Rasyid Ridha, penyeru persatuan dan kebenaran
Apa yang akan dijelaskan di bawah ini adalah sekilas pemikiran Syaikh Muhammad Rasyid Ridha, sang pembenah yang aktif di jalan penggalangan persatuan umat Islam dan juga pemikierannya tentang kekhilafahan dalam politik Islam. Dalam tulisan ini kami berusaha mengkaji aktifitas-aktifitasnya dalam bidang-bidang dengan bersandar pada sumber-sumber yang terpercaya.
***
Syaikh Muhammad Rasyid Ridha (1282 – 1354 H.) lahir di sebuah desa di pinggir Tarablus, di tepi pantai Mediterania yang bernama Qalmun. Ia lahir dari sebuah keluarga terkenal yang nasabnya sampai pada Imam Hasan as dan dikenal dengan “Bait Aali Ar Ridha”. Ia menyelesaikan pelajaran-pelajaran muqadimat (pelajaran dasar) di bawah didikan ayahnya yang termasuk ruhaniawan desa dan imam jama’ah masjid, yang mana pada masa-masa itu ia aktif menghafalkan Al Qur’an. Kemudian ia pergi ke Tarablus dan memasuki sekolah dasar Ar Rasyidiyah, salah satu sekolah milik pemerintahan Utsmani. Di samping menjalani pelajaran sekolah dasar, ia juga mempelajari bahasa Turki. Pada tahun 1299 H. / 1882 M. ia belajar di Madrasah Al Wathaniyah yang merupakan sekolah terkemuka di zaman itu dan pendirinya adalah Syaikh Husain Al Jarr, seorang tokoh terkenal kebangkitan Arab. Namun tak lama kemudian sekolahan ini ditutup oleh pemerintahan Utsmani. Berbeda dengan murid-murid lainnya, Rasyid Ridha aktif mengikuti kelas-kelas non-formal Syaikh Husain Al Jarr. Ia belajar ilmu-ilmu syariat, ilmu aqli dan bahasa Arab dari beliau. Waktu itu ia mempelajari ilmu hadis dari Syaikh Mahmud Nashyabah. Masih banyak lagi ustad-ustad Rasyid Ridha yang lain, di antaranya adalah Syaikh Abdul Ghani Ar Rafi’i, Mahmud Al Ghajawi, dan Muhammad Al Husaini.
Rasyid Ridha mulai mengenal pemikiran-pemikiran Sayid Jamaluddin Asad Abadi dan Syaikh Muhammad Abduh di saat tulisan-tulisan mereka disebarkan melalui majalah Urwatul Wutsqa. Saat itu ia ingin sekali bertatap muka dengan Sayid Jamaluddin Asad Abadi, namun keinginan itu tidak tercapai dan hanya bisa berhubungan dengannya lewat surat menyurat. Ketika Rasyid Ridha tinggal di Tarablus, Syaikh Muhammad Abduh mendapat tuduhan memiliki aktifitas politik yang bertentangan dengan pemerintahan Utsmani, oleh karena itu ia diasingkan ke Beirut. Muhammad Abduh dengan pengalamannya yang banyak di gerakan kebangkitan Islam-Arab, selama ia berada di Beirut ia mengadakan majelis belajar mengajar di Madrasah Al Sultaniyah Beirut dan dengan cara itu ia dapat menyebarkan faham dan pemikirannya di negri ini. Meskipun Muhammad Abduh tinggal cukup lama di Bierut, Rasyid Ridha yang dengan keinginan hatinya untuk bertemu dengannya tetap tidak mendepatkan kesempatan untuk menemuina. Namun saat Muhammad Abduh berada di Tarablus, saat itulah pintu kesempatan bagi Rasyid Ridha untuk menemuinya terbuka lebar.
Rasyid Ridha mengamati metode kedua tokoh ini dalam menyebarkan faham kebangkitan Islami, yang mana Sayid Jamaluddin beraksi secara terang-terangan dengan kritikan-kritikannya dan berhadapan langsung dengan pemerintahan namun Syaikh Muhammad Abduh beraksi secara halus melalui jalur pendidikan tanpa ada bentrokan dengan pemerintah. Dengan pengamatan ini Rasyid Ridha dapat menggariskan metode barunya dalam menyebarkan faham kebangkitan Islami dan persatuan umat.
