Renungan tentang bagaimana seharusnya bersikap

by Hauzah Maya on February 8, 2012

Renungan seorang Syiah tentang bagaimana seharusnya bersikap

Pertikaian antara Suni dan Syiah selalu terdengar telinga kita. Suni dan Syiah. Apakah gambaran “Suni” dan “Syiah” yang ada di pikiran kita adalah “Suni” dan “Syiah” secara hakiki dan sebenarnya? Ataukah hanya kumpulan informasi yang tidak pasti benar? Sebagaimana yang kita tahu, seringkali apa yang kita fahami tidak pasti sesuai dengan kenyataan yang ada. Begitu pula dengan pemahaman kita mengenai Suni dan Syiah yang kita saksikan mereka tidak bisa disatukan.

Kini, entah karena unsur kesengajaan atau tidak, telah terciptalah opini umum bahwa Suni dan Syiah adalah dua kelompok yang berseteru. Syiah dengan segala caranya berusaha berdakwah menyebarkan fahamnya, Suni dengan segala provokasi pihak tertentu, dengan sekuat tenaga menghambat gerakan Syiah dan berusaha memojokkannya. Akhirnya kedua belah pihak dengan faham masing-masing yang saling dianggap benar oleh setiap kelompok terus bertikai dan memecah kesatuan Islam; terlebih lagi saat diprovokasi oleh pihak-pihak tertentu, Wahabi misalnya.

Syiah dan Suni yang ada di benak publik, bukanlah Suni dan Syiah yang sebenarnya. Hal ini terbukti dengan memahami bahwa pengikut suatu ajaran bukanlah ajaran itu sendiri. Meski pengikut suatu ajaran acap kalinya menjadi cerminan ajarannya. Namun tidak selalu begitu nyatanya. Pemahaman kita tentang Suni dan Syiah yang kita miliki detik ini juga “tidak pasti” benar dan sesuai dengan arti Suni dan Syiah yang hakiki. Karena apa yang kita fahami adalah hasil dari yang kita lihat, yakni tingkah laku orang-orang yang mengaku Suni dan Syiah di depan kita… Padahal! Jika kita tanya kepada mereka, baik kepada seorang Suni, baik kepada seorang Syiah, dapatkah mereka secara mantap mengaku bahwa mereka adalah Suni sejati, Syiah sejati?

Padahal jika kita renungi, sebagai pengaku Syiah, banyak sekali yang harus kita benahi. Tidak usah terlalu membahas Suni. Syiah sendiri, apakah seorang Syiah dengan yakin berani menyatakan dirinya adalah Syiah? Bukankah Syiah adalah orang yang menapakkan kakinya di jejak telapak kaki imamnya? Siapakah di antara kita, orang yang mengaku Syiah, telah melangkah sedemikian rupa? Sehingga dengan yakinnya kita menyuapi ajaran Imam-Imam kita kepada orang lain tanpa perlu mempertimbangkan seberapa tinggi kelayakan kita untuk mengaku sebagai Syiah? Itulah hal yang harus dipertimbangkan jika kita ingin mengajak mereka mengikuti kita dari arah yang berhadapan, dengan memposisikan diri di hadapan mereka.

Banyak sekali masalah pribadi yang kita miliki yang berujung menjadi coreng hitam di wajah Ahlul Bait. Misalnya, terkadang kita begitu fanatik lantas terlalu percaya diri sendiri dengan memposisikan diri sebagai Syiah, sampai-sampai kita terlalu jauh optimis terhadap diri sendiri, sehingga tatkala terjadi suatu konflik yang sebenarnya tidak ada kaitannya dengan agama atau madzhab, misalnya konflik keluarga, kita bersikap dalam masalah itu “atas nama” seorang Syiah. Dengan penuh ketidak sadaran tentang apakah kita Syiah yang layak atau tidak, kita terus bersikap dalam berbagai masalah. Lalu ternyata sikap kita tidak dapat diterima oleh pihak lain, yang ujungnya berbenturan, bertikai, dan hasilnya terciptalah kesan “Suni dan Syiah berselisih.”

Tak perlu kita mengelak jika kita menduh diri kita terkadang terlalu “percaya diri” sebagai seorang Syiah. Coba kita renungkan sejenak, jika ada pimpinan kita, misalnya Imam Ali as, beranikah kita mengaku di hadapannya bahwa kita pengikut setianya? Oh ya, mungkin yang membuat kita terlalu percaya diri sebagai seorang Syiah dalam sikap-sikap kita, adalah sangkaan bahwa sebenarnya “pengakuan” ini bersifat sepihak. Kita mungkin merasa cukup kita sedikit mengenal Ahlul Bait, lalu mengaku Syiah, maka cukup semuanya, kita adalah Syiah. Padahal bukan seperti itu sama sekali. Pengakuan ini tidak sepihak, tapi diperlukan pengakuan dari pihak kedua, yaitu Ahlul Bait. Kita boleh yakin tentang ke-Syiah-an kita jika kita telah menyatakan pengakuan kita sebagai Syiah kepada Ahlul Bait, lalu mereka pun meng-iya-kan pengakuan ini. Siapakah di antara kita yang telah melakukannya? Tak satu pun.

