islam Iran setiap tahun ribuan orang menjadi Syiah! Ini pun kita anggap kami masih lengah, karena jika tidak pasti lebih dari itu jumlah orang yang tertarik kepada Syiah. Padahal banyak sekali usaha yang telah kita lakukan, misalnya banyak buku-buku Ahlul Bait yang telah tercetak dan disebarkan, yang kurang lebih kandungannya adalah akidah dan keyakinan Syiah. Banyak sekali buku-buku sedemikia rupa yang telah mencuri hati Muslimin Indonesia. Bahkan meski mereka tidak tahu bahwa penulis buku-buku tersebut adalah orang Syiah, seperti Syahid Beheshti dan Muthahari, mereka dengan sendirinya ingin lebih dekat dengan Syiah.

W: Madzhab apakah yang paling banyak pengikutnya di Indonesia?

H: Dari 230 atau mungkin 240 juta jiwa penduduk Indonesia, kebanyakan Muslimnya adalah Suni Syafi’i. Meskipun banyak juga yang bermadzhab Hanbali, Hanafi dan Maliki. Pada tahun 1916 Wahabi memulai propagandanya dan mengeluarkan biaya bermilyar-milyar demi menyebarkan fahamnya. Pada tahun itu, setengah juta dari penduduk Indonesia berfaham Wahabi. Dalam pidato-pidatoku, aku sering membagi pengikut Wahabi menjadi tiga kelompok.

W: Doktor, jelaskan kepada para pendengar tentang apa bedanya Ahlu Sunah dengan Wahabi?

H: Bagus sekali anda telah menyinggung masalah ini. Madzhab Syafi’i, budaya mereka mirip seperti Syiah. Mereka berziarah kubur, berdoa dan bertawasul… Orang-orang Syiah juga bertawasul dengan Imam-Imam mereka, begitu juga anak cucu para Imam, serta ulama. Sedang orang-orang Syafi’i, mereka bertawasul kepada “wali-wali”. Namun Wahabi datang dan menyatakan bahwa bertawasul serta mencium kubur-kubur adalah bid’ah. Padahal bid’ah itu apa? Bid’ah adalah sesuatu yang ditambahkan pada agama, dan sangat ditolak agama. Dalam riwayat disebutkan bahwa segala sesuatu yang ditambahkan pada agama adalah bid’ah dan segala bid’ah pasti batil. Sedang Syafi’i menyebut bid’ah sedemikian rupa sebagai bid’ah hasanah, atau bid’ah yang aik. Padahal Wahabi menganggap bid’ah adalah bid’ah, dan tidak baik; tidak ada yang namanya hasanah atau bukan hasanah. Karena hal-hal seperti itu, misalnya mencium kuburan, tidak disebutkan dalam Al Qur’an; oleh karena itu artinya bid’ah. Lalu kita sendiri pun menyadari tidak ada riwayat-riwayat (dari kalangan Suni) yang bisa menjawab pernyataan mereka. Akhirnya kita pun tidak punya jawaban. Saat diusut-usut oleh para ulama, ternyata budaya ini diambil dari budaya Syiah. Misalnya orang-orang Syafi’i membacakan Al Qur’an untuk orang-orang yang telah meninggal dunia. Lalu Wahabi menyebutnya bid’ah. Padahal Syafi’i sendiri tidak terlalu tahu mengapa mereka melakukan itu; tidak tahu apa dasar ayat dan riwayatnya. Akhirnya pemuda seperti itu dengan melihat kenyataan seperti ini masuklah ke lingkaran Wahabi. Tapi Wahabi di tempat kami saat itu namanya Muhammadiyah. Yakni nama nabi tanpa bid’ah! Yakni tanpa sedikit pun tambahan dan pengurangan. Akhirnya kebanyakan orang, khususnya pemuda-pemuda menjadi Wahabi. Satu-satunya dasar pemikiran Wahabi adalah, jika sesuatu telah disebutkan dalam Al Qur’an maka benar, dan jika tidak maka batil.

Setelah anda menjadi Syiah, bagaimana ceritanya anda tertarik pada Syiah?

Sebelum menjawab pertanyaan anda ini, aku ingin memberi sedikit penjelasan tentang jawaban pertanyaan sebelumnya. Aku ingin menjelaskan tentang pembagian Wahabi. Tapi ini pembagianku sendiri secara pribadi. Wahabi ada tiga jenis, Wahabi yang berada di lingkup politik yang punya andil dalam pemerintah, Wahabi yang ikut campur dalam politik namun tidak ada andil dalam pemerintah, dan yang ketiga Wahabi yang hanya berkecimpung dalam hal-hal kebudayaan. Yang memiliki andil dalam pemerintah, atau bahkan memang pada dasarnya punya pemerintahan, seperti Saudi Arabia. Mereka sama sekali tidak mempercayai pemikiran mereka. Namun hanya sebagai sarana untuk keberlanjutan kekuasaan mereka, mereka terus menjaganya, dan terus menerus menyebut diri mereka sebagai Muslim. Bahkan bisa jadi mereka sama sekali tidak sholat! Saat aku ada di Indonesia, saat berbincang-bincang dengan mereka, aku sering utarakan bahwa pemerintahan Islami bukanlah pemerintahan yang hanya memotong tangan pencuri dan merajam pezina; yang memang itu perlu, tapi itu saja apa artinya? Dalam pemerintahan Islami, pemimpin dalam pemerintahan juga harus terikat dengan aturan-aturan Islami. Yakni harus punya akidah! Namun mereka tetap saja bersikeras pada pendapatnya masing-masing. Adapun kelompok yang kedua, Wahabi yang tidak memilki pemerintahan dan andil di dalamnya, seperti Al Qaeda, kelompok yang suka menghalalkan darah orang lain. Sedang kelompok yang ketiga, adalah Wahabi kebudayaan. Mereka berdakwah melulu tanpa mau tahu tentang politik dan pemerintahan. Untuk menyebarkan budayanya, mereka mencetak buku-buku, poster, dan lain sebagainya.

