Mengapa Ali tidak membela istrinya?

by Hauzah Maya on December 8, 2011

Mengapa Ali tidak membela istrinya

Tanya: Jika Fathimah Az-Zahra memang dizalimi oleh para sahabat, lalu mengapa suaminya yang pemberani hanya diam dan tidak membelanya?

Jawab: Pertanyaan di atas seakan menjelaskan kenyataan yang pernah terjadi memang demikian. Padahal tidak ada bukti bahwa Ali bin Abi Thalib tidak membela istrinya.

Ali bin Abi Thalib sesuai dengan tuntutan syari’at telah menjaga kehormatan diri dan keluarganya. Penjagaan dan pembelaan saat itu tidak bisa kita anggap harus dengan bentuk pertumpahan darah dan pertikaian, karena tidak menjadi maslahat Islam. Jika Ali memberontak dan berhadapan dengan mereka, maka akan terbentuk dua kelompok di antara umat Islam: kelompok pendukung khalifah, dan kelompok pendukung Ali bin Abi Thalib yang tetap menjaga bai’at terhadapnya sejak peristiwa Ghadir Khum sebelum wafat Nabi. Perpecahan inilah yang tidak diinginkan oleh Ali bin Abi Thalib.

Banyak sekali kaum munafik di waktu itu yang berusaha memperkeruh keadaan. Misalnya Abu Sufyan, musuh bebuyutan Islam, saat itu mendatangi rumah Ali dan berkata kepadanya, “Wahai Ali, berikan tanganmu, aku ingin membai’atmu.”

Ali bin Abi Thalib tahu bahwa Abu Sufyan berlaga menjadi pendukungnya dan ingin membai’at hanya demi terciptanya perselisihan. Oleh karenanya Ali berkata padanya:

“Demi Tuhan engkau mengucapkan kata-katamu ini dengan niat busuk agar berkobar api fitnah di anatara umat Islam. Engkau selalu menginginkan keburukan untuk Islam dan Muslimin. Pergilah, aku tidak menginginkan semua ini darimu.”[1]

Kepada penanya saya ingin jelaskan, bahwa orang yang berani bukanlah orang yang selalu mencabut pedangnya di setiap keadaan tanpa terkecuali. Orang yang berani adalah orang yang menjalankan tugasnya. Betapa banyak orang yang mengaku pemberani namun mereka enggan dan takut untuk mendengar perkataan yang benar.

Pada suatu hari Rasulullah Saw melihat sekelompok orang berkumpul. Ternyata mereka terkagum-kagum akan seseorang. Beliau bertanya kepada mereka, “Siapakah orang itu?” Dijawab, “Ia adalah pendekar pemberani yang mampu mengangkat beban yang sangat berat.” Lalu beliau berkata, “Itu bukanlah orang yang berani; pemberani adalah orang yang mampu mengalahkan keinginan-keinginan nafsunya.”[2]

Sejarah membuktikan bahwa di masa itu Islam masih belum mengakar kuat di hati umatnya. Islam masih baru tumbuh lemah yang mungkin jika tertiup angin, meski angin itu lembut sekalipun, Islam akan tercabut dengan mudahnya dari hati mereka.

Rasulullah Saw berkata kepada ‘Aisyah: “Jika seandainya Quraisy bukanlah orang-orang yang baru masuk Islam, niscaya aku akan merombak Ka’bah. Lalu sebagai gantinya satu pintu, aku akan letakkan dua pintu untuknya.”[3]

Kita akui tidak ada orang yang lebih pemberani dari Nabi Muhammad Saw. Namun beliau tetap melihat kondisi yang sedemikian rupa dan mempertimbangkannya. Apakah benar jika ada sebagian orang-orang munafik yang enggan membayar zakat berkoar sedang umat Islam yang bersaudara saling bertikai?

Orang-orang munafik berharap Ali bin Abi Thalib yang telah menghunuskan pedangnya kepada kaum kafir di perang Badar dan Uhud melakukan hal yang sama terhadap umat Islam sendiri sepeninggal Nabi dengan pedang yang sama. Jika ada yang membenarkan hal tersebut, maka ia bukanlah orang yang memahami sejarah Islam, dan juga tidak mengenal siapakah Ali yang sebenarnya.



[1] Tarikh Thabari, jld. 2, hlm. 449.

[2] Bihar Al-Anwar, jld. 1, hlm. 77 dan 112.

[3] Musnad Ahmad, jld. 6, hlm. 176.

 

Oleh Muhammad Thabari, dalam bukunya yang berjudul “Jawaban Pemuda Syiah atas Pertanyaan-Pertanyaan Wahabi”

 

Sepertinya tak ada tulisan lain yang berkaitan dengan ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>