Kalau begitu, apa yang membuat kita mengaku sebagai Syiah, yang kemudian menjadi kelompok yang berhadapan dengan Suni, dan dengan sendirinya muncul konflik-konflik berdarah yang memecah kesatuan umat Islam?

Tak sedikit orang yang mengaku pengikut Ahlul Bait saat bertemu dengan mereka, namun mereka berkata bahwa “kamu bukan pengikut kami.” Di masa hayat Ahlul Bait saja ada orang seperti itu, apa lagi di masa ini? Tentu sangat amat banyak “pengaku Syiah yang ditolak”. Begitu jauh jarak yang terbentang antara kita dengan Ahlul Bait. Lalu kita mengaku Syiah? Sombong sekiranya kita berdiri di hadapan Suni dan mengaku bahwa “akulah Syiah Ali.”

Kitalah yang telah mewujudkan fenomena “konflik Suni Syiah” karena kesalahan-kesalahan kita, dari yang paling kecil secara individual, sampai kesalahan bersama. Tidak yakin dengan pernyataan itu? Kalau tidak, apa kita yakin bahwa setiap sikap kita mendapat persetujuan dari Ahlul Bait? Padahal kita jauh dari mereka! Padahal Syiah adalah orang yang berjalan di atas jejak telapak kaki Ahlul Bait.

“Jadilah hiasan bagi kami, jangan mencoreng muka kami.” Itu pun telah menyindir diri kita jauh sebelum kita dilahirkan. Seolah mereka tahu bahwa kelak kita lahir ratusan tahun setelah mereka lalu sedikit mengenal Ahlul Bait, kemudian mengaku Syiah, menjadi fanatik, terlampau percaya diri, sehingga setiap prilaku kita dinilai sebagai prilaku seorang Syiah padahal mungkin kita tidak sengaja akan hal itu. Penilaian-penilaian publik itulah yang mewujudkan “pemahaman” dalam benak setiap orang siapakah “Syiah”. Padahal belum tentu Ahlul Bait setuju dengan “Syiah” yang ada saat ini dan individunya.

“Tunjukkanlah indahnya ajaran kami, jika mereka melihatnya, mereka pasti mencari dan mengikuti kami.” Ucapan sang Imam begitu singkat dan penuh makna. Mengapa kita tidak memajang ajaran mereka yang di depan khalayak umat manusia “tanpa” perlu menampakkan wajah kita di sebelahnya? Kalau ajaran Ahlul Bait itu sebuah lukisan yang indah, pajanglah di dinding, tanpa memajang muka kita di sebelah lukisan itu; supaya orang yang melihat keindahan lukisan tersebut tidak terganggu dengan kehadiran wajah kita yang buruk.

Ya, wajah yang buruk. Siapakah di antara kita yang berani berkata “tidak memiliki wajah yang buruk”? Pasti terlalu percaya diri jika ada yang berkata tidak. Semoga kita tidak menjadi orang yang terlalu percaya diri dan terjebak keburukan itu.

Cukup kita tunjukkan mana jalan yang benar dengan segala argumen yang kita miliki, tanpa mengaku “aku lah orang yang telah berjalan di jalan yang benar itu”. Lalu jika ia memahami benarnya jalan tersebut, akalnya yang akan memutuskan dia harus melewatinya. Jika ia melewatinya, syukur. Jika tidak, apa urusan kita terhadap orang yang tidak mau menyelamatkan dirinya sendiri? Jika ia terhidayahi, Tuhan yang telah memberinya petunjuk, bukan kita.

Andai kita Syiah yang hakiki, tidak mungkin kita membiarkan diri kita memiliki cela sedikitpun yang mungkin dapat mencoreng wajah Ahlul Bait. Siapa kita yang telah mencoreng wajah mulia mereka? Kelak Imam Mahdi akan mengadili orang yang mengaku sebagai pengikutnya terlebih dahulu sebelum lainnya. Jika kita mengaku orang yang punya banyak cela, tak perlu kita unjukkan wajah ini di sebelah wajah Ahlul Bait, kita tidak layak untuk itu. Seharusnya kita memposisikan diri kita di posisi yang sama dengan sesama kita. Cukup kita ajak saudara-saudara kita yang tidak mengenal Ahlul Bait untuk mengenal mereka, lalu tinggalkan, biar mereka dengan jiwanya masing-masing memproses pengalamannya itu. Ajak mereka dari arah mereka, bukan menarik mereka dari hadapan mereka. Karena yang berhak ada di hadapan mereka hanya Ahlul Bait. Kita tak lebih dari seorang yang mengaku Syiah yang belum tentu Ahlul Bait mengakui kita.

Muhammad Habibie Amrullah

 

Sepertinya tak ada tulisan lain yang berkaitan dengan ini.

One Response to “Renungan tentang bagaimana seharusnya bersikap”

  • Ammar Dalil Gisting says:

    Satu kritikan yg cukup pedas…, Sunghuh kebanyakan kita (bc: saya) brsikap sbgmn yg di pahaminya, pdhl pemahaman itu jekas bkan hakikat ssungguhnya.., pdhl yg smestinya dilkukan brgkali adlh bgmn mnjdkn diri ini sbg cernin yg bersih, yg dpt menampakan wajah ssungguhnya yakni dgn wajah keindahan bukan dgn wajah yg penuh cemar… Syukron Ustadz atas pencerahanya.. Jazakallah…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>