Adapun tentang bagaimana aku Syiah… Aku belajar dan mengkaji ajaran ini sehingga akhirnya aku Syiah. Saat aku bertemu dengan orang-orang Syiah, mereka punya banyak riwayat yang dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan kami. Karena menurutku kebenaran ada pada Syiah, oleh karena itu aku menjadi Syiah.

Salah seorang dari para ulama Syafi’i berkata kepadaku: “Kalian orang-orang Syiah punya apa sih yang kami tidak punya?” Aku menjawab, “Tidak penting kalian tidak punya apa… yang penting adalah kami tidak membutuhkan kalian!” Lalu aku bertanya, “Apa yang kamu mau?” Dijawabnya, “Kami tidak punya riwayat-riwayat tentang membaca Al Qur’an.” Karena kau sendiri baru masuk Syiah, aku tidak punya banyak pengetahuan yang cukup. Lalu ia membuka sebuah kitab lalu membacakan riwayat yang berasal dari Imam Ja’far Shadiq as tentang masalah itu dan aku sendiri pun terkejut.

Jadi pada dasarnya karena orang-orang Ahlu Sunah tidak bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka sendiri, makanya mereka berbondong-bondong datang ke ajaran Wahabi. Lalu menurut mereka ajaran itulah yang benar.

W: Bisakah sedikit lebih jauh anda jelaskan bagaimana anda menjadi Syiah?

H: Seperti yang telah aku ceritakan, semenjak umur 17 tahun aku sempat menjadi Wahabi. Bahkan Wahabi yang benar-benar polos. Aku sama sekali tidak memiliki kebencian terhadap Syiah. Karena kupikir aku sudah berada di ajaran yang benar. Waktu itu aku termasuk kelompok Ikhwanul Muslimin. Di Indonesia, hijab dilarang. Berbicara tentang pemerintahan Islami pun juga dilarang. Padahal kebanyakan penduduk Indonesia adalah Muslim. Dengan revolusi Iran kami menjadi senang. Karena bagi kami merupakan sebuah pembuka. Namun dengan mendengar serangan Saddam ke Iran, kami sangat gelisah. Padahal saat itu kami Wahabi! Lalu pada tahun 61, aku datang ke sini untuk membantu Iran yang sedang berperang. Aku pun tidak berkata apa-apa ke orang tuaku. Bahkan sampai empat puluh tahun mereka pun tidak tahu aku ada di Iran. Tapi aku selalu menulis surat ke teman-temanku agar dibacakan untuk keluargaku. Aku datang untuk membantu perang. Karena aku pikir pemuda-pemuda tidak mau berperang. Pada saat itu aku sampai malu begitu panjang antrian untuk daftar berperang di hadapan mataku. Dalam pergulatanku dengan orang-orang Syiah aku jadi banyak belajar dan mencari kebenaran yang sebenarnya. Akhirnya aku pun sadar bahwa yang benar bukan aku. Oleh karena itu aku menjadi Syiah. Selama enam bulan aku terus berdiskusi dengan teman seperjuanganku tentang Syiah; tentunya kami tidak pernah saling pukul. Lalu akhirnya setelah enam bulan aku masuk Syiah.

W: Tentang dibakarnya rumah Fathimah Azzahra, bagaimana pendapat Ahlu Sunah tentangnya?

Sayang sekali para penganut Ahlu Sunah punya kebiasaan yang salah, mereka selalu menyerahkan urusan-urusan dan peristiwa yang telah berlalu kepada Tuhan dan melupakannya, seperti masalah Fadak. Mereka pun tidak menganggap berharga untuk membahas masalah-masalah yang telah berlalu.

Padahal dalam Shahih Bukhari pun banyak sekali riwayat yang menunjukkan kebenaran ini, namun ulama mereka menutupi dan tidak mau menyinggungnya. Misalnya ada riwayat tentang setelah kiamat nanti saat sahabat-sahabat nabi kehausan lalu Rasulullah saw ingin memberi air kepada mereka, Allah melarangnya. Nabi pun bertanya, “Mengapa? Bukannya mereka sahabat-sahabatku?” Dijawabnya, “Engkau tidak tahu apa yang telah mereka lakukan setelahmu.” Ya contohnya seperti masalah Fadak dan percekcokan Abu Bakar dengan Fathimah Azzahra, putri nabi. Hal ini disebutkan dalam Shahih Bukhari namun tidak ada yang mau membahasnya.

H: Doktor Tono, kami sangat berterimakasih anda telah menyempatkan diri dalam perbincangan ini. Semoga anda selalu mendapatkan taufik dan keberhasilan.

Tulisan yang mungkin berkaitan:

  1. Antara pengaruh Iran dan kemunculan Wahabi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>