Aktifitas sosial-Islami Rasyid Ridha bermula dari desa Qalmun. Ia berusaha memulai gerakan kebangkitan Islami-nya dari kampung halaman sendiri dengan cara mengadakan kelas-kelas agama dan tafsir ayat-ayat Al Qur’an. Pertama-tama ia berusaha mengentaskan masyarakat setempat dari kebodohan tentang agama. Rasyid Ridha sering mendatangi tempat-tempat umum seperti kedai kopi untuk mengajak dan memberi semangat kepada setiap orang yang ia temuinya untuk ikut serta dan hadir di masjid guna mempelajari ilmu-ilmu agama.
Setelah Muhammad Abduh pergi ke Mesir, Rasyid Ridha pun menyusul dan berhijrah ke Mesir di tahun 1314 H. / 1898 M. Di Mesir pada tahun 1315 H. / 1899 M. setelah bertukar pikiran panjang bersama Syaikh Muhammad Abduh, mereka berdua menerbitkan majalah Al Manar dengan tujuan penyebaran faham persatuan umat dan pembenahan sosial-Islami dan juga sebagai jawaban atas syubhat-syubhat yang dilontarkan oleh orang-orang Barat mengenai Islam. Majalah tersebut tidak hanya memuat permasalahan-permasalahan yang berkaitan dengan persatuan dan pembenahan dalam bentuk artikel atau tulisan-tulisan penelitian saja, namun juga memuat materi-materi ilmiah seperti tafsir Syaikh Abduh (yang kemudian penulisan tafsir tersebut diteruskan oleh Rasyid Ridha sendiri), fatwa-fatwa, hukum-hukum Islam, jawaban-jawaban seputar permasalahan fiqih dan akidah yang ditanyakan oleh para pembaca, pengenalan tokoh-tokoh Islam, pemimpin-pemimpin dunia, mengenalkan kitab-kitab penting Islami, solusi-solusi permasalahan Muslimin dunia, dan lain sebagainya. Kajian lain yang dituangkan dalam majalah itu dan Rasyid Ridha sendiri yang bekerja di bidang tersebut adalah kritikan-kritikan terhadap riwayat-riwayat palsu Israiliyat yang berkenaan dengan Islam, Al Qur’an dan nabi Muhammad saw. Di samping itu, dalam Al Manar ia berkali-kali mengingatkan pusat-pusat dakwah kristenisasi yang didirikan oleh para penjajah di penjuru negri-negri Islam dan ia bersikeras menuntut ditutupnya pusat-pusat dakwah itu. Sebagai gantinya, ia menyerukan dibangunnya sekolah-sekolah Islami yang di dalamnya diajarkan pemahaman-pemahaman agama yang benar dan ilmu pengetahuan umum. Majalah Al Manar kurang lebih terbit selama 35 tahun dan banyak sekali penggemarnya di negara-negara Arab, seperti Tunesia, Al Jazair, Libya, dan negara-negara Afrika khususnya Afrika Utara, India, Indonesia, Iraq, Turki dan masih banyak lagi. Tak hanya itu saja, Al Manar juga memiliki relasi yang hangat dengan ulama-ulama dari negara-negara tersebut yang tentunya membuat majalah ini menjadi lebih kaya dan berbobot. Namun bagaimanapun juga ada titik-titik negatif dalam majalah ini yang salah satunya adalah kritikan terhadap mazhab Syiah. Akan tetapi Sayid Muhsin Amin, seorang tokoh yang aktif dalam gerakan kebangkitan Islam-Arab melawan pemerintahan Utsmani dan begitu menekankan persatuan umat Islam sedunia, memberikan jawaban-jawabannya terhadap tulisan Rasyid Ridha dalam majalah Al Irfan.
Sebagian dari aktifitas Rasyid Ridha yang lainnya, sebagaimana yang telah disinggung sebelumnya, adalah memerangi propaganda-propaganda Barat yang dilancarkan oleh para penjajah. Sesuai dengan saran para pembesar dan ulama di masa itu, ia membentuk sebuah organisasi dan madrasah Darul Da’wah wa Al Irsyad. Ide membentuk organisasi ini terlintas di benak Rasyid Ridha saat ia mengunjungi perpustakaan badan mubaligh asal Amerika di Tarablus. Dengan cara ini ia berkeinginan untuk menggagalkan usaha usaha kristenisasi sekaligus mendidik para pemuda untuk menjadi mubalig.
