Al Qur’an menafsirkan ayat-ayatnya
Berbeda dengan pandangan kelompok yang dikenal dengan Akhbariyun, Allamah Thabathabai membuktikan bahwa Al Qur’an dapat berbicara kepada kita. Dalam karyanya Al Mizan beliau telah membuktikan bahwa Al Qur’an dapat menafsirkan ayat-ayatnya.
Kelompok Akhbariyun berpendapat bahwa kita sama sekali tidak dapat memahami satu ayat Al Qur’an pun kecuali dengan bantuan Khabar (riwayat) dari para Maksumin. Oleh karena itu mereka memiliki metode tersendiri dalam memahami dan menafsirkan Al Qur’an; jika mereka tidak menemukan satu riwayat dari Maksumin yang menerangkan suatu ayat, maka mereka akan berserah dan berkata, “Ayat ini tidak dapat ditafsirkan; karena tidak ada satu riwayat pun yang menjelaskan maksudnya.”
Menafsirkan ayat-ayat Al Qur’an dengan ayat-ayat itu sendiri, meski tidak sedikit yang menolak metode ini, adalah metode yang sudah sejak lama digunakan. Jika kita membuka lembaran sirah Rasulullah saw, kita akan menyadari bahwa Rasul sendiri yang mengajarkan kita metode ini. Bahkan Tuhan pun telah menyinggung hal ini.
Ada sepenggal kata dalam suatu ayat yang mana pada waktu itu sebagian sahabat tidak mengetahui maksudnya: “…orang-orang yang tidak mencampur imannya dengan kezaliman.” Mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, apa yang dimaksud dengan “kezaliman” disini?” Rasulullah menjawabnya dengan membacakan ayat: “Sesungguhnya syirik adalah kezaliman yang luar biasa.” Rasulullah telah menafsirkan “kezaliman” dengan “syirik”.[1]
Imam Ali juga pernah berkata, “Al Qur’an, sebagian ayat-ayatnya menafsirkan sebagian ayat yang lain.”
Allah mengajak kita untuk bertadabur dan berfikir pada ayat-ayat Al Qur’an. Allah berfirman, “Apakah mereka tidak bertadabur pada Al Qur’an? Jika Al Qur’an bukan dari Allah, maka mereka akan mendapati banyak yang saling bertentangan di dalamnya.”
Atas dasar ayat ini, sesungguhnya ayat-ayat Al Qur’an dapat menafsirkan sebagian ayat-ayat lainnya; yang mana metode itu disebut dengan metode penafsiran Al Qur’an dengan Al Qur’an. Dalam ayat di atas Allah memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk bertadabur agar menyadari bahwa dengan cara mensejajarkan ayat-ayat Al Qur’an dengan ayat-ayat lainnya, mereka akan mendapati keserasian ayat-ayat; dan jika mereka menyadari keserasian ayat-ayat itu, maka mereka seharusnya mengakui bahwa ayat-ayat Al Qur’an benar-benar dari Tuhan.
Sebagai contoh, dalam surah Al Kautsar Allah berfirman, “Sesungguhnya kami telah memberikan “Al Kautsar” kepadamu (wahai Muhammad). Shalatlah dan ber-Qurbanlah. Sesungguhnya musuh-musuhmulah yang tak memiliki anak keturunan.”[2]
Untuk menafsirkan “Al Kautsar” dalam ayat pertama, kita dapat menjadikan ayat ke-3. Dalam ayat ketiga Allah menyinggung “kemandulan musuh-musuh Rasulullah saw”. Jika kita mensejajarkan dua ayat ini, kita akan menyadari bahwa “Al Kautsar” adalah sesuatu yang menjadikan Rasulullah berbeda dengan musuh-musuhnya. Jika musuh-musuhnya mandul, maka pembeda itu adalah “ketidak mandulan”. Berarti Al Kautsar itu adalah seorang anak yang telah dikaruniakan Tuhan kepadanya. Tidak diragukan lagi Fathimah lah anak beliau. Jadi “Al Kautsar” adalah Fathimah Azzahra.
Sepertinya tak ada tulisan lain yang berkaitan dengan ini.
















































Salam. Syukron Ustadz..
Jazakumulloh khoeron katsir..
Terimakasih atas komentarnya, pak Ammar Dalil.