Berkabungnya Ahlul Bait untuk Al Husain

by Hauzah Maya on December 2, 2011

Tanya: Peringatan-peringatan syahadah Imam Husain as. seperti ini apakah juga pernah diadakan di zaman para Imam?

Jawab: Iya, pernah. Di sini kita akan menyebutkan beberapa contoh saja:

1. Bani Hasyim berkabung atas meninggalnya Imam Husain as. Diriwayatkan dari Imam Shadiq as. bahwa setelah kejadian Asyura, tidak ada satu perempuan Bani Hasyim pun yang memakai celak di matanya. Tidak terlihat asap mengepul di atas rumah-rumah mereka yang menandakan mereka memasak makanan. Suasana seperti ini terus berlangsung sampai kematian Ibnu Ziyad. Semenjak peristiwa Asyura kami selalu meneteskan air mata.[1]

2. Berkabungnya Imam Sajjad as. Disebutkan dalam riwayat bahwa Imam Sajjad as. sepanjang hidupnya selalu bersedih hingga ia tak pernah berhenti meneteskan air mata. Kesedihan beliau akibat mengingat tragedi yang menimpa ayahnya, saudara-saudaranya dan keluarganya. Setiap saat ia dibawakan air minum, ia meneteskan air mata dan berkata, “Bagaimana aku bisa meminum air sedangkan mereka membunuh cucu Rasulullah saw. dalam keadaan haus?”[2] Dan terkadang beliau juga berkata, “Setiap saat aku mengingat terbunuhnya anak-anak Fathimah, aku tidak bisa menahan tangis.”[3]

Imam Shadiq as. berkata kepada Zurarah, “Ketika kakekku Ali bin Husain as. mengingat ayahnya, ia selalu menangis sehingga air mata membasahi janggut beliau dan membuat orang-orang lain yang melihatnya terharu dan menangis.”[4]

3. Bersedihnya Imam Baqir as. Pada hari Asyura, Imam Baqir as. selalu mengadakan majelis peringatan musibah yang menimpa Imam Husain as.  Pada suatu hari di majlis tersebut sesorang membacakan sedikit syair untuknya. Ketka pembaca syair tersebut sampai pada kata-kata “…telah terbunuh Al Husain…”, Imam Baqir as. menangis dan berkata kepada pembaca syair itu, “Andai aku punya banyak harta untuk kuberikan padamu karena syair ini, pasti akan aku berikan. Tapi imbalan untukmu adalah doa yang pernah Rasulullah saw. panjatkan untuk Hasan bin Tsabit bahwa karena engkau membela Ahlul Bait as. maka senantiasa engkau akan berada di bawah perlindungan Ruhul Kudus.”[5]

4. Bersedihnya Imam Shadiq as. Imam Musa Kadzim as. berkata, “Ketika bulan Muharam tiba, aku tidak pernah melihat ayahku tertawa. Wajahnya selalu murung dan selalu menangis hingga hari kesepuluh. Pada hari kesepuluh, kesedihan beliau memuncak. Beliau tidak pernah berhenti menangis dan berkata, “Ini adalah hari syahidnya ayahku Al Husain as.”[6]

5. Berkabungnya Imam Musa Kazim as. Disebutkan bahwa Imam Ridha as. berkata, “Ketika bulan Muharam tiba, tidak ada orang yang melihat ayahku pernah tertawa dan keadaan ini terus berlangsung hingga hari Asyura. Di hari itu kesedihannya meluap-luap dan berkata, “Di hari inilah Al Husain as. dibunuh.”[7]

6. Bersedihnya Imam Ridha as. Imam Ridha as. begitu bersedih mengingat peristiwa Asyura sehingga beliau berkata, “Sungguh hari terbunhnya Al Husain as. telah membuat kelopak mata kami terluka dan mengucurkan air matanya.”[8]

Pada suatu hari Da’bal mendatangi Imam Ridha as. Beliau menuturkan beberapa patah kata mengenai ratapan atas musibah Imam Husain as. Beliau berkata, “Wahai Da’bal, orang yang menangisi kakekku Al Husain as. maka dosa-dosanya akan diampuni.” Lalu setelah itu beliau merentangkan tabir antara keluarga beliau dengan para hadirin untuk mengadakan majelis peringatan musibah Asyura.”

Kemudian beliau berkata lagi kepada Da’bal, “Bacakanlah syair untuk Imam Husain as. Selama kamu hidup, lakukanlah ini untuk kami dan jangan berhenti selama engkau mampu.”

Sambil meneteskan air mata, Da’bal membacakan syair-syairnya, “…Al Husain as. terbunuh kehausan di tepi sungai Furat…” Lalu Imam Ridha as. dan keluarganya menangis haru.[9]

7. Bersedihnya Imam Mahdi aj. Menurut banyak riwayat, Imam Mahdi aj. terus menangis meratapi peritiwa yang menimpa ayah beliau baik di saat beliau ghaibah atau setelah kemunculannya nanti. Beliau akan berkata kepada kakeknya Imam Husain as., “Jika zaman telah memisahkanku jauh darimu, sehingga aku tidak ada waktu itu sehingga mampu menolongmu, tapi kini aku meratapimu pagi dan petang hari dan sebagai ganti air mata darah mengalir dari mata kami. Betapa hati ini penuh luka karena musibah yang menimpamu.”[10]

Kepergianmu membuatku menangis dengan luka di hati ini. Aku menangis atas musibah yang menimpamu dan jika air mata ini kering, biarlah darah yang menjadi air mataku.[11]


[1] Emam Hasan va Emam Husain, halaman 145.

[2] Biharul Anwar, jilid 44, halaman 145.

[3] Khishal, jilid 1, halaman 131.

[4] Biharul Anwar, jilid 45, halaman 207.

[5] Mishbahul Mutahajid, halaman 713.

[6] Imam Hasan wa Imam Husain as., halaman 143.

[7] Husain, Nafs e Motmaene, halaman 56.

[8] Biharul Anwar, jilid 44, halaman 284.

[9] Ibid, jilid 45, halaman 257.

[10] Biharul Anawar, jilid 101, halaman 320.

[11] Mustafa Arang, menukil dari Ashk e Hoseini, Sarmaye e Syi’e, halaman 66.

 

Dari buku Tanya Jawab Pilihan (Edisi Muharram)

 

Tulisan yang mungkin berkaitan:

  1. Meminta air
  2. Sahabat Imam Husain yang tetap hidup pasca Asyura
  3. Sahabat yang meninggalkan Imam Husain
  4. Imam Husain meninggalkan ibadah hajinya?
  5. Tujuan Imam Husain berhijrah dari Madinah ke Makkah
  6. Tentang di manakah makam kepala Imam Husain
  7. Kufah yang dipilih Imam Husain
  8. Pengetahuan Imam Husain akan kesyahidannya
  9. Imam Husain tidak melawan Muawiyah?
  10. Taubat Yazid

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>