Namun tak sampai lama organisasi dan madrasah ini ditutup karena tidak adanya dana. Demi kelanjutan organisasi dan madrasah itu Rasyid Ridha bahkan sampai meminta bantuan dari pemerintahan Utsmani, namun ia tidak mendapat jawaban. Bersamaan degan dimulainya perang dunia ke-2 madrasah ini ditutup untuk selamanya. Tekat dan harapan Rasyid Ridha pada madrasah itu adalah mengajarkan ilmu-ilmu keislaman seperti ushuluddin, fiqih, tahzib akhlak, tafsir, dan ilmu-ilmu lainnya seperti ilmu sosial, ekonomi, matematika, pengobatan, dan lain sebagainya. Ia berusaha mendirikan sistim pembelajaran yang moderen ini dengan harapan peningkatan tingkat keilmuan dan wawasan Muslimin muda untuk berkhidmat pada dunia Islam di kemudian harinya.
Rasyid Ridha juga memiliki ketertarikan kepada dunia tasawuf sejak menelaah kitab Ihya’u Ulumid Din karya Abu Muhammad Ghazali. Ia mempelajari tariqah Naqsyabandiyah dengan berguru pada orang-orang arif di tariqah itu. Ia juga melakukan pembenahan dengan meneliti tariqah-tariqah dunia tasawuf dan dalam usaha ini ia menulis kitabnya yang berjudul Risalatun fi Hajjatil Islam Al ghazali.
Terdapat banyak perbedaan pendapat mengenai bagaimana pemikiran Rasyid Ridha dalam dunia politik. Hamid Inayat berkeyakinan bahwa Rasyid Ridha adalah pengikut pemikiran Muhammad Abduh dan Sayid Jamal. Satu-satunya perbedaannya dengan yang lain adalah tekatnya yang mendalam untuk merubah sistim kekhilafahan Suni dan mengembalikannya menjadi sebagaimana yang ada di awal era risalah Islam. Rasyid Ridha memandang bahwa dalam Islam kekhilafahan merupakan manifestasi ikatan antara agama dengan negara dan seluruh misi-misi dunia Islam dapat terselesaikan degan perantara kekhilafahan tersebut. Ia juga berkeyakinan bahwa kekhilafahan adalah cara terbaik untuk mewujudkan mimpi para pemikir dan revolusioner untuk menciptakan persatuan antar umat Islam dan atas dasar ini ia mengkritik habis-habisan faham nasionalisme.
Rasyid Ridha mengemukakan pembahasan tentang pemerintahan Islami setelah membahas permasalahan-permasalahan kekhilafahan dan menyusun tiga langkah dalam pembahasan itu: pertama ia meneliti dan mengkaji prinsip-prinsip dasar kekhilafahan dalam Islam; kedua ia menunjukkan keretakan implementasi prinsip politik yang dijalankan pemerintahan suni yang tidak sesuai dengan prinsip sebenarnya; ketiga baru ia dengan pandangannya sendiri menawarkan sistim politik yang seharusnya. Rasyid Ridha menjelaskan pandangan-pandangannya tentang dunia politik dalam kitabnya yang berjudl Al Khilafah wa Al Imamah Al Kubra. Unsur-unsur pemikiran Rasyid Ridha dapat disimpulkan dalam tiga poin: pertama, ia menghidupkan kembali peninggalan-peninggalan pemikiran ulama dan para pemikir seperti Al Mawaradi, Ibnu Taymiyah dan Ibnu Al Qayyim; kedua, menolak faham-faham politik Islami yang tidak benar; ketiga, kesepakatan dengan faham-faham dan pemikiran para tokoh besar Muslim seperti Hasan Al Banna dan Ikhwan Al Muslimin. Menurutnya, kepemimpinan tidak akan absah kecuali dengan adanya permusyawaratan dan bai’at. Dalam mendefinisikan politik ia bersandar pada interaksi warisan-warisan politik Islam dan faham-faham baru politik dari Barat. Rasyid Ridha menyebut tauhid, keadilan, dan kebebasan sebagai sekumpulan falsafah pemerintahan Islami. Ia tidak menolak keberadaan seorang pemimpin diktator yang bertujuan untuk mengarahkan kaumnya menuju keadaan yang lebih baik di saat mereka lemah dan tidak memiliki kelayakan untuk melakukan pemilihan suara.
Hamid Inayat berkeyakinan bahwa Rasyid Ridha memiliki pendapat tersendiri mengenai kekhilafahan Khulafa Rasyidin dan aksi-aksi politik mereka. Menurutnya, pembahasan-pembahasan politik yang dikemukakan Rasyid Ridha sesuai dengan pemikiran orang-orang Syiah. Rasyid Ridha tidak setuju dengan cara khalifah Abu Bakar menjadi khalifah, begitu pula dengan wasiat Abu Bakar untuk menjadikan Umar sebagai khalifah yang telah dijadikan alasan Dinasti Umayah untuk legalitas pemerintahan mereka, dan juga kelemahan khalifah Utsman yang membiarkan orang-orang Bani Umayah menikmati harta Baitul Maal begitu saja. Menurut Rasyid Ridha, pada masa kekhilafahan Khulafa Rasyidin, pemerintahan Islam yang selayaknya memang berjalan meskipun tidak seberapa kadarnya. Namun setelah masa kekhilafahan mereka usai, kelayakan sistim pemerintahan tidak dapat dirasakan lagi. Dapat dikatakan bahwa pandangan-pandangannya ini menujukkan kesepakatannya dengan pemikiran orang-orang Syiah di hadapan prinsip kekhilafahan Suni.
Dalam pergulatannya di dunia politik, ia juga melontarkan kritikan-kritikannya terhadap pemerintahan Utsmani dan menuntut adanya perbaikan sistim pemerintahan ini. Saat itu ia memimpin Jam’iyah As Syura Al Utsmaniyah, sebuah organisasi perkumpulan yang didirikan oleh para korban pengasingan pemerintah Utsmaniyah di Mesir. Organisasi itu menjalankan bermacam-macam aktifitas, yang salah satunya adalah secara diam-diam menyebarkan surat-surat yang berisikan ajakan kepada Muslimin untuk bangkit dan bersatu ke seluruh pelosok negri kekuasaan Dinasti Utsmani. Semenjak kehancuran pemerintahan Utsmani dan kesepakatan Inggris dan Perancis untuk membagi-bagi dunia Arab, dalam majalah Al Manar Rasyid Ridha dengan getol mewanti-wanti usaha jahat para penjajah ini. Karena aktifitas-aktifitasnya ini Rasyid Ridha dinobatkan menjadi wakil pimpinan dalam konfrensi Geno, sebuah konfrensi yang diselanggarakan oleh tokoh-tokoh besar Arab guna membahas permasalahan-permasalahan dunia Arab. Pada tahun 1921 ia menjabat sebagai ketua konggres nasional Suriah di Damaskus dan pada tahun itu juga ia meraih jabatan haiat perwakilan Suriah dan Palestina untuk diutus ke PBB dengan misi pertentangan terhadap Inggris dan Perancis.
Salah satu aktifitas Rasyid Ridha yang paling menonjol adalah usahanya mewujukan persatuan umat Islam dan kebangkitan Muslimin di negara-negara Islam. Poros aktifitasnya di jalan ini berada pada tiga hal: pertama, artikel-artikelnya yang dimuat dalam majalah Al Manar dan pemberitaan tentang usaha persatuan umat Islam di seluruh dunia; kedua, pidato-pidato yang ia berikan di acara-acara tertentu atau di pusat-pusat pendidikan; ketiga, penulisan buku-buku seperti Al Wahdah Al Islamiyah. Dalam majalah Al Manar yang memiliki banyak penggemar di berbagai negara, Rasyid Ridha selalu menuangkan makalahnya yang berisi ajakan kepada umat Islam untuk menggalang persatuan. Ia mengajak ulama dan tokoh-tokoh besar Islam untuk bekerja sama di jalan ini. Dari arah yang berlawanan, para pembaca Al Manar juga menunjukkan reaksi positifnya dan mengirimkan pertanyaan-pertanyaan dan menjelaskan permasalahan-permasalahan yang mereka hadapi kepada redaksi majalah ini. Dengan demikian terwujudlah interaksi yang luas. Rasyid Ridha menuding zionisme dan penjajahan sebagai musuh besar umat Islam dan mengajak Muslimin untuk bahu membahu melawan mereka. Menurutnya satu-satunya jalan yang harus ditempuh untuk meraih kemenangan dan kebanggaan jatidiri adalah persatuan umat. Rasyid Ridha memberikan penekanan khusus akan adanya prinsip-prinsip agama yang sama di antara mazhab-mazhab Islam yang bersumber dari Al Qur’an dan sunah dan menjadikannya sebagai alasan persatuan. Namun tidak semua orang bersependapat dengannya, mereka adalah orang-orang Arab yang fanatik dengan nasionalitas yang secara keseluruhan dapat dikategorikan menjadi dua kelompok: pertama, para pemikir yang berbau budaya Barat yang sama sekali tidak setuju dengan konsep-konsep Islam, tidak hanya kekhilafahan saja, bahkan mereka tidak menerima warisan-warisan Islam; yang kedua, orang-orang Mesir yang fanatik terhadap tanah airnya, seperti Musthafa Kamil dan anggota partai Hizb Wathani yang menganggap pemikiran Rasyid Ridha hanya akan menjerumuskan bangsa Mesir ke dalam kegamangan serta angan-angan keagamaan yang tak mungkin tercapai dan terlupakannya permasalahan-permasalahan aktual yang ada saat itu.
Rasyid Ridha selalu aktif dalam dunia tulis menulis, pidato, dan pengarahan-pengarahan dalam rangka persatuan. Tak jarang ia mengirimkan surat kepada tokoh-tokoh Muslimin untuk mengajak mereka bersamanya di jalan ini. Selain ia begitu tegas menentang politik Barat di hadapan dunia Islam, ia juga menekankan pertahanan Muslimin di hadapan serangan dan penjajahan mereka, kususnya pertahanan Muslimin Libya di hadapan kesewena-wenaan Italia saat itu. Ia juga pernah mengirimkan surat-suratnya kepada Malik Husain dan Malik Abdul Aziz Ali Sa’ud tentang pandangannya mengenai sistim pemerintahan mereka.
Rasyid Ridha juga aktif dalam pembelaan hak-hak wanita dan banyak sekali usaha yang telah ia lakukan di jalan ini. Di antara karya-karya tulisnya seputar masalah hak-hak wanita adalah kitab Huquq Al Mar’ah fi Al Islam dan Musawatu Ar Rajul bi Al Mar’ah.
Selama 35 tahun ia aktif dalam kegiatannya. Namun, sebagaimana yang telah disebutkan sebelumnya, Rasyid Ridha kurang begitu menyukai mazhab Syiah. Tapi tokoh-tokoh besar seperti Sayid Muhsin Amin telah memberikan jawaban-jawaban kepadanya mengenai Syiah melalui makalah-makalahnya di majalah Al Irfan dan dua kitabnya yang berjudul Al Hushun Al Mani’ah dan Al Manar fi Haq As Syiah. Begitu pula tokoh-tokoh besar lainnya seperti Allamah Abdul Husain Amini dalam kitab berharganya Al Ghadir yang mengungkapkan kesalahan-kesalahan Rasyid Ridha dalam menilai Syiah. Muhammad Husain Kasyiful Ghitha, Abul Hasan Al Khunaizi dan Syarafuddin Amili Musawi juga termasuk di antara tokoh-tokoh yang bertentangan dengan Rasyid Ridha dalam masalah ini.
Sebagai penutup, bagaimanapun juga Rasyid Ridha diakui sebagai tokoh besar yang benar-benar bekerja keras dalam mewujudkan kebangkitan dan persatuan umat Islam di dunia.
taghrib.ir
Tulisan yang mungkin berkaitan